Senin, 30 MARET 2026 • 19:00 WIB

Minyak Tembus Batas, Iran Tuding AS Siapkan Invasi Darat

Author

Ilustrasi Minyak Dunia. (Freepik) (Freepik)

INDOZONE.ID - Harga minyak dunia kembali melonjak tajam dan mencapai level tertinggi dalam hampir dua pekan seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di berbagai wilayah. Pada perdagangan Senin (30/3) pagi, minyak mentah Brent naik lebih dari 3 persen hingga menembus USD 116 per barel.

Kenaikan ini membawa acuan minyak global tersebut ke posisi tertinggi sejak 19 Maret, ketika sempat menyentuh kisaran USD 119 per barel. Tren ini juga memperkuat kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global dalam jangka pendek.

Iran Siap Hadapi Invasi Darat

Lonjakan harga dipicu pernyataan keras dari Iran yang menyatakan kesiapan menghadapi kemungkinan invasi darat dari AS. Ketua parlemen Iran bahkan memperingatkan bahwa Teheran “menunggu” kedatangan pasukan AS untuk kemudian memberikan perlawanan.

Ketegangan meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel pada akhir pekan lalu, yang disebut sebagai serangan pertama mereka dalam konflik ini. Di sisi lain, Israel juga dilaporkan memperluas operasi militernya hingga ke wilayah Lebanon selatan.

Baca juga: Minyak Tembus USD 115, Saham Asia Ambruk Saat Perang Iran Memanas

Saham Asia Ambruk

Dampak konflik langsung terasa di pasar keuangan. Bursa saham Asia dibuka melemah tajam pada awal pekan. Indeks Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan sama-sama turun lebih dari 4 persen, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global.

Ancaman Krisis Energi Global

Situasi semakin memburuk setelah Iran secara efektif membatasi akses di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan ini memicu kekhawatiran akan krisis energi terbesar dalam beberapa dekade.

Sejak konflik memanas pada akhir Februari, harga minyak telah melonjak hampir 60 persen. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada harga bahan bakar global dan mendorong sejumlah negara mulai mempertimbangkan langkah darurat untuk menjaga ketahanan energi.

Ancaman Trump dan Negosiasi yang Mandek

Presiden AS, Donald Trump. (Kiyoshi Ota/Pool via REUTERS)

Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap infrastruktur energi Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut sebelum tenggat waktu 6 April.

Dalam pernyataannya, Trump juga menyebut adanya peluang kesepakatan melalui jalur diplomasi tidak langsung yang dimediasi Pakistan. Namun, Iran menolak proposal tersebut dan mengajukan syarat sendiri, termasuk tuntutan ganti rugi perang serta pengakuan atas kontrol mereka terhadap wilayah strategis tersebut.

Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Iran Bantah Negosiasi dengan AS

Dampak Nyata Mulai Terasa

CEO Onyx Capital Group, Greg Newman, menyatakan bahwa dampak krisis mulai dirasakan secara nyata oleh konsumen energi global. Ia menjelaskan bahwa distribusi minyak membutuhkan waktu, sehingga wilayah seperti Eropa diperkirakan baru akan merasakan dampak penuh dalam beberapa minggu ke depan.

Newman memproyeksikan harga minyak berpotensi terus naik hingga menembus USD 120 per barel atau lebih, mengingat gangguan pasokan yang belum menunjukkan tanda mereda.

Lalu Lintas Kapal Masih Terbatas

Meski Iran mulai mengizinkan beberapa kapal dari negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik untuk melintas, volume lalu lintas masih jauh di bawah kondisi normal. Sebelum konflik, Selat Hormuz mencatat sekitar 120 kapal melintas setiap hari. Namun, data terbaru menunjukkan jumlah tersebut anjlok drastis, dengan hanya segelintir kapal yang berhasil melewati jalur tersebut.

Kondisi ini menegaskan bahwa ketidakpastian geopolitik masih menjadi faktor utama yang membayangi pasar energi dan keuangan global dalam waktu dekat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Aljazeera.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU