INDOZONE.ID - Budidaya pertanian merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Namun, untuk menjadi petani yang sukses, diperlukan pengetahuan dan keterampilan yang memadai tentang cara budidaya pertanian yang benar.
Apalagi bagi petani muda yang masih perlu arahan bijak dalam bertani. Maka dari itu, para petani wajib mengetahui langkah-langkah budidaya pertanian yang benar di bawah ini.
1. Persiapan Lahan
Persiapan lahan merupakan langkah awal yang krusial dalam budidaya, karena menjadi dasar yang menentukan keberhasilan proses budidaya. Jika lahan tidak dipersiapkan dengan baik, maka risiko gagal panen akan meningkat secara signifikan.
Lahan yang sesuai untuk pertanian harus memiliki karakteristik tanah yang subur, sistem drainase yang baik, dan sumber air yang mencukupi. Selain itu, penting untuk melakukan riset riwayat penggunaan lahan.
Riwayat penggunaan lahan memberikan informasi penting tentang jenis tanaman sebelumnya, serangan hama, dan penyakit yang pernah terjadi, sehingga dapat membantu dalam pengambilan keputusan untuk rotasi tanaman dan perlakuan awal lahan.
2. Pemilihan Benih dan Bibit yang Berkualitas
Setelah lahan siap, fokus berikutnya adalah memilih benih dan bibit yang berkualitas, karena ini sangat mempengaruhi hasil produksi.
Untuk padi, varietas unggulan seperti TNC IPB06, TNC IPB02, IPB9G, dan IPB3G sangat disarankan karena adaptabilitas dan ketahanannya terhadap penyakit.
Untuk cabai, fokus utama adalah memilih benih yang tahan virus Gemini. Teknik persemaian juga sangat penting, dengan penelitian Amalia dan Ziaulhaq (2022) menunjukkan bahwa bibit biasanya dipindahkan ke lahan tanam setelah 14-20 hari setelah semai untuk memastikan kekuatan bibit.
3. Pemupukan yang Seimbang
Langkah selanjutnya adalah pemupukan yang seimbang. Pemupukan yang seimbang juga sangat penting, dengan nutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman pada setiap fase pertumbuhan.
Petani muda akan diarahkan untuk menggunakan kombinasi pupuk NPK, urea, pupuk kandang, dan agens hayati seperti Trichoderma spp. untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Menurut Manueke dan Pelealu (2017), agens hayati seperti Trichoderma spp. berfungsi sebagai biofungisida alami yang membantu mencegah infeksi jamur patogen pada akar dan meningkatkan kesehatan tanah secara keseluruhan.
4. Pengendalian Hama
Masalah hama dan penyakit kerap kali menjadi tantangan dalam budidaya, sehingga diperlukan strategi pengendalian terpadu sejak awal. Hama seperti wereng, ulat, dan tikus merupakan ancaman serius bagi tanaman padi, disertai penyakit seperti blas, hawar daun, dan kresek.
Guna mencegah serangan sejak dini, benih direndam dengan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) atau melalui perlakuan air panas (Hot Water Treatment) untuk menekan potensi serangan nematoda dan patogen lainnya yang terbawa sejak dari benih.
5. Panen dan Penanganan Pasca Panen
Tahapan terakhir budidaya adalah panen dan penanganan pasca panen, dengan waktu panen yang tepat ditentukan oleh umur tanaman dan tingkat kematangannya.
Penanganan pasca panen, termasuk pengeringan, penggilingan, penyimpanan, dan pengemasan, sangat mempengaruhi mutu dan nilai jual produk. Jika tidak ditangani dengan baik, hasil panen yang berkualitas bisa menurun dan menyebabkan kerugian ekonomi.
6. Metode yang Digunakan
Dalam penanaman padi, sistem tanam jajar legowo sering digunakan, dengan jarak antar tanaman yang diatur dalam perbandingan tertentu, seperti 1:4, untuk memberikan ruang tumbuh yang lebih luas bagi tanaman.
Manfaat utama dari metode ini adalah peningkatan efisiensi fotosintesis, perbaikan sirkulasi udara, serta menawarkan kemudahan dalam pemeliharaan dan pemupukan.
Jajar legowo telah teruji mampu meningkatkan hasil panen secara signifikan dibandingkan sistem tanam konvensional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Digitani.ipb.ac.id