Jumat, 06 FEBRUARI 2026 • 15:41 WIB

Kemenperin: Industri Pengolahan Dominasi Ekonomi 2025

Author

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. (Dok. Humas Kemenperin)

INDOZONE.ID - Industri pengolahan menjadi tulang punggung ekonomi nasional sepanjang 2025.

Data BPS menunjukkan sektor ini menyumbang 19,07 persen terhadap PDB dan mencatat pertumbuhan 5,30 persen. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai, tren ekspor yang naik dan impor yang menurun jadi bukti struktur industri nasional makin kuat.

Angka ini melanjutkan tren positif dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2023 kontribusi industri pengolahan tercatat 18,67 persen, naik menjadi 18,98 persen di 2024, dan kembali menguat di 2025.

Tak hanya besar secara kontribusi, pertumbuhan industri pengolahan juga konsisten.

Pada 2023, sektor ini tumbuh 4,64 persen, lalu sedikit melambat ke 4,43 persen di 2024.

Memasuki 2025, lajunya justru meningkat signifikan menjadi 5,30 persen.

Baca juga: Kemenperin Tegaskan Tak Toleransi Mafia Impor Tekstil

Baca juga: Gandeng Startup, Kemenperin Buka Akses Kerja Disabilitas di Industri

Tren ini menunjukkan daya tahan industri pengolahan di tengah tekanan ekonomi global dan domestik.

Industri pengolahan juga menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lain.

Sumbangan Terbesar ke Pertumbuhan Ekonomi

Data BPS mencatat, pada 2023 industri pengolahan menyumbang 0,95 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Angka ini sedikit turun menjadi 0,90 persen di 2024.

Namun pada 2025, kontribusinya kembali naik menjadi 1,07 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan posisi strategis sektor ini.

“Industri pengolahan tidak hanya menjadi kontributor terbesar tapi juga mendominasi pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya,” ujarnya dalam pernyataannya dikutip Indozone, Jumat (6/2/2026).

Ekspor Naik, Impor Turun

Dari sisi perdagangan, kinerja industri pengolahan juga dinilai solid.

Ekspor industri pengolahan tumbuh 1,73 persen pada 2023, melonjak ke 6,85 persen di 2024, dan kembali naik menjadi 7,03 persen pada 2025.

Sebaliknya, impor barang dan jasa justru menunjukkan tren penurunan.

Pada 2023 tercatat minus 1,24 persen, kemudian turun lagi pada 2024 dan 2025.

Menurut Kemenperin, kombinasi ekspor yang menguat dan impor yang menurun menjadi sinyal penguatan struktur industri nasional.

“Terjadi kenaikan ekspor dan penurunan tren impor dalam tiga tahun terakhir, ini membuktikan bahwa penguatan struktur industri nasional sudah terjadi,” jelas Agus.

Fokus Industri Kecil Masuk Rantai Pasok

Memasuki 2026, Kemenperin menyiapkan langkah lanjutan agar industri pengolahan terus tumbuh.

Hal ini dilakukan untuk memperkuat integrasi industri kecil ke dalam rantai pasok industri besar dan industri dalam negeri.

“Sesuai arahan Bapak Presiden untuk memperkuat industri kecil, kami akan meningkatkan integrasi industri kecil ke dalam rantai pasok industri nasional,” tutur Agus.

Kemenperin juga menepis anggapan bahwa Indonesia mengalami deindustrialisasi, termasuk deindustrialisasi dini.

Menurut Agus, data kontribusi PDB, sumbangan pertumbuhan ekonomi, serta kinerja ekspor-impor justru menunjukkan arah sebaliknya.

“Publikasi BPS atas pertumbuhan ekonomi nasional membuktikan bahwa industri pengolahan tidak mengalami deindustrialisasi apalagi deindustrialisasi dini,” tegasnya.

Ia menambahkan, meski 2025 penuh tantangan, strategi industri nasional yang sejalan dengan Asta Cita berhasil menjaga industri pengolahan tetap tumbuh dan mendominasi ekonomi nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Humas Kejagung

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU