Rabu, 31 DESEMBER 2025 • 09:56 WIB

Mengenal Girl Math dan Boy Math: Candaan Media Sosial yang Diam-diam Menggerus Keuangan

Author

Ilustrasi bebas finansial melalui tips keuangan untuk generasi muda. (Freepik)

INDOZONE.ID - Istilah Girl Math dan Boy Math ramai diperbincangkan di media sosial karena kerap dijadikan bahan candaan yang merefleksikan kebiasaan finansial dalam kehidupan sehari-hari. 

Meski terkesan santai dan lucu, pola pikir ini sejatinya menggambarkan cara bernalar soal uang yang kerap tidak rasional, dan jika dibiarkan bisa membuat pengeluaran membengkak tanpa disadari.

Mengutip laporan New York Times, tren tersebut merupakan bagian dari pola perilaku konsumen di era modern. 

Fenomena ini menarik perhatian karena banyak orang, baik perempuan maupun laki-laki, tanpa sadar kerap menerapkan pola pikir semacam ini dalam mengambil keputusan finansial sehari-hari.

Baca juga: Resolusi Keuangan 2026: 6 Tips untuk Mengelola Uang dengan Bijak

Istilah Girl Math

Girl Math merupakan istilah yang ramai digunakan di TikTok untuk menjelaskan pola pikir belanja yang terdengar cerdas, tetapi sejatinya memanipulasi logika diri sendiri. 

Konsep ini mencerminkan bagaimana aspek psikologis kerap mengalahkan perhitungan rasional dalam pengambilan keputusan finansial.

Dengan logika semacam ini, seseorang bisa merasa sedang berhemat, padahal justru mendorong diri membeli lebih banyak barang.

Misalnya, seseorang terjebak dalam ilusi penghematan saat membeli barang diskon yang sebenarnya tidak diperlukan. 

Hal ini serupa dengan pembenaran mental saat membagi biaya besar menjadi cicilan harian kecil agar pengeluaran tersebut tampak tidak membebani, meski secara total jumlahnya tetap sama.

Istilah Itu Boy Match?

Sebaliknya, Boy Math merujuk pada pola pikir finansial yang cenderung menitikberatkan pada perhitungan praktis dan “value for money”, namun tak jarang mengabaikan risiko maupun batas pengeluaran. 

Mengutip Insider, pendekatan Boy Math sering kali membenarkan pengeluaran besar atas nama manfaat atau hiburan, meskipun berdampak pada kondisi keuangan dalam jangka pendek.

Contohnya seperti membeli gadget mahal lantaran merasa investasi jangka panjang. Contoh lainnya adalah menganggap berlangganan layanan streaming yang jarang dipakai tidak masalah karena harga per bulan dinilai murah. 

Efeknya pada Kesehatan Finansial Personal

Baik konsep Girl Math maupun Boy Math sama-sama dapat menjadi perangkap psikologis dalam mengelola keuangan. 

Walau kerap dianggap bercanda, pola pikir ini berisiko mengikis tabungan, memicu pengeluaran yang sulit dikendalikan, serta memunculkan tekanan dan rasa bersalah terkait kondisi finansial. 

Mengacu pada Investopedia, langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain menyusun anggaran yang masuk akal, mencatat setiap pengeluaran, serta mengevaluasi keputusan belanja secara berkala.

Baca juga: Waspada Boros saat Libur Akhir Tahun, Ini 8 Kesalahan Finansial yang Sering Terjadi

Tips Menghindari Agar Tidak Terhipnotis Girl Math dan Boy Math 

  1. Catat Seluruh Arus Pengeluaran:
    Jangan hanya berpatokan pada perasaan “hemat hari ini” atau hitungan kasar bulanan, tetapi tuliskan semua transaksi secara rinci.
  2. Tetapkan Skala Prioritas:
    Bedakan mana kebutuhan utama dan mana sekadar keinginan sebelum memutuskan untuk berbelanja.
  3. Evaluasi Pengeluaran Secara Berkala:
    Lakukan peninjauan rutin, baik mingguan maupun bulanan, untuk memastikan alasan di balik setiap pembelian masih masuk akal.
  4. Pasang Batas Anggaran yang Jelas:
    Tentukan limit pengeluaran agar dorongan belanja spontan tidak melampaui kemampuan finansial.

Meskipun istilah Girl Math dan Boy Math sering digunakan sebagai candaan, fenomena ini sebenarnya mencerminkan aspek krusial dalam psikologi keuangan. 

Dengan mengenali bias kognitif tersebut, seseorang dapat lebih bijak mengelola arus kas serta memperkuat disiplin finansial guna menghindari pemborosan yang tidak disadari. 

Di tengah gempuran konsumsi digital saat ini, memiliki kesadaran terhadap pola pikir finansial jauh lebih fundamental daripada sekadar memahami instrumen investasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: New York Times

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU