Ilustrasi Ekonomi Deskriptif. (Foto: Freepik @Freepik)
INDOZONE.ID - Kalau ngomongin ekonomi, banyak yang langsung mikir angka, grafik, atau berita harga naik-turun.
Padahal, ekonomi itu punya cabang yang lebih “santai” tapi tetap penting, yaitu ekonomi deskriptif.
Nah, ekonomi deskriptif ini nggak ngomongin seharusnya harga naik atau turun, tapi lebih ke menggambarkan fakta-fakta ekonomi yang terjadi di lapangan.
Jadi, sebelum kita nge-judge suatu kebijakan atau fenomena ekonomi, ada baiknya kita paham dulu apa yang sebenernya terjadi.
Yuk simak ulasan ekonomi deskriptif dilansir dari YouTube @EkonomBanget selengkapnya!
Baca juga: Merkantilisme: Sejarah, Ciri, Tokoh, dan Pengaruhnya Terhadap Sistem Ekonomi Modern
Ekonomi Deskriptif adalah cabang ilmu ekonomi yang fokus menggambarkan kondisi nyata ekonomi. Istilah lainnya adalah ekonomi positif.
Jadi kalau kamu lihat data krisis 1998, misalnya harga-harga naik dan daya beli masyarakat turun, itu masuk kategori ekonomi deskriptif. Kita cuma mencatat fakta tanpa menjelaskan sebabnya secara mendalam.
Konsep ini penting karena jadi dasar analisis. Bayangin aja kalau kamu mau bikin kebijakan atau strategi bisnis, kamu nggak bisa asal tebak.
Kamu harus ngerti kondisi nyata dulu, misalnya jumlah pengangguran, harga kebutuhan pokok, atau jumlah produsen dalam suatu sektor.
Dengan data deskriptif, keputusan yang diambil bakal lebih grounded alias berbasis fakta.
Ada beberapa ciri yang bikin ekonomi deskriptif berbeda dari cabang ekonomi lain. Pertama, fakta jadi raja.
Semua yang dicatat adalah apa adanya. Kedua, sifatnya objektif. Tidak ada opini “harusnya begini” atau “sebaiknya begitu”, yang ada cuma angka dan data. Ketiga, fokusnya luas, bisa mencakup masyarakat, pemerintah, atau perusahaan.
Contohnya, kamu lihat laporan tahunan pemerintah yang mencatat inflasi, pertumbuhan PDB, atau jumlah penduduk miskin. Semua itu masuk ekonomi deskriptif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube