INDOZONE.ID - Literasi keuangan tak hanya penting bagi generasi milenial, tetapi juga perlu dipahami oleh mahasiswa gen z.
Hal itu terutama terkait investasi crypto di era perkembangan keuangan digital yang semakin pesat saat ini.
Rektor Universitas Padjajaran Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, mengatakan bahwa cakupan literasi keuangan ini sangat luas.
Ada tentang literasi crypto dan juga investasi yang sangat penting untuk dipahami bersama.
Ia mengingatkan banyaknya produk keuangan juga potensi masalah di baliknya.
Baca juga: Apa itu Demutualisasi Bursa? Ini Penjelasan dan Dampaknya Bagi Investor yang Jarang Dibahas
"Kalau kita tidak pelajari secara baik, kalau kita tidak kenal, maka ini akan menyebabkan hal-hal yang menjadi permasalahan di masa yang akan datang,” ujarnya dalam acara Pintu Goes to Campus, baru-baru ini.
Dalam kesempatan sama, Kepala Departemen Pengaturan dan Perizinan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Djoko Kurnijanto memberikan insight mengenai literasi keuangan di kalangan gen z.
Menurut dia, di satu sisi memang investasi atau masalah financial literacy ini satu masalah tersendiri.
“Namun ketika didalami, ada tantangan lagi terkait dengan aset crypto di mana masih terjadi gap antara literasi dengan inklusi. Inilah yang kemudian membuat kami terus melakukan langkah-langkah bagaimana caranya supaya masyarakat yang melakukan investasi crypto ini tidak sekadar ikut-ikutan,” ucapnya.
Baca juga: Traxindo Resmi Kantongi Izin, Siap Dampingi Investor dari Nol
Djoko berpesan, ketika ingin memulai investasi crypto kamu harus memperhatikan 2L, yaitu Legal dan Logis.
Selain itu, pastikan daftar aset keuangan digitalnya itu legal dan pastikan bertransaksi dengan exchange atau Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) yang berlisensi dan diawasi oleh OJK.
“Jadi pastikan asetnya logis jangan mudah tergiur tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan pasti,” tambah dia.
Sementara itu, CMO PINTU Timothius Martin turut menyoroti masa depan investasi crypto di kalangan gen z.
Dari sisi adopsi secara global, ada sekitar 700 juta orang yang sudah trading atau berinvestasi crypto.
Baca juga: Realisasi Investasi Triwulan I 2026 Diproyeksi Rp497 Triliun, Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja
“Setiap 15 orang di dunia satu orang sudah pernah trading atau investasi crypto. Di Indonesia saat ini angka adopsi sekitar 21 juta orang, lebih besar dari investor saham.”
“Jadi memang masalahnya itu bukan adopsinya, yang menjadi tantangan adalah literasi dan edukasinya,” paparnya.
Di sisi lain, berdasarkan data dari OJK per Februari 2026, jumlah investor aset crypto di Indonesia telah mencapai 21,07 juta.
Tren ini juga tercermin secara global, World Economic Forum mencatat sekitar 42% investor Gen Z telah memiliki aset crypto.
Menurut Timo, data ini menunjukkan tingginya minat generasi muda terhadap investasi digital, sekaligus menegaskan pentingnya penguatan literasi keuangan di tengah tren tersebut.
Baca juga: Saham Blue Chip Syariah 2026: Daftar Terbaik dan Cara Pilihnya Biar Nggak Rugi
Tapi ia mengingatkan kepada generasi z agar tidak hanya mengikuti tren dan harus paham dengan cara-cara investasi yang tepat.
“Kami akan terus menghadirkan ruang belajar agar generasi muda dapat membangun pemahaman yang matang dan mengambil keputusan finansial secara bijak,” tutup Timo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan