Minggu, 14 JUNI 2026 • 14:00 WIB

Veronica Tan Soroti Aktivitas Perempuan Wae Rebo dalam Menjaga Alam dan Wastra untuk Tingkatkan Ekonomi

Author

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan. (Dewi Kania/Z Creators)

INDOZONE.ID - Wae Rebo menjadi salah satu destinasi wisata populer di Nusa Tenggara Timur (NTT). Bukan hanya mengandalkan pemasukan dari sektor pariwisata, para perempuan di desa ini juga diberdayakan untuk membuat kain tenun sekaligus menjaga warisan budaya wastra Nusantara dan alam hingga kini.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan mengatakan, NTT punya potensi besar untuk pengembangan ekonomi restoratif dan berkelanjutan. Namun, wilayah ini masih menghadapi berbagai tantangan sosial-ekonomi yang sangat tinggi.

“Berbagai persoalan perempuan dan anak di NTT, mulai dari kekerasan, pekerja anak, perkawinan anak hingga stunting, saling berkaitan dan berakar pada persoalan ekonomi. Masalah ini tidak bisa diselesaikan secara terpisah,” kata Veronica saat Press Conference "Weaving Wonders, Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur" di Tugu Kunstkring Jakarta, Sabtu 13 Juni 2026.

Baca juga: Industri Kreatif itu Mesin Ekonomi Masa Kini: Dari Ide Sederhana Bisa Jadi Peluang Besar

Data BPS Februari 2026 mencatat tingkat kemiskinan di NTT mencapai 17,5 persen, sementara prevalensi stunting masih berada di angka 31,4 persen, jauh di atas rata-rata nasional. Selain itu, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak serta perdagangan orang masih menjadi persoalan serius. 

Namun belakangan ini, para perempuan NTT menjadi penggerak ekonomi restoratif melalui berbagai program. Selain membuat kain tenun, mereka terlibat dalam agroforestri bambu (Mama Bambu) dan Kebun Pangan Perempuan (KPP). 

Pameran Weaving Wonders, Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur di Tugu Kunstkring Jakarta. (Dewi Kania/Z Creators)

Veronica sangat senang melihat perubahan positif ini dan selalu menyemangati mereka untuk terus berdaya. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar berkebun biasa, tapi menjadi strategi penguatan perempuan dan keluarga dari desa.

“Ketika perempuan berdaya, ekonomi lokal tumbuh, pendapatan asli daerah meningkat, dan kesejahteraan masyarakat ikut terangkat,” jelas Veronica,” kata Veronica.

Dalam press conference, turut hadir Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar. Ia menilai bahwa ekonomi kreatif menjadi sebuah yang relate dengan Unique Selling Point (USP) budaya Indonesia.

“Dari lapisan budaya itu maka bisa dilahirkan berbeda-beda. Contoh tenun, makanan, mini arsitektur yang semuanya menjadi local wisdom dan jangan sampai benar-benar punah,” kata Irene. 

Irene juga mengajak generasi muda untuk menjaga kelestarian budaya Indonesia. Ia ingin budaya ini gak hanya dikenal di luar negeri, tapi di Indonesia juga harus relevan. 

“Caranya dengan generasi muda dan anak-anak mengenal budaya kita gak hanya dilestarikan tapi juga dicintai,” bebernya. 

Baca juga: Kemnaker dan Kemenekraf Satukan Langkah, Siapkan Lebih Banyak Lapangan Kerja di Sektor Ekonomi Kreatif

Sementara itu, Inisiator Weaving Wonder Yori Antar, yang sudah lama terlibat membangun Desa Wae Rebo, turut mendukung keterlibatan perempuan NTT untuk menjadi penggerak ekonomi. Ia juga membuka peluang kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, investor, hingga lembaga donor.

“Sudah sepatutnya kita mengeksplorasi kebijakan dan mendorong peran perempuan dalam pembangunan ekonomi yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar pendiri Yayasan Uma Nusantara ini.

Karena dinilai memiliki nilai budaya dan sosial yang kuat, Pameran Weaving Wonders turut mendapat dukungan dari berbagai mitra, termasuk Desa Sejahtera Astra dan Yayasan Astra. Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto, meyakini bahwa budaya, kearifan lokal, dan pemberdayaan masyarakat merupakan aset penting yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.

“Ini semua menjadi bagian dari pembangunan Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan untuk masa kini dan masa depan,” tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU