INDOZONE.ID - Muhammad Makky, selaku ekonom dari Universitas Andalas, menilai harga beras pada Agustus 2025 hampir tidak berdampak pada inflasi, berkat tren penurunan harga beras medium dan upaya stabilisasi pemerintah melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog.
"Penurunan andil beras terhadap inflasi tidak terlepas dari tren harga beras medium di zona 1 (Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB dan Sulawesi)," kata Makky dalam keterangan di Jakarta, dikutip dari ANTARA, Selasa.
Menurut data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga beras medium turun dari Rp13.900 per kg pada 1 Agustus 2025 menjadi Rp13.672 per kg pada 29 Agustus 2025, atau mengalami penurunan sekitar Rp228 per kg selama bulan Agustus.
Baca juga: Pemerintah Naikkan Harga Eceran Tertinggi Beras Medium, Ini Rinciannya
“Turunnya harga beras medium sejak awal Agustus membuat kontribusinya terhadap inflasi praktis hilang. Penurunan ini sangat membantu rumah tangga menengah ke bawah yang sebagian besar pengeluarannya terserap untuk beras,” ujar Makky.
Makky mengatakan bahwa tren penurunan harga beras ini merupakan hasil dari intervensi pemerintah melalui Program SPHP, Gerakan Pangan Murah, dan distribusi beras Bulog yang lebih merata ke pasar tradisional dan ritel modern, serta didukung oleh penyerapan gabah petani yang tinggi dan ketersediaan stok nasional yang memadai.
Hingga 24 Agustus 2025, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog tercatat mencapai 3,91 juta ton, sementara total stok (termasuk stok komersial) mencapai 3,92 juta ton.
Pemerintah juga telah menyiapkan 1,3 juta ton beras SPHP hingga akhir 2025 untuk terus disalurkan ke pasar sebagai upaya utama mengendalikan harga dan menjaga keterjangkauan pangan masyarakat.
Di sisi produksi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat hingga Oktober 2025, produksi beras nasional diperkirakan mencapai 31,04 juta ton lebih tinggi dibanding capaian sepanjang 2024 sebesar 30,34 juta ton.
Kenaikan produksi itu didorong luas panen yang meningkat menjadi 10,22 juta hektare, atau naik 11,90 persen dari tahun sebelumnya.
Data tersebut memastikan bahwa pasokan beras nasional cukup aman untuk memenuhi kebutuhan domestik, sehingga Makky menekankan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir dengan isu kelangkaan beras yang sering beredar.
"Produksi dan stok beras kita mencukupi. Yang justru harus diwaspadai adalah praktik penimbunan beras yang merugikan petani dan konsumen. Karena itu, aparat penegak hukum perlu turun tangan mencari dan menindak para penimbun,” tegasnya.
Pemerintah optimistis bahwa kondisi pangan nasional akan tetap terkendali berkat harga beras yang stabil, stok besar di gudang Bulog, tambahan beras SPHP hingga akhir tahun, dan proyeksi produksi yang kuat.
Makky menambahkan bahwa kebijakan intervensi yang konsisten dan penegakan hukum terhadap penimbun menjadi kunci untuk menjaga ketenangan masyarakat dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Baca juga: Harga Beras Stabil, Bapanas Klaim Intervensi Pemerintah Berhasil
Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Agustus 2025 hanya sebesar 0,02 persen (mtm), dengan inflasi tahun kalender 1,60 persen (ytd) dan inflasi tahunan 2,31 persen (yoy).
Beras hanya berkontribusi sekitar 0,03 poin persentase dalam komposisi andil komoditas, yang jauh lebih rendah dibandingkan bulan Juli 2025 yang mencapai 0,10 poin persentase.
Data BPS mencatat inflasi beras secara bulanan juga menurun signifikan, dari 1,35 persen pada Juli menjadi 0,73 persen pada Agustus 2025. Dengan angka ini kontribusi beras terhadap inflasi Agustus nyaris tidak signifikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA