Minggu, 31 MEI 2026 • 19:20 WIB

Rencana Aktivasi Bandara Husein Dinilai Hadirkan Dilema bagi Bandung dan Kertajati

Author

Landasan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. (ANTARA/Raisan Al Farisi)

INDOZONE.ID - Rencana mengaktifkan kembali Bandara Husein Sastranegara untuk penerbangan komersial bermesin jet memunculkan perdebatan terkait dampaknya terhadap sektor transportasi, ekonomi, hingga pengembangan wilayah di Jawa Barat.

Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai kebijakan tersebut tidak sekadar berkaitan dengan pemindahan rute penerbangan. 

Bagi dia, hal ini juga menyangkut keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan pembangunan infrastruktur.

"Kebijakan ini memicu perdebatan karena melibatkan tarikan yang kuat antara kenyamanan konsumen jangka pendek dan keberlanjutan investasi infrastruktur jangka panjang," kata Djoko dalam pernyataannya, Minggu (31/5/2026).

Menurut dia, pengaktifan kembali Bandara Husein berpotensi memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi Bandung Raya. 

Kehadiran kembali penerbangan komersial memungkinkan wisatawan domestik maupun mancanegara, khususnya dari Malaysia dan Singapura, tiba langsung di Kota Bandung tanpa harus melanjutkan perjalanan darat dari bandara lain.

Baca juga: Imigrasi Bandara Soetta Catat 17,3 Juta Perlintasan Sepanjang 2025, Naik 7,7 Persen

Kondisi tersebut diperkirakan dapat mendorong aktivitas ekonomi di sektor perhotelan, restoran, kafe, industri kreatif, hingga pelaku UMKM yang bergantung pada kunjungan wisatawan.

Di sisi lain, Djoko menilai kebijakan tersebut dapat menjadi tantangan bagi keberlanjutan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati yang dibangun sebagai gerbang udara utama Jawa Barat.

Jika maskapai kembali mengoperasikan penerbangan jet di Bandung, minat masyarakat Bandung Raya untuk menggunakan Kertajati berpotensi menurun. 

Dampaknya, upaya meningkatkan jumlah penumpang dan optimalisasi investasi bandara tersebut dapat menghadapi hambatan.

Selain itu, pengaktifan kembali Bandara Husein juga dinilai dapat mempengaruhi pembagian pasar yang mulai terbentuk antara berbagai infrastruktur transportasi di Jawa Barat, termasuk Tol Cisumdawu dan Kereta Cepat Whoosh.

Dari sisi pengguna jasa transportasi, Djoko melihat adanya keuntungan berupa efisiensi waktu dan biaya perjalanan. Warga Bandung yang hendak bepergian ke berbagai kota tidak lagi perlu mengalokasikan waktu tambahan menuju Kertajati atau Bandara Soekarno-Hatta.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa Bandara Husein memiliki sejumlah keterbatasan teknis yang perlu diperhatikan.

"Bandara Husein Sastranegara memiliki keterbatasan intrinsik yang tidak bisa diabaikan," ujarnya.

Menurut Djoko, lokasi bandara yang berada di tengah kawasan padat penduduk dan dikelilingi pegunungan membuat ruang pengembangan fisik sangat terbatas. 

Panjang landasan pacu yang tersedia juga membatasi operasional pesawat tertentu, sementara kapasitas apron dan ruang tunggu berpotensi menghadapi kepadatan jika frekuensi penerbangan meningkat.

Untuk menghindari dampak negatif terhadap kedua bandara, Djoko menilai diperlukan pembagian peran yang jelas melalui pengaturan rute dan slot penerbangan.

Ia mengusulkan agar Bandara Husein difokuskan pada penerbangan domestik jarak pendek hingga menengah, penerbangan regional, serta penerbangan internasional tertentu ke Singapura dan Malaysia. 

Sementara itu, Bandara Kertajati tetap diarahkan sebagai pusat penerbangan internasional jarak jauh, penerbangan umrah dan haji, serta layanan logistik dan kargo.

Dari perspektif tata ruang, Djoko menilai keberadaan bandara di pusat kota juga membawa konsekuensi terhadap arah pengembangan Bandung. 

Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) membatasi pembangunan gedung bertingkat di sejumlah wilayah kota sehingga memengaruhi pola pertumbuhan perkotaan.

Selain itu, peningkatan aktivitas penerbangan juga berpotensi menambah tekanan terhadap lalu lintas di kawasan sekitar bandara yang saat ini sudah padat. 

Baca juga: Pentingnya Pengujian dan Sertifikasi untuk Wujudkan Transportasi Nasional yang Andal

Menurut dia, tanpa dukungan konektivitas transportasi yang memadai, kemacetan dapat semakin meningkat di sejumlah koridor jalan utama.

Di sisi ekonomi, keberadaan bandara di dalam kota dinilai dapat kembali memperkuat aktivitas pariwisata, perdagangan, dan kegiatan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) karena aksesibilitas yang lebih mudah bagi wisatawan maupun pelaku bisnis.

Namun, Djoko juga mengingatkan adanya dampak lingkungan yang perlu diperhatikan, mulai dari kebisingan akibat aktivitas pesawat hingga peningkatan emisi di kawasan perkotaan.

Pada akhirnya, ia menilai pengaktifan kembali Bandara Husein perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi transportasi yang terintegrasi dan tidak mengorbankan pembangunan infrastruktur lain yang telah ada.

"Masa depan mobilitas Jawa Barat tidak boleh dikorbankan demi mengejar pertumbuhan instan yang bersifat parsial," kata Djoko.

Ia menambahkan, keberhasilan kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengatur pembagian peran antarinfrastruktur transportasi sekaligus menjaga arah pengembangan wilayah Jawa Barat secara berkelanjutan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Keterangan Pers

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU