INDOZONE.ID - Sekarang makin banyak orang yang kena toxic saving. Rela hidup super irit demi bisa menabung, tapi malah jadi overthinking, susah tidur, dan stres berat. Niatnya aman finansial, eh malah kena mental.
Situasi ekonomi yang naik-turun bikin kondisi ini makin sering kejadian. Walaupun tabungan udah numpuk, hati tetap nggak tenang dan takut miskin. Nah, tekanan mental kayak gini yang disebut financial anxiety.
Ternyata, sehat secara finansial bukan hanya soal matematika, tapi juga soal psikologi. Penelitian menunjukkan bahwa cara kita mengelola rasa cemas dan keyakinan diri memegang kunci utama.
Baca juga: Ternyata Banyak Gen Z Susah Tidur Karena Finansial, Ini Penjelasan dan Tips Mengolahnya!
Stres keuangan sering kali berakar dari mindset yang keliru tentang uang, bukan sekadar karena kurangnya angka nol di rekening bank.
Lantas, apa saja alasan yang memicu stres selama menabung yang tidak banyak orang tahu? Simak selengkapnya berikut ini!
Banyak yang terjebak dalam rutinitas menabung hanya karena tuntutan sosial, namun tanpa makna di baliknya.
Menyimpan uang tanpa visi ibarat mengejar bayangan: kamu akan selalu merasa kurang dan cemas, karena tidak pernah ada titik henti yang pasti dalam tabungan kamu.
Banyak yang terjebak pada pemikiran bahwa makin banyak tabungan, makin sukses hidup kita. Tapi jujur saja, buat apa tabungan banyak kalau hati malah nggak tenang? Menabung itu tujuannya supaya kita merasa aman bukan malah jadi sumber overthinking.
Memang benar menurut studi dari UniSA Australia bahwa rajin nabung dan bebas utang itu bagus buat kesehatan mental. Tapi ingat, kalau caranya sudah bikin kita tertekan dan nggak bisa tidur, berarti ada yang salah dengan cara kita mengejar target tersebut.
Kecemasan terhadap ketidakpastian masa depan sering kali membayangi, sekalipun ketersediaan dana simpanan telah mencukupi.
Terdapat kecenderungan kuat untuk membatasi apresiasi diri atas hasil kerja keras akibat ketakutan irasional terhadap risiko yang belum terjadi.
Kondisi ini mencerminkan tekanan psikologis yang serupa dengan dilema para pekerja dalam menyeimbangkan urgensi kebutuhan saat ini dengan stabilitas jangka panjang.
Media sosial sering kali menciptakan standar semu tentang 'keamanan finansial' yang membuat kita merasa terus tertinggal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Www.unisa.edu.au