INDOZONE.ID - Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Taufik Aditiyawarman menjadi pembicara dalam acara Joint Convention Semarang 2025 (JCS) pada Selasa, 1 Juli 2025 kemarin.
Dalam kesempatan itu, Taufik mengungkap jika PT KPI mengambil peranan penting dalam era transisi energi.
Menurutnya, isu energi tidak dapat dilepaskan dari konsep energi trilemma yakni konsep yang mencakup tiga tantangan utama dalam sistem energi yaitu keamanan energi, keberlanjutan energi dan keterjangkauan energi.
"Setiap negara memiliki kepentingan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negerinya. Negara juga memiliki kepentingan menyediakan energi yang dapat dijangkau masyarakatnya dengan harga yang sesuai," kata Taufik di hadapan peserta JCS 2025.
"Disisi lainnya, setiap negara juga harus memikirkan proses transisi energi menuju energi yang rendah karbon," ungkap Taufik.
Baca juga: Pertamina Cuan Besar di 2024! Ini Dia Fakta-Fakta dari RUPS Terbaru
Dia mengatakan ketiga hal tersebut akan menjadi bahan pertimbangan untuk mewujudkan program Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subinato khususnya poin yang menekankan pentingnya mewujudkan kemandirian bangsa melalui ketahanan energi, kedaulatan sumber daya alam, serta hilirisasi industri nasional.
KPI sendiri kini mengambil langkah dual growth strategy.
"KPI sebagai bagian Pertamina juga menerapkan strategi pertumbuhan ganda tersebut. Strategi pertama yaitu bagaimana KPI memaksimalkan bisnis eksisting sekarang atau Legacy Business. Dan kedua adalah membangun bisnis low carbon," ucap Taufik.
Selain itu, KPI juga membangun bisnis low carbon dengan mengembangkan Green Refinery dan menghasilkan produk-produk yang berbahan baku nabati atau biofuel.
Soal Biofuel, KPI mengimplementasikannya melalui berbagai strategi antara lain pertama melalui co-processing, yaitu bahan baku nabati diproses melalui pencampuran dengan bahan baku fosil pada fasilitas eksisting.
Baca juga: Dampak Konflik Iran-Israel, Pertamina Ubah Rute Distribusi Minyak Lewat Oman dan India
Dalam strategi ini, KPI telah mampu menghasilkan bio avtur Pertamina Sustainable Aviation Fuel 2,4 persen yang berbahan baku minyak inti sawit atau Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil.
Kedua, conversion yaitu bahan baku nabati 100 persen diproses menjadi bahan bakar. Di strategi ini, KPI telah mampu memproduksi bio diesel 100 persen dengan jenis hydrotreated vegetable Oil (HVO). Produk KPI ini dikenal dengan Pertamina Renewable Diesel (RD).
KPI juga berencana mengembangkan green refinery yang dapat mengolah bahan baku 2nd generation berupa limbah nabati salah satunya adalah minyak jelantah. Untuk tahap awal, proses produksinya akan dilakukan di Kilang Cilacap dan rencananya akan dikembangkan di kilang-kilang lainnya.
"Metode ini merupakan cara tercepat untuk memproduksi SAF. Apalagi proses pembuatannya melalui fasilitas eksisting telah terbukti. Penggunaan fasilitas produksi eksisting tentu akan memerlukan investasi yang lebih kecil. Selain itu, ini menjadi kesempatan untuk mengevaluasi fasilitas eksisting sambil mempersiapkan fasilitas pengolahan yang lebih besar," kata Taufik.
"Para pemangku kepentingan harus mengambil perannya masing-masing baik dari sisi peraturan maupun produknya. KPI memiliki tugas menghasilkan produknya dan akan berusaha melaksanakannya sesuai peta jalan yang sudah disusun," sambungnya.
Baca juga: Danantara dan Perusahaan Arab Saudi Jalin Kerja Sama untuk Pengembangan Energi Terbarukan
Tentunya, strategi yang dijalankan oleh KPI tidak cuma sebatas mempercepat transisi energi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional. Taufik mengungkapkan langkah tersebut memiliki multiplier effect, seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan produksi hingga bertambahnya nilai tambah di dalam negeri.
"Upaya ini merupakan upaya untuk mendorong transformasi ekonomi berbasis sektor strategis, termasuk energi dan mineral. Selain mendukung pertumbuhan ekonomi, strategi ini juga bertujuan mewujudkan ketahanan energi nasional yang berkelanjutan," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan