Ilustrasi beras. (Freepik/user6842811)
INDOZONE.ID - Gagasan menjadikan BULOG sebagai prime mover industri perberasan nasional perlu dibahas secara serius, bukan berhenti pada tataran jargon kebijakan. Karena pada dasarnya beras menyangkut hajat hidup orang banyak, kedaulatan bangsa, serta kesejahteraan petani.
Hal itulah yang diungkapkan Ketua Dewan Pakar DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat, Entang Sastraatmadja, seperti yang dikutip dari ANTARA
Menurut Entang, prime mover berarti penggerak utama yang mampu menjadi katalis perubahan industri perberasan dari hulu hingga hilir. Peran ini tidak cukup jika BULOG hanya difungsikan sebagai operator logistik atau penjaga stok beras. BULOG perlu didorong untuk memainkan peran strategis dalam mentransformasi agribisnis perberasan nasional agar lebih adil, efisien, dan berkelanjutan.
Ia menilai BULOG sesungguhnya memiliki fondasi kuat untuk menjalankan peran tersebut. Pengalaman panjang dalam logistik pangan, jaringan luas yang menjangkau petani hingga konsumen, serta dukungan regulasi pemerintah menempatkan BULOG pada posisi yang unik. Namun, kekuatan ini harus diarahkan pada pendekatan sistem agribisnis yang utuh, dengan melihat padi bukan sekadar sebagai bahan baku beras, melainkan sebagai sebuah ekosistem ekonomi.
Baca juga: Kebijakan Indonesia Hentikan Impor Beras Tekan Harga Beras Dunia
Dalam pandangan Entang, persoalan utama industri perberasan saat ini adalah hubungan linear antara harga gabah dan harga beras. Ketika harga gabah dinaikkan untuk melindungi petani, harga beras di tingkat konsumen ikut terdorong naik. Di tengah rantai tersebut, pedagang perantara cenderung tetap menjaga margin, sehingga tekanan justru dirasakan oleh petani dan konsumen. Kondisi ini bahkan memicu praktik-praktik yang merugikan, seperti penggilingan gabah berkadar air tinggi atau pemutihan beras lama demi tampilan.
Karena itu, Entang mendorong perubahan paradigma dari industri beras menjadi industri padi. Dengan melihat padi sebagai sumber multi-produk, nilai tambah tidak hanya bertumpu pada beras. Sekam dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi atau bahan bangunan, bekatul diolah menjadi minyak beras, bahan kesehatan dan kosmetik, sementara menir dapat menjadi produk pangan bernilai tinggi. Jika seluruh produk turunan ini dimonetisasi, ketergantungan pada harga beras dapat dikurangi dan pembagian nilai menjadi lebih adil bagi petani.
Dalam konteks ini, BULOG dinilai dapat berperan sebagai orkestrator ekosistem, bukan penguasa pasar. BULOG dapat memfasilitasi pembentukan klaster industri padi berbasis wilayah yang menghubungkan petani, penggilingan, industri pengolahan, lembaga keuangan, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah dalam satu rantai nilai. Dukungan insentif fiskal dan akses pembiayaan berbunga rendah dari pemerintah juga dinilai krusial agar agroindustri padi tumbuh nyata dan menjadi penggerak ekonomi daerah.
Namun, Entang menekankan bahwa keberhasilan transformasi tersebut membutuhkan keselarasan visi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah, dunia usaha, petani, akademisi, dan organisasi tani harus berada pada satu “frekuensi berpikir”, yakni memperkuat nilai tambah, bukan sekadar mengejar volume produksi.
Baca juga: Antisipasi Dampak Bencana, Bulog akan Tambah Stok Beras di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Nilai-nilai budaya seperti gotong royong dan kebersamaan perlu diterjemahkan dalam praktik ekonomi modern yang saling melindungi dan menguatkan.
Ia juga menyoroti pentingnya transparansi rantai nilai, standardisasi kualitas, dan digitalisasi informasi harga untuk membangun kepercayaan dan mencegah praktik yang merugikan petani serta konsumen. Dalam hal ini, BULOG dapat berperan sebagai pusat data dan integrator informasi guna mengurangi kesenjangan pengetahuan di pasar.
Ke depan, Entang menegaskan bahwa menjadikan BULOG sebagai prime mover industri perberasan bukan sekadar proyek teknokratis. Langkah ini merupakan pilihan strategis bangsa agar sektor pangan benar-benar menjadi pilar kesejahteraan nasional. Dengan menggeser orientasi dari sekadar menjaga pasokan menuju pembangunan ekosistem agribisnis padi yang modern, inklusif, dan bernilai tambah, Indonesia dapat melangkah menuju ketahanan pangan yang lebih bermartabat dan berkeadilan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA