INDOZONE.ID - Ketegangan geopolitik yang sedang terjadi antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, dampaknya justru bisa terasa sangat dekat, mulai dari naiknya harga kebutuhan pokok, perubahan nilai tukar rupiah, hingga kebijakan ekonomi nasional.
Hal inilah yang disoroti oleh Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung dalam sebuah acara town hall meeting Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko. Ia menegaskan bahwa Indonesia saat ini berada di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, di mana pemerintah dituntut untuk tidak hanya responsif, tetapi juga adaptif terhadap perubahan kebijakan dan lingkungan.
Baca juga: Harga Plastik Naik, Pramono Dorong Inovasi dan Kembali ke Kemasan Tradisional
Ketika Konflik Global Berpengaruh pada Stabilitas Dalam Negeri
Dalam beberapa waktu terakhir, ketegangan geopolitik telah memicu perubahan besar di pasar keuangan global. Dampaknya tidak bisa dihindari, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Tekanan tersebut terlihat dari:
- Kenaikan imbal hasil (yield).
- Pelemahan nilai tukar rupiah.
- Kebutuhan intervensi yang lebih besar untuk menjaga stabilitas.
Bagi masyarakat, kondisi ini sering kali tidak langsung terlihat dalam bentuk kebijakan, tetapi terasa dalam bentuk yang lebih sederhana, yaitu harga barang yang perlahan naik maupun daya beli yang menurun.
Pemerintah Tidak Bisa Menunggu, tetapi Mengelola Risiko
Menurut Juda Agung, kondisi saat ini bukan hanya soal risiko, tetapi juga ketidakpastian. Perbedaannya penting, yakni risiko masih bisa diukur probabilitasnya, sementara ketidakpastian tidak dapat diukur.
Dalam situasi ketidakpastian seperti ini, pemerintah harus mengelola risiko.
"Kita memang hidup di era ketidakpastian dan risiko. Tentu saja kita tidak bisa diam begitu saja, memang kita harus manajemen risiko," ujar Wamenkeu Juda.
Artinya, kebijakan ekonomi saat ini lebih banyak didasarkan pada skenario dan antisipasi, bukan kepastian.
Baca juga: Harga Bitcoin Tetap Bertahan di Tengah Isu Geopolitik Iran-Israel
Adaptif Tanpa Kehilangan Prinsip
Selain kebijakan fiskal, Juda juga menekankan pentingnya organisasi yang adaptif. Menurutnya, perubahan global yang cepat menuntut institusi untuk lebih lincah menyesuaikan diri dengan perubahan tanpa mengorbankan prinsip integritas.
Kenapa Ini Penting untuk Masyarakat?
Meski terdengar teknis, isu ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika pemerintah harus memakai lebih banyak strategi untuk menjaga stabilitas dalam negeri, kemungkinan yang akan terjadi:
- Harga energi bisa terdampak.
- Nilai tukar memengaruhi harga barang impor.
- Ruang fiskal yang sempit bisa membatasi bantuan atau subsidi.
Dengan kata lain, ketidakpastian global bukan hanya urusan pemerintah ataupun analis keuangan, tetapi juga berkaitan langsung dengan kondisi ekonomi masyarakat.
Karena pada akhirnya, stabil atau tidaknya ekonomi bukan hanya diukur dari angka, tetapi dari seberapa ringan masyarakat menjalani hidup sehari-hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kemenkeu.go.id