INDOZONE.ID - Harga minyak melonjak tajam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade laut terhadap Iran. Minyak mentah Brent acuan internasional, naik lebih dari 8 persen pada Minggu (12/4/2026) hingga menembus 103 dolar AS per barel.
Kenaikan ini menjadi yang pertama kalinya Brent kembali melampaui ambang psikologis 100 dolar AS sejak Selasa lalu, ketika sempat menyentuh level di atas 111 dolar AS per barel. Harga minyak memang terus berfluktuasi sejak serangan AS-Israel ke Iran mendorong Teheran memberlakukan blokade de facto di Selat Hormuz.
Trump mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan memblokir seluruh kapal yang masuk maupun keluar dari Selat Hormuz, menyusul gagalnya pembicaraan gencatan senjata antara pejabat AS dan Iran pada akhir pekan.
Baca juga: Perang Iran Beri Guncangan Minyak ke Ekonomi India yang Lagi dalam Optimisme Tinggi
Pernyataan Berbeda soal Blokade
Namun, Komando Pusat AS dalam pernyataan terpisah menyebut blokade hanya akan berlaku bagi kapal yang bepergian ke dan dari Iran. Pernyataan ini dinilai meredam ancaman sebelumnya terkait blokade penuh.
Komando Pusat juga menyatakan kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada Senin (13/4/2026) pukul 10.00 Waktu Timur (14.00 GMT).
Meski gencatan senjata rapuh antara Washington dan Teheran secara resmi masih berlaku hingga 22 April, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sudah menurun drastis. Pada Sabtu (11/4/2026), hanya 17 kapal yang melintas jauh di bawah rata-rata sekitar 130 kapal per hari sebelum konflik.
Iran diketahui masih mengizinkan sejumlah kapal melintas dengan pemeriksaan dan otorisasi ketat. Namun, volume lalu lintas tetap jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal.
Sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh puncak di atas 119 dolar AS bulan lalu, sebelum turun ke bawah 92 dolar AS pekan lalu usai pengumuman gencatan senjata dua pekan setelah lebih dari enam minggu konflik.
Baca juga: Harga Minyak Naik Lagi, Pedagang Pantau Gencatan Senjata AS-Iran yang Rapuh
Pasar Asia Tertekan
Ketidakpastian terkait kebijakan blokade juga menekan pasar saham Asia. Pada perdagangan Senin (13/4/2026), indeks Nikkei 225 Jepang dibuka melemah 0,9 persen, sementara indeks KOSPI Korea Selatan turun lebih dari 1 persen.
Kontrak berjangka saham AS yang diperdagangkan di luar jam bursa juga ikut tertekan. Kontrak yang terkait dengan indeks acuan S&P 500 tercatat turun sekitar 0,8 persen.
Para investor kini menanti kejelasan lebih lanjut terkait implementasi blokade serta respons Iran, yang dinilai akan sangat menentukan arah pasar global dalam waktu dekat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Aljazeera.com