Ilustrasi cara mengelola keuangan
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu merasa berutang itu seperti sudah jadi bagian hidup, bukan sekadar solusi sekali dua kali? Utang buat bayar tagihan, utang buat beli barang favorit, utang buat nutup kebutuhan mendadak. Eh, ujung-ujungnya malah makin numpuk dan terus jadi kebiasaan.
Ternyata, menurut penelitian psikologi perilaku dan finansial, utang bukan sekadar soal uang, tapi juga soal kebiasaan, emosi, dan cara otak kita bekerja ketika berhubungan dengan uang. Kalau kamu pernah ngerasain utang kayak nggak bisa lepas dari kehidupan, kamu nggak sendirian. Banyak orang mengalami hal yang sama secara global, berikut penjelasan kenapa hal itu bisa terjadi plus gimana cara menghentikannya menurut para ahli keuangan internasional.
Pada dasarnya, kepemilikan utang yang terus-menerus bisa berubah jadi pola perilaku yang sulit diubah, mirip seperti kebiasaan lain yang sudah “nancep” di otak kita. Ada banyak faktor yang bikin seseorang terus berutang, bahkan ketika sadar itu nggak sehat.
Di zaman digital sekarang, utang jadi gampang banget. Tinggal klik, uang langsung cair. Mulai dari pinjaman online, paylater, sampai kartu kredit, semuanya bikin akses buat berutang terasa sangat mudah.
Menurut penelitian tentang propensity to indebtedness (kecenderungan berutang), faktor perilaku dan psikologi, termasuk kebiasaan dan bias finansial, bikin orang lebih gampang tergoda ambil kredit, apalagi di lingkungan fintech modern seperti pinjaman digital. Kalau aksesnya gampang, godaannya jelas juga gampang, dan itu bikin kita kadang terus kepikiran buat berutang lagi.
Bayangin deh, kamu lihat barang keren, langsung klik “bayar dengan paylater” atau “kartu kredit”. Rasanya langsung puas dan lega karena kamu dapat barang itu sekarang. Ini mirip dengan konsep instant gratification, artinya kita lebih suka nikmat dulu daripada mikir panjang soal konsekuensinya.
Masalahnya, kepuasan instan itu sementara. Begitu tagihannya datang, baru deh kamu ngerasain tekanan utang yang makin berat.
Sikap dan kebiasaan keuangan dibentuk sejak kecil dan makin kuat seiring waktu, misalnya nggak punya anggaran yang jelas, nggak bikin dana darurat, atau pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Kebiasaan seperti ini bikin kamu tanpa sadar jadi bergantung pada utang sebagai “pelampiasan” ketika uang habis.
Selain itu, sifat impulsif dan kebiasaan konsumtif juga bikin orang lebih gampang berutang, apalagi kalau di lingkungan sekitar utang dianggap hal yang normal atau malah kelihatan “keren”.
Banyak keputusan finansial dilakukan tanpa sadar oleh otak kita. Misalnya, ada konsep psikologi yang disebut mental accounting yang bikin kita merasa “uang utangan” bukan uang riil, sehingga lebih gampang dipakai buat belanja atau gaya hidup yang akhirnya bikin utang makin nambah.
Ini juga berkaitan dengan perilaku konsumtif yang didorong media sosial dan tekanan sosial buat punya gaya hidup tertentu. Ketika kamu merasa ketinggalan zaman atau pengin pamer, utang terasa seperti jalan pintas buat dapetin itu semua.
Baca juga: Terjebak Utang Gali Lubang Tutup Lubang? Ini Cara Keluar Menurut Pakar Keuangan
Siklus utang berpotensi jadi loop yang susah diputus karena beberapa alasan:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Centralbank.net, Consumerfinance.gov