Minggu, 14 DESEMBER 2025 • 20:40 WIB

Survei: Keberlanjutan Kian Dipandang sebagai Penggerak Daya Saing Perusahaan Indonesia

Author

Ilustrasi keberlanjutan sebagai penggerak daya saing perusahaan Indonesia. (Freepik)

INDOZONE.ID - Para pemimpin perusahaan di Indonesia semakin memandang keberlanjutan sebagai penggerak pertumbuhan dan peningkatan daya saing. Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik masih menjadi tantangan utama dalam mendorong investasi keberlanjutan.

Temuan ini mengemuka dari hasil survei tahunan Schneider Electric, bertajuk 'Green Impact Gap'.

Survei mencatat bahwa tahun 2025 menjadi periode dengan dinamika perubahan yang tinggi. Sebanyak 32 persen CEO di Indonesia menyatakan perusahaan mereka menerapkan agenda keberlanjutan untuk memperkuat ketahanan terhadap disrupsi, meningkat dari 23 persen pada 2023. 

Selain itu, 43 persen CEO menilai keberlanjutan berkontribusi pada peningkatan citra dan reputasi perusahaan, naik dari 25 persen, sementara 49 persen memprioritaskan keberlanjutan untuk mendorong efisiensi biaya, meningkat dari 37 persen pada 2023.

Sebanyak 51 persen CEO juga menilai keberlanjutan membuka peluang bisnis, konsisten dengan hasil survei 2023. Temuan ini menunjukkan pergeseran pandangan bahwa keberlanjutan tidak lagi sekadar agenda pelengkap, melainkan bagian inti dari strategi bisnis untuk menghadapi dinamika pasar.

Meski demikian, ketidakpastian ekonomi, regulasi, dan kebijakan masih menjadi hambatan utama investasi keberlanjutan. Namun, sejumlah faktor penghambat menunjukkan tren penurunan sejak 2023, seperti minimnya insentif yang turun menjadi 33 persen, kurangnya data pasar menjadi 21 persen, serta hambatan birokrasi yang turun signifikan menjadi 36 persen. Penurunan ini menandakan iklim investasi keberlanjutan di Indonesia semakin kondusif.

AI Dorong Efisiensi Biaya dan Energi

Teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (AI), semakin dimanfaatkan perusahaan di Indonesia untuk mengelola risiko finansial dan konsumsi energi. Hampir separuh perusahaan telah menggunakan solusi berbasis AI untuk mencapai target keberlanjutan. 

Baca juga: Membangun Masa Depan yang Lebih Baik: Inisiatif Keberlanjutan di Desa Buntu

Sebanyak 37 persen perusahaan memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan proses dan penggunaan sumber daya, menjadikannya teknologi digital yang paling banyak diterapkan untuk keberlanjutan.

Manfaat utama AI dirasakan pada otomatisasi pengumpulan dan pelaporan data (49 persen), optimasi konsumsi energi (43 persen), serta dukungan desain dan pengembangan produk (47 persen). 

Pemanfaatan AI dalam optimasi energi dinilai relevan karena hampir 45 persen perusahaan masih menghadapi risiko fluktuasi harga energi, tren yang konsisten sejak 2023.

Pusat Data Jadi Motor Inovasi Berkelanjutan

Dari seluruh sektor, industri pusat data menjadi yang paling banyak menyebut inovasi dan daya saing sebagai pendorong utama agenda keberlanjutan. Sebanyak 51 persen responden dari sektor ini menyatakan hal tersebut, meningkat dari 48 persen tahun sebelumnya. 

Selain itu, 65 persen menilai investasi pada inovasi dan teknologi menjadi kebutuhan mendesak untuk menjawab lonjakan permintaan daya komputasi sekaligus menjaga efisiensi dan emisi rendah.

Sebanyak 37 persen pemimpin bisnis di Indonesia telah menerapkan kebijakan green IT untuk menekan jejak karbon dari proses komputasi dan penyimpanan data. 

Pada saat yang sama, hambatan dekarbonisasi menunjukkan penurunan, termasuk minimnya alternatif energi bersih (26 persen), keterbatasan sumber daya pendukung (21 persen), imaturitas teknologi energi bersih (33 persen), dan hambatan regulasi (31 persen).

Investasi Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian

Survei juga mencatat bahwa rencana investasi keberlanjutan perusahaan Indonesia tetap stabil. Sebanyak 40 persen perusahaan berencana mengalokasikan sedikitnya US$1 juta untuk inisiatif keberlanjutan dalam dua tahun ke depan. 

Namun, ketidakpastian ekonomi (49 persen), kebijakan dan regulasi (43 persen), serta geopolitik (39 persen) masih menjadi pertimbangan utama.

“Perusahaan di Indonesia menjadikan keberlanjutan sebagai langkah strategis untuk terus bertumbuh di tengah situasi bisnis yang penuh dinamika,” kata Martin Setiawan, President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste. 

Baca juga: Menkeu Sri Mulyani Sebut Penyesuaian Tarif BPJS Kesehatan untuk Jaga Keberlanjutan Program

Menurutnya, digitalisasi dan AI dimanfaatkan lebih awal untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko, dan menciptakan nilai jangka panjang.

Kesenjangan antara Ambisi dan Implementasi

Meski komitmen keberlanjutan menguat, survei ini juga menyoroti adanya Green Impact Gap, yakni kesenjangan antara target dan aksi nyata. Tahun ini, 97 persen perusahaan di Indonesia memiliki target keberlanjutan, namun kurang dari separuh yang telah mengambil langkah komprehensif. Kesenjangan ini relatif stabil di kisaran 48 persen sejak 2023.

Tahun 2025 dipandang sebagai titik penting menuju target iklim 2030. Sebanyak 89 persen perusahaan menyatakan yakin dapat mencapai atau melampaui target tersebut, dengan 23 persen mengaku sudah berada tiga tahun lebih cepat dari jadwal. Perusahaan yang targetnya telah diverifikasi pihak ketiga menunjukkan tingkat keyakinan lebih tinggi.

Sebaliknya, perusahaan yang memiliki komitmen umum namun tidak melaporkan progres secara terbuka tercatat paling berisiko tidak mencapai target 2030, yakni 15 persen. Temuan ini menegaskan pentingnya akuntabilitas publik dan verifikasi independen dalam pelaporan keberlanjutan.

Survei Schneider Electric Green Impact Gap tahun ketiga ini melibatkan 4.500 pemimpin bisnis di sembilan negara Asia, termasuk Indonesia. 

Survei dilakukan bersama Milieu Insight dengan responden eksekutif tingkat menengah hingga senior di sektor swasta, yang menjawab 30 pertanyaan terkait prioritas keberlanjutan dan dampaknya terhadap bisnis.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Release

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU