Sabtu, 20 DESEMBER 2025 • 19:20 WIB

BI Antisipasi Lonjakan Transaksi Natal, Siapkan Rp1,27 Triliun di Papua Barat

Author

Ilustrasi - Pejalan kaki melintas di depan logo Bank Indonesia di kawasan Bank Indonesia, Jakarta. (ANTARA/Rosa Panggabean)

INDOZONE.ID - Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Bank Indonesia memperkuat perannya dalam menjaga kelancaran aktivitas ekonomi di Papua Barat dengan memastikan ketersediaan uang tunai dalam jumlah memadai.

Langkah ini diambil seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas keagamaan, hingga sektor pariwisata yang biasanya mencapai puncaknya di penghujung tahun.

Bank Indonesia menyiapkan uang tunai layak edar senilai Rp1,27 triliun untuk memenuhi kebutuhan transaksi masyarakat di Papua Barat.

Angka tersebut lebih tinggi dari proyeksi kebutuhan uang tunai akhir tahun yang diperkirakan mencapai Rp1,16 triliun, atau tumbuh sekitar 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga: Tingkatkan Kesejahteraan Driver, Eks Kapolda Sulsel Bentuk Koperasi Ojol Merah Putih

Kepala Perwakilan BI Papua Barat Setian menyebut, penyediaan uang tunai kali ini dilakukan dengan mempertimbangkan realisasi kebutuhan tahun lalu yang mencapai Rp1,03 triliun.

Dengan menyediakan dana di atas proyeksi, bank sentral ingin memastikan tidak terjadi kendala likuiditas di tengah meningkatnya transaksi masyarakat.

"Kalau periode Natal 2024 dan Tahun Baru 2025, realisasinya sebanyak Rp1,03 triliun. Kami menyediakan lebih dari yang sudah diproyeksikan," ujarnya.

Menurut Setian, lonjakan kebutuhan uang tunai menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional merupakan fenomena yang sejalan dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga. Selain belanja kebutuhan pokok, aktivitas sosial dan keagamaan turut mendorong tingginya peredaran uang tunai di masyarakat.

Baca juga: Startup Solusi Bisnis Berbasis Teknologi Bersiap Masuk Tahap Pendanaan Lanjutan

Distribusi uang tunai tersebut dilakukan melalui jaringan perbankan konvensional agar masyarakat dapat memperoleh uang rupiah layak edar secara mudah, aman, dan nyaman.

BI juga menilai tingginya aktivitas masyarakat di akhir tahun, termasuk perjalanan dan pariwisata, menjadi faktor penting dalam perencanaan distribusi uang tunai.

"Peningkatan kebutuhan uang tunai juga seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas keagamaan, dan pariwisata pada akhir tahun," kata Setian.

Di sisi lain, kualitas uang rupiah yang beredar di Papua Barat dinilai relatif terjaga. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, BI mencatat penyerapan uang tunai tidak layak edar sebesar Rp1,25 miliar. Angka tersebut mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam merawat uang rupiah.

Baca juga: Dahua Technology Gandeng ECS Indo Jaya, Perkuat Strategi Ekspansi Bisnis AIoT di Indonesia

Selain itu, peredaran uang palsu di Papua Barat sepanjang 2025 masih dalam kategori terkendali. BI hanya menerima laporan dan klarifikasi terhadap 10 lembar uang palsu.

Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk lebih teliti dalam bertransaksi, terutama saat volume transaksi meningkat tajam menjelang akhir tahun.

"Setiap akhir tahun, aktivitas transaksi meningkat drastis. Makanya, perlu ketelitian dalam setiap transaksi untuk mencegah kerugian," pesan Setian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU