Rabu, 08 APRIL 2026 • 10:00 WIB

BPDP Dukung Riset Sawit untuk Tingkatkan Nilai Tambah dan Inovasi

Author

Ilustrasi kelapa sawit. (Istimewa)

INDOZONE.ID - Guna memperkuat kedaulatan industri kelapa sawit nasional, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) secara konsisten memposisikan diri sebagai katalisator utama dalam pendanaan riset

Fokus lembaga ini tidak hanya pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada pengembangan inovasi teknologi yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, menuturkan komitmen BPDP dalam mendukung kegiatan riset di sektor kelapa sawit terlihat secara nyata. 

Baca juga: Dari Kebun hingga Hilir, SDM Jadi Kunci Transformasi Industri Sawit

Hingga tahun 2025 BPDP tercatat telah mendukung pendanaan terhadap sekitar 400 judul penelitian yang mencakup berbagai aspek mulai dari hulu hingga hilir industri kelapa sawit.

Pendanaan riset dari BPDP telah menyasar berbagai topik krusial, termasuk pengembangan produk turunan sawit dan biomassa yang berorientasi pada nilai ekonomi tinggi. 

Inisiatif ini juga menyentuh aspek fundamental seperti kelestarian lingkungan dan validasi melalui kajian sertifikasi. 

Langkah tersebut diambil demi menjamin operasional sawit yang ramah lingkungan serta mendukung terciptanya ekosistem ekonomi sirkular yang tangguh.

"Riset yang dibiayai BPDP mulai dari hulu hingga hilir sektor kelapa sawit. Dari sudut ini, komitmen BPDP dalam mendukung riset-riset sawit sangat jelas terlihat," katanya di Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Tungkot Sipayung berharap BPDP dapat terus mengoptimalkan dukungan terhadap kegiatan riset termasuk melalui pelaksanaan evaluasi komprehensif secara berkala guna memperoleh masukan strategis dalam meningkatkan efektivitas peran lembaga tersebut di bidang riset.

Terdapat kebutuhan mendesak untuk meninjau kembali efektivitas riset sawit agar tidak sekadar berakhir di ranah publikasi ilmiah. 

Fokus evaluasi diarahkan pada bagaimana mentransformasikan hasil penelitian tersebut menjadi solusi nyata yang dapat diimplementasikan dalam operasional bisnis kelapa sawit.

"Yang diperlukan industri sawit adalah inovasi bisnis. Agak ironi memang, riset-riset sawit semakin banyak tetapi produktivitas sawit stagnan bahkan menurun," ujarnya.

Penulis buku Mitos dan Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia ini mencontohkan, terdapat banyak penelitian terkait penyakit ganoderma yang menyerang tanaman kelapa sawit. Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat kebijakan nasional yang solutif dalam penanggulangan penyakit tersebut di Tanah Air.

"Inilah tantangan ke depan yang harus dilakukan bagaimana mempercepat implementasi hasil riset (invensi) menjadi inovasi bisnis dan kebijakan," tegasnya.

Tungkot meyakini bahwa perlu ada perubahan paradigma riset untuk industri sawit ke depan dari berdasarkan supply-driven menjadi ke market-driven. 

Ia menegaskan, para pelaku industri sangat berharap riset sawit menghasilkan inovasi yang dapat memecahkan masalah riil di lapangan.

Baca juga: Industri Kelapa Sawit Dorong Kesetaraan Gender, Peran Perempuan Kian Strategis

"Secanggih apapun riset jika tidak bisa menghasilkan solusi bagi masalah riil yang dihadapi industri sawit, tidak banyak gunanya," katanya.

Ia menambahkan, riset di sektor kelapa sawit perlu memberikan perhatian lebih terhadap isu kampanye negatif di tingkat global. 

Selain itu, lebih lanjut, ia mengatakan bahwa tantangan persepsi publik terhadap industri sawit masih belum diimbangi dengan dukungan riset yang memadai.

"Kalau persepsi masyarakat tentang sawit semakin jelek dan dibiarkan berlarut-larut maka secara perlahan akan menghancurkan masa depan sawit. Era informasi saat ini jangan anggap enteng tentang persepsi," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU