Selasa, 03 MARET 2026 • 17:20 WIB

Arus Tanker Minyak di Selat Hormuz Anjlok 86 Persen, Ratusan Kapal Mengantre

Author

Kapal berlayar di Selat Hormuz. (REUTERS/Amr Alfiky)

INDOZONE.ID - Lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz menurun tajam menyusul meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut. Situasi memanas setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan, yang memicu kekhawatiran pelayaran global dan melonjakkan biaya asuransi.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia, atau sekitar 20 juta barel per hari, melintasi koridor ini.

Data perusahaan analisis Kpler menunjukkan bahwa pada 27 Februari sebanyak 21 juta barel minyak diangkut oleh 15 kapal tanker. 

Angka itu meningkat menjadi 21,6 juta barel melalui 18 kapal pada 28 Februari. Namun pada 1 Maret, hanya tiga kapal tanker yang melintas dengan total muatan 2,8 juta barel.

Baca juga: Airlangga: Perang AS-Iran Berpotensi Dorong Kenaikan Harga BBM di Dalam Negeri

Dengan rata-rata aliran harian sepanjang 2026 mencapai 19,8 juta barel, volume pengiriman pada 1 Maret tercatat turun sekitar 86 persen dibandingkan rata-rata tahun berjalan.

Penurunan drastis ini mengindikasikan adanya percepatan pengiriman sebelum risiko meningkat, yang kemudian diikuti hampir terhentinya aktivitas penyeberangan ketika situasi keamanan memburuk.

Lebih dari 700 Kapal Menunggu

Hingga saat ini, sebanyak 706 kapal tanker non-Iran tercatat menunggu di kedua sisi selat. Dari jumlah tersebut, 334 kapal merupakan tanker minyak mentah, 109 kapal pengangkut produk minyak kotor, dan 263 kapal pengangkut produk minyak bersih.

Kapal-kapal tersebut tersebar di Teluk Persia di sisi barat, Teluk Oman di sisi timur, serta Laut Arab. Meski aktivitas pemuatan minyak mentah di dalam Teluk masih berlangsung, berkurangnya keberangkatan ke arah timur melalui Selat Hormuz menyebabkan waktu tunggu semakin panjang.

Kondisi ini diperkirakan akan menunda kedatangan kargo ke pasar tujuan sekaligus mendorong kenaikan biaya angkut dan premi asuransi. Antrean panjang kapal yang hendak melintasi jalur sempit tersebut berpotensi memperparah gangguan rantai pasok energi global.

Status Keamanan Naik ke Level Kritis

Pasca-serangan militer, muncul laporan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengirim pesan kepada kapal-kapal yang hendak menggunakan Selat Hormuz dengan menyatakan tidak ada kapal yang diizinkan melintas. 

Baca juga: Konflik Iran-Israel, Harga Minyak Diprediksi Bisa Tembus 100 Dolar AS per Barel

Meski klaim tersebut disebut disiarkan melalui frekuensi darurat internasional VHF Channel 16, belum ada konfirmasi resmi terkait penutupan formal selat.

Namun media Iran mengklaim bahwa Selat Hormuz secara efektif telah ditutup.

Sejumlah kapal kontainer dilaporkan berbalik arah untuk menghindari perairan tersebut. Beberapa perusahaan pelayaran kontainer global juga menghentikan pelayaran melalui selat karena meningkatnya risiko keamanan.

Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) pada 1 Maret menyatakan tingkat keamanan maritim di Selat Hormuz dinaikkan ke level kritis, kategori risiko tertinggi. Keputusan itu diambil setelah terjadi beberapa serangan terhadap kapal komersial di Teluk Oman dan perairan pesisir Uni Emirat Arab.

Perkembangan ini menambah tekanan terhadap pasar energi global yang sudah sensitif terhadap gangguan pasokan, sekaligus meningkatkan kekhawatiran akan lonjakan harga minyak dunia dalam waktu dekat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU