BKPM Tawarkan Insentif Pajak Hingga 200 Persen untuk Investasi Pelatihan Tenaga Kerja di WEF Davos
INDOZONE.ID - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menawarkan insentif pengurangan pajak hingga 200 persen, bagi pelaku usaha yang berinvestasi dalam pelatihan dan pendidikan tenaga kerja.
Kebijakan tersebut disampaikan Sekretaris Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Sekretaris Utama BKPM Rudy Salahuddin, dalam sesi panel diskusi Paviliun Indonesia pada ajang World Economic Forum (WEF) Davos, Swiss.
“Kami memberikan fasilitas pengurangan pajak hingga 200 persen bagi sektor swasta yang berinvestasi dalam pelatihan dan pendidikan tenaga kerja,” kata Rudy dalam pernyataan tertulis, Kamis (22/1/2026).
Dalam diskusi bertajuk “Crisis or Opportunity? Skills for a 2030 Workforce” yang berlangsung di Paviliun Indonesia WEF Davos 2026, Selasa (20/1), Rudy menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk membangun ekosistem talenta yang adaptif terhadap perubahan pasar kerja global, khususnya di tengah percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI).
Menurut Rudy, peran BKPM tidak hanya terbatas pada kerja sama dengan sektor swasta dalam penyediaan pelatihan dan pendidikan, tetapi juga mencakup penyesuaian kurikulum serta standar industri agar sejalan dengan kebutuhan dunia kerja.
Baca juga: BKPM Revisi Perizinan Berusaha untuk Capai Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
“Di Indonesia, kami bekerja sama dengan sektor swasta tidak hanya dalam penyediaan pelatihan dan pendidikan, tetapi juga dalam penyesuaian kurikulum dan standar industri agar selaras dengan kebutuhan pasar kerja,” ujarnya.
Forum panel diskusi di Paviliun Indonesia WEF Davos yang berlangsung pada 19–23 Januari 2026 tersebut menghadirkan perwakilan pemerintah, sektor pendidikan, serta komunitas global untuk membahas strategi menghadapi disrupsi teknologi dan perubahan struktur ketenagakerjaan.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa Indonesia memandang perkembangan AI sebagai peluang strategis, bukan ancaman bagi ketenagakerjaan.
Mengacu pada proyeksi World Economic Forum, Meutya menyebut meskipun sejumlah pekerjaan berpotensi tergantikan, peluang penciptaan lapangan kerja baru justru lebih besar.
“Indonesia memandang ini bukan sebagai krisis pekerjaan, tetapi sebagai peluang pekerjaan. Peluang untuk memanfaatkan individu dengan keterampilan, kemampuan beradaptasi, inovasi, dan kontribusi dalam dunia yang terus berubah,” kata Meutya.
Optimisme tersebut didukung agenda penguatan talenta digital nasional. Indonesia diproyeksikan membutuhkan sekitar sembilan juta talenta digital dalam 15 tahun ke depan.
Untuk itu, pemerintah menjalankan berbagai program berskala nasional, termasuk Kartu Prakerja serta transformasi pendidikan vokasi, guna menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.
Diskusi juga menyoroti pemanfaatan AI di sektor riil, seperti kesehatan dan layanan publik. President of the Center for Global Health and Development sekaligus Co-Chair Women’s Health and Economic Empowerment Network (WHEN) Joanne Manrique, menekankan bahwa peran manusia tetap krusial dalam aspek strategis.
“Kita menggunakan AI untuk tugas-tugas yang bersifat rutin, namun ketika menyangkut perancangan model kesehatan finansial dan diplomasi pembiayaan, peran manusia tetap tidak tergantikan,” ujar Joanne.
Sementara itu, Founder dan Chief Executive Officer AI Academy Asia Bolor-Erdene Battsengel menyoroti pentingnya literasi AI sejak dini, agar generasi muda memahami teknologi sebagai alat pendukung, bukan pengambil keputusan.
“Salah satu alasan kita perlu mengajarkan anak-anak tentang AI, khususnya bagaimana algoritma AI bekerja, adalah agar mereka memahami bahwa teknologi adalah alat, bukan pembuat keputusan hidup,” ujarnya.
Melalui partisipasi aktif di WEF Davos 2026, Indonesia menegaskan komitmennya memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui sinergi kebijakan, dunia usaha, dan pemanfaatan teknologi secara inklusif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA