INDOZONE.ID - Sektor pengolahan minyak nabati memegang peranan krusial dalam menjaga stabilitas ketersediaan pangan di Indonesia.
M. Hadi Nainggolan, Ketua Bidang Pertanian sekaligus Ketua Satgas Pangan BPP HIPMI, menekankan bahwa ekosistem produksi ini merupakan pilar utama ketahanan pangan nasional.
Melalui integrasi dari tahap perkebunan hingga distribusi produk jadi, industri ini berperan penting dalam menjamin pasokan kebutuhan pokok bagi 280 juta penduduk di seluruh pelosok negeri.
Baca juga: Bukan Cuma Konsumsi dan Energi, Sawit Jadi Bahan Beragam Produk Esensial hingga Sektor Kecantikan
Tanaman kelapa sawit memiliki manfaat untuk menjadi bahan baku olahan pangan karena memiliki karakteristik harga kompetitif, produktivitas tinggi, pasokan stabil, dan aplikasi penggunaan sangat luas.
"Dari kelapa sawit kita menghasilkan berbagai macam produk turunan di bidang pangan. Banyak sekali produk pangan yang dihasilkan dari kelapa sawit," katanya di Jakarta, Sabtu (25/4/2026).
M Hadi Nainggolan menekankan bahwa luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang hampir mencapai 17 juta hektare perlu dipandang sebagai sumber kekuatan pangan nasional.
Komoditas kelapa sawit diketahui tidak mengenal pola musiman dengan volume produksi yang relatif konsisten dari bulan ke bulan serta dari tahun ke tahun.
Kondisi tersebut memberikan kepastian dan kenyamanan bagi para pengusaha yang menjadikan kelapa sawit sebagai bahan baku produksi.
"Saya sepakat bahwa kelapa sawit ini adalah tanaman unggulan dan andalan Indonesia yang harus dioptimalkan sebaik mungkin," tegasnya.
Pendiri HANN Corp mendorong pelaku usaha, terutama di lingkungan HIPMI, untuk memperkuat hilirisasi komoditas minyak nabati guna menghasilkan jenama turunan dengan nilai tambah yang lebih tinggi bagi publik.
Sejauh ini, bahan baku tersebut telah menjadi komponen utama dalam berbagai produk konsumsi harian, mulai dari minyak goreng dan margarin hingga bahan baku industri roti, cokelat, dan biskuit.
Optimalisasi jenama berbasis nabati ini diharapkan mampu memenuhi ekspektasi konsumen terhadap aspek kualitas, kestabilan tekstur, hingga kandungan nutrisi produk pangan.
"Saat ini hampir semua pengusaha sukses di HIPMI memiliki kebun kelapa sawit, tapi hanya sebatas menghasilkan TBS dan CPO. Kita masih perlu mendorong agar para pengusaha terjun ke sektor hilirisasi," ujarnya.
Peningkatan hilirisasi di sektor pangan memerlukan kerja sama erat antara pengusaha dan badan pengelola dana terkait.
Baca juga: Regulasi Uni Eropa Tekan Industri Sawit, Transparansi Rantai Pasok Jadi Penentu
Dukungan melalui program penguatan industri saat ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem pengolahan yang lebih modern dan kompetitif.
"Kami mengajak BPDP melompat lebih tinggi dengan menciptakan program inkubasi skala industri di program pangan," katanya.
Semakin banyak pengusaha yang menggeluti hilirisasi sawit di sektor pangan maka akan semakin besar dampak positif yang dihasilkan.
"Kita mendorong di HIPMI ada satu pengusaha di setiap provinsi terjun ke hilirisasi sawit sektor pangan. Harus ada pengusaha yang bisa mengolah kebun sawit menjadi produk-produk pangan seperti mentega hingga keju," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Conference