Ilustrasi bendera Indonesia. (Freepik)
INDOZONE.ID - Diplomasi energi diketahui dilakukan oleh pemerintah Indonesia di Jepang. Hal ini sekaligus dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Pemerhati kebijakan publik, Prof Henry Indraguna. Henry menilai hal ini juga mengubah posisi Indonesia dalam percaturan Indonesia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Washington DC, Amerika Serikat. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
"Indonesia tidak lagi menjadi objek dalam relasi kuasa global, namun menjadi subjek yang aktif mendefinisikan kepentingannya sendiri," kata Henry, seperti dikutip pada Kamis (26/3/2026).
Guru Besar Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang itu menilai langkah pemerintah juga sebagai upaya mendekonstruksi narasi lama, yang menempatkan negara berkembang hanya sebagai pemasok bahan mentah.
Baca juga: Pemerintah Pastikan Stok Energi Aman di Tengah Konflik Timur Tengah
Menurutnya, diplomasi tersebut mendorong Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global.
"Ini bentuk kedaulatan yang cair namun kokoh. Menunjukkan hukum nasional kita mampu beradaptasi dengan standar internasional tanpa kehilangan jati diri konstitusionalnya," katanya.
Beberapa waktu lalu, pemerintah dalam hal ini Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, melakukan kunjungan ke Tokyo, Jepang. Dalam kunjungan tersebut, Indonesia memperkuat kerja sama strategis di sektor energi dan mineral dengan pemerintah Jepang.
Dalam pertemuan dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Ryosei Akazawa, Bahlil menyepakati dua nota kesepahaman (MoU). Kesepakatan itu mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis serta pengembangan teknologi nuklir rendah karbon.
Pemerintah mendorong percepatan investasi migas oleh Inpex Corporation pada Proyek Gas Lapangan Abadi Blok Masela dengan nilai mencapai Rp339 triliun. Proyek tersebut dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Pemerintah Indonesia juga menawarkan pengelolaan bersama sejumlah komoditas strategis kepada Jepang. Komoditas tersebut meliputi nikel, bauksit, tembaga, hingga logam tanah jarang yang menjadi kunci dalam transisi energi global.
Baca juga: Filipina Tetapkan Darurat Energi Nasional, Imbas Konflik Timur Tengah Ganggu Pasokan Global
Kerja sama kedua negara turut diperluas ke sektor batu bara, gas alam cair (LNG), serta proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Sejumlah proyek yang menjadi fokus antara lain penyelesaian PLTSa Legok Nangka dan optimalisasi PLTP Sarulla.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan