Kamis, 15 JANUARI 2026 • 13:00 WIB

Kenapa Berutang Bisa Jadi Kebiasaan? Ini Cara Menghentikannya

Author

Ilustrasi cara mengelola keuangan

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu merasa berutang itu seperti sudah jadi bagian hidup, bukan sekadar solusi sekali dua kali? Utang buat bayar tagihan, utang buat beli barang favorit, utang buat nutup kebutuhan mendadak. Eh, ujung-ujungnya malah makin numpuk dan terus jadi kebiasaan.

Ternyata, menurut penelitian psikologi perilaku dan finansial, utang bukan sekadar soal uang, tapi juga soal kebiasaan, emosi, dan cara otak kita bekerja ketika berhubungan dengan uang. Kalau kamu pernah ngerasain utang kayak nggak bisa lepas dari kehidupan, kamu nggak sendirian. Banyak orang mengalami hal yang sama secara global, berikut penjelasan kenapa hal itu bisa terjadi plus gimana cara menghentikannya menurut para ahli keuangan internasional.

Kenapa Berutang Bisa Jadi Kebiasaan?

Pada dasarnya, kepemilikan utang yang terus-menerus bisa berubah jadi pola perilaku yang sulit diubah, mirip seperti kebiasaan lain yang sudah “nancep” di otak kita. Ada banyak faktor yang bikin seseorang terus berutang, bahkan ketika sadar itu nggak sehat.

1. Akses Mudah ke Kredit dan Pinjaman Digital

Di zaman digital sekarang, utang jadi gampang banget. Tinggal klik, uang langsung cair. Mulai dari pinjaman online, paylater, sampai kartu kredit, semuanya bikin akses buat berutang terasa sangat mudah.

Menurut penelitian tentang propensity to indebtedness (kecenderungan berutang), faktor perilaku dan psikologi, termasuk kebiasaan dan bias finansial, bikin orang lebih gampang tergoda ambil kredit, apalagi di lingkungan fintech modern seperti pinjaman digital. Kalau aksesnya gampang, godaannya jelas juga gampang, dan itu bikin kita kadang terus kepikiran buat berutang lagi.

2. Utang Memberi Kepuasan Instan

Bayangin deh, kamu lihat barang keren, langsung klik “bayar dengan paylater” atau “kartu kredit”. Rasanya langsung puas dan lega karena kamu dapat barang itu sekarang. Ini mirip dengan konsep instant gratification, artinya kita lebih suka nikmat dulu daripada mikir panjang soal konsekuensinya.

Masalahnya, kepuasan instan itu sementara. Begitu tagihannya datang, baru deh kamu ngerasain tekanan utang yang makin berat.

3. Kebiasaan Finansial yang Belum Sehat

Sikap dan kebiasaan keuangan dibentuk sejak kecil dan makin kuat seiring waktu, misalnya nggak punya anggaran yang jelas, nggak bikin dana darurat, atau pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Kebiasaan seperti ini bikin kamu tanpa sadar jadi bergantung pada utang sebagai “pelampiasan” ketika uang habis.

Selain itu, sifat impulsif dan kebiasaan konsumtif juga bikin orang lebih gampang berutang, apalagi kalau di lingkungan sekitar utang dianggap hal yang normal atau malah kelihatan “keren”.

4. Bias Psikologis dan Perilaku

Banyak keputusan finansial dilakukan tanpa sadar oleh otak kita. Misalnya, ada konsep psikologi yang disebut mental accounting yang bikin kita merasa “uang utangan” bukan uang riil, sehingga lebih gampang dipakai buat belanja atau gaya hidup yang akhirnya bikin utang makin nambah.

Ini juga berkaitan dengan perilaku konsumtif yang didorong media sosial dan tekanan sosial buat punya gaya hidup tertentu. Ketika kamu merasa ketinggalan zaman atau pengin pamer, utang terasa seperti jalan pintas buat dapetin itu semua.

Baca juga: Terjebak Utang Gali Lubang Tutup Lubang? Ini Cara Keluar Menurut Pakar Keuangan

Kalau Sudah Jadi Kebiasaan, Kenapa Susah Dihentikan?

Siklus utang berpotensi jadi loop yang susah diputus karena beberapa alasan:

  • Fitur utang gampang diakses: kartu kredit, paylater, dan pinjol dirancang supaya kamu makin mudah berutang.
  • Kepuasan instan: mendapatkan barang sekarang bikin otak memberi “reward” dan lupa soal bayar utang nanti.
  • Tidak ada rencana keuangan: tanpa anggaran atau dana darurat, utang sering jadi jalan keluar pertama.
  • Bias dan emosi finansial: stres, kecemasan, atau tekanan sosial bisa bikin hidup kamu “melar” ke utang yang nggak terkendali.

Cara Menghentikan Kebiasaan Berutang Menurut Pakar Keuangan

Cara mengatur keuangan 3 jt (Freepik)

Untungnya, kebiasaan, termasuk kebiasaan berutang, bisa diubah dengan strategi yang tepat. Berikut langkah-langkah yang banyak direkomendasikan oleh ahli keuangan dan perilaku konsumen.

1. Buat Anggaran Keuangan yang Jelas

Ini hal dasar yang sering direkomendasikan pakar. Catat semua pemasukan dan pengeluaran kamu. Dengan anggaran yang jelas, kamu bisa lihat ke mana saja uang pergi dan mulai memprioritaskan pembayaran utang dibanding kebutuhan lain.

Anggaran bukan cuma buat tahu berapa uang yang kamu punya, tapi juga buat tahu kapan utang harus dibayar dan kapan utang sebaiknya dihindari.

2. Sisihkan Dana Darurat

Salah satu alasan orang sering berutang adalah karena nggak punya dana darurat. Penelitian personal financemenunjukkan bahwa tabungan darurat bisa bantu kamu nggak perlu terpaksa berutang saat situasi mendadak.

Idealnya, kamu punya dana darurat setidaknya untuk 3–6 bulan kebutuhan hidup.

3. Perbaiki Kebiasaan Belanja

Mengubah perilaku konsumtif itu penting. Pakar finansial menyarankan untuk berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu, terutama kalau pakai kredit.

Tipsnya:

  • Tunda pembelian besar
  • Biasakan hidup sesuai uang tunai
  • Bedakan kebutuhan dan keinginan

4. Edukasi Diri Tentang Uang

Semakin banyak kamu tahu cara kerja utang dan keuangan, semakin mudah kamu menghindari kebiasaan utang yang buruk. Literasi finansial disebut sebagai kunci utama untuk mengelola utang dengan sehat.

Baca juga: Mindset Baru Soal Pay Later Menurut CEO Big Alpha: Itu Alat Bayar, Bukan Alat Hutang!

5. Gunakan Strategi Pengurangan Utang

Kalau kamu sudah terlanjur punya banyak utang, pakar keuangan sering menyarankan metode seperti debt snowball atau debt consolidation agar pelunasan lebih terstruktur.

Kunci Utama: Konsistensi dan Kontrol Diri

Menghentikan kebiasaan berutang memang butuh waktu, tapi bukan hal yang mustahil. Kamu perlu konsisten dalam:

  • Mengatur anggaran
  • Menabung sebelum membeli
  • Memilih bayar tunai daripada berutang
  • Meningkatkan literasi finansial

Pada akhirnya, utang bukan musuh utama. Cara kamu mengelola dan menggunakannya yang menentukan apakah utang jadi kebiasaan buruk atau alat finansial yang sehat.

Berutang bisa jadi kebiasaan karena akses kredit yang mudah, kepuasan instan, kurangnya literasi finansial, serta bias psikologis dan pengaruh media sosial. Namun, dengan strategi yang tepat, kamu bisa keluar dari lingkaran utang dan membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Centralbank.net, Consumerfinance.gov

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU