Lipstick Effect (Ilustrasi Copilot)
INDOZONE.ID - Fenomena lipstick effect belakangan kembali menjadi perbincangan hangat dan viral di berbagai media sosial.
Istilah ekonomi ini merujuk pada perilaku konsumen yang cenderung tetap membeli barang mewah kecil di tengah situasi krisis keuangan.
Gejala sosial ini menarik perhatian banyak pihak karena mencerminkan dinamika psikologis masyarakat saat menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Secara historis, teori ini pertama kali dikemukakan oleh pakar ekonomi untuk menjelaskan lonjakan penjualan kosmetik selama masa Depresi Besar di Amerika Serikat.
Baca juga: Jarang Diketahui, Ini Sejarah Panjang dan Akar Bahasa di Balik Nama Mata Uang Rupiah
Meskipun daya beli masyarakat menurun drastis untuk barang-barang besar seperti rumah atau mobil, penjualan produk kecantikan justru meningkat secara signifikan.
Hal ini membuktikan bahwa kebutuhan akan pemenuhan kepuasan emosional tetap tinggi dalam kondisi sesulit apa pun.
Para ahli menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh keinginan manusia untuk tetap merasakan kenyamanan dan status sosial yang stabil.
Ketika anggaran belanja memperketat peluang untuk berlibur atau membeli barang mewah bernilai tinggi, lipstik menjadi alternatif kemewahan yang terjangkau.
Membeli produk kecil yang eksklusif memberikan efek psikologis berupa kegembiraan instan dan rasa kendali atas hidup.
Di era digital saat ini, media sosial seperti TikTok dan Instagram turut mengamplifikasi tren tersebut secara masif.
Banyak kreator konten membagikan ulasan produk pemulas bibir dari merek ternama sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri atau self-reward.
Paparan visual yang estetis ini mendorong generasi muda untuk ikut berpartisipasi dalam tren belanja yang tampak tidak berbahaya bagi dompet mereka.
Baca juga: Ini Cara Benar Kembalikan Uang yang Salah Transfer ke Bank Kamu
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uma.ac.id