Kamis, 25 JUNI 2026 • 19:40 WIB

Kantong Bolong Demi Kopi? Ini Alasan Harga Minuman di Bandara Mahal Banget

Author

Coffee Shop di Bandara (nibble.id)

INDOZONE.ID - Menikmati secangkir kopi hangat saat menunggu jadwal penerbangan di terminal bandara telah menjadi bagian dari ritual wajib bagi sebagian besar pelancong modern.

Namun, tidak jarang kamu akan dibuat terkejut saat melihat struk pembayaran karena nominal yang tertera jauh lebih tinggi dibandingkan kedai biasa di pusat kota.

Fenomena lonjakan harga minuman berkafein di kawasan penerbangan ini sebenarnya merupakan sebuah hal yang lumrah dan terjadi di hampir seluruh belahan dunia.

Kenaikan harga yang cukup signifikan ini tentu tidak terjadi tanpa alasan, melainkan hasil dari kalkulasi matang para pelaku usaha kedai kopi.

Baca juga: Kenapa Emas ANTAM Lebih Mahal dari Harga Global? Simak Rahasia di Balik Kemasannya

Di balik seteguk kopi premium yang kamu nikmati, terdapat rantai pembiayaan khusus dan strategi bisnis unik yang harus ditanggung oleh pihak pengelola outlet.

Biar kamu tidak lagi penasaran mengenai alasan di balik mahalnya harga segelas kopi di area terminal, mari kita bedah berbagai faktor utama yang memengaruhinya.

Tingginya Nilai Sewa Ruang Komersial

Faktor paling utama yang memaksa pengusaha menaikkan harga jual produk adalah beban biaya sewa tempat usaha yang sangat fantastis di area bandara.

Kawasan terminal merupakan lokasi yang sangat strategis karena memiliki lalu lintas pengunjung yang padat, eksklusif, dan memiliki gengsi yang tinggi bagi sebuah merek.

Baca juga: Apa Saja Pertanyaan dalam Sensus Ekonomi 2026 untuk Pelaku Usaha? Simak Daftarnya

Untuk bisa mendirikan outlet kecil di bandara internasional seperti Soekarno-Hatta, para pemilik modal bahkan harus rela menggelontorkan dana hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Kompleksitas Prosedur Keamanan dan Logistik

Aspek berikutnya yang ikut mendongkrak biaya produksi adalah rumitnya sistem operasional dan distribusi barang yang diterapkan di zona penerbangan.

Setiap bahan baku kopi dan peralatan pendukung yang masuk wajib melewati proses pemeriksaan keamanan yang sangat ketat dan memakan waktu ekstra.

Selain itu, para karyawan juga diwajibkan memiliki kartu identitas khusus serta lolos pemindaian harian, yang mana seluruh kerumitan ini berdampak langsung pada membengkaknya pengeluaran operasional.

Baca juga: Fiskal Daerah Belum Merata, Ini Catatan Penting Taufan Pawe di RAPBN 2027

Pemanfaatan Konsep Pasar Terjebak

Kondisi psikologis penumpang pesawat yang berada dalam ruang tunggu terbatas dimanfaatkan secara jeli melalui model bisnis yang disebut captive market.

Ketika berada di dalam terminal dengan waktu yang sempit, kamu cenderung tidak memiliki banyak alternatif pilihan untuk mencari takaran kopi yang lebih murah.

Situasi yang mendesak ini membuat kamu lebih mudah memaklumi harga yang tinggi karena mengedepankan efisiensi waktu sebelum terbang.

Penerapan Sistem Bagi Hasil Penjualan

Beban pengeluaran para penyewa lapak semakin bertambah karena adanya kewajiban komersial berupa sistem revenue sharing dengan pihak otoritas bandara.

Kedai kopi biasanya diharuskan menyetor sekian persen dari total omzet harian mereka, yang terkadang bisa mencapai angka dua puluh persen sebagai bentuk royalti.

Guna mengamankan margin keuntungan agar bisnis tetap berjalan sehat, skema kenaikan harga produk menjadi satu-satunya jalan keluar yang rasional.

Pemeliharaan Reputasi Berstandar Internasional

Mayoritas jaringan kedai kopi yang mampu membuka cabang di area bandara merupakan merek-merek waralaba besar yang memiliki reputasi global.

Mereka dituntut untuk selalu menggunakan bahan baku kualitas premium, layanan prima, hingga desain arsitektur gerai yang mewah demi memenuhi standar yang ditetapkan perusahaan induk.

Seluruh investasi dalam menjaga kualitas pelayanan dan kedisiplinan pelatihan staf ini pada akhirnya dibebankan ke dalam harga akhir secangkir kopi yang kamu beli.

Rendahnya Sensitivitas Harga Penumpang

Kecenderungan perilaku konsumen di area terminal terbukti jauh lebih royal dan kurang sensitif terhadap harga jika dibandingkan saat mereka berada di luar.

Ketika kamu sedang dalam mode perjalanan liburan atau dinas bisnis, suasana psikologis ruang transisi bandara sering kali memicu keputusan belanja yang lebih impulsif.

Penggunaan alat pembayaran nontunai seperti kartu kredit dan dompet digital juga semakin mengaburkan kontrol pengeluaran kamu untuk hal-hal yang sifatnya konsumtif.

Melihat keenam faktor struktural di atas, kini kamu bisa memahami bahwa secangkir kopi di terminal bukan sekadar tentang bubuk hitam dan air panas.

Harga premium yang kamu bayar sudah mencakup biaya kenyamanan, keamanan super ketat, serta kemudahan akses yang disediakan tepat di depan gerbang keberangkatanmu.

Oleh karena itu, wajar saja jika harga segelas kopi di luar terminal yang biasanya murah bisa melonjak hingga berkali-kali lipat di dalam.

Bagi kamu yang memiliki anggaran terbatas saat bepergian, menyiasati pengeluaran konsumsi di bandara sebenarnya bukanlah perkara yang sulit.

Kamu bisa memilih untuk membawa botol minum sendiri dari rumah atau mencari opsi gerai makanan lokal yang biasanya menawarkan harga yang sedikit lebih ramah di kantong.

Langkah antisipasi kecil ini akan menjaga stabilitas kondisi keuangan kamu selama masa perjalanan menuju destinasi impian.

Para pengamat ekonomi konsumen juga sering menambahkan bahwa ekosistem bisnis bandara memang dirancang untuk menyaring target pasar yang spesifik.

Setiap bisnis memiliki struktur biaya masing-masing yang harus disesuaikan dengan lingkungan tempat mereka beroperasi agar tidak gulung tikar.

Menjadi konsumen yang bijak berarti tahu kapan harus berhemat dan kapan harus menikmati fasilitas premium yang ada.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Www.nonaeroinstitute.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU