Kamis, 03 JULI 2025 • 13:48 WIB

Memahami Pailit dari Kejatuhan Raksasa Del Monte

Author

Tomat kalengan Del Monte. (Reuters) (Reuters)

INDOZONE.ID - Siapa sangka, perusahaan gede dengan nama besar kayak Del Monte bisa juga ngajuin pailit. Padahal udah puluhan tahun jadi salah satu pemain utama di industri makanan dan minuman. 

Tapi ya gitu, dunia bisnis emang keras. Nama besar dan umur panjang ternyata nggak selalu jaminan bakal terus stabil.

Baru-baru ini, Del Monte resmi ngajuin permohonan pailit di Amerika Serikat. Konon, angka utang Del Monte udah nyampe di angka fantastis: 10 miliar dolar AS, atau sekitar Rp162 triliun. 

Angka segede itu jelas bikin orang mikir, kok bisa sih perusahaan sekelas mereka gagal bayar?

Nah, sebelum kita langsung nge-judge, mending pahami dulu apa itu kepailitan, kenapa bisa kejadian, dan gimana sih prosesnya kalau perusahaan sampai patah arang bayar utang?

Baca juga: Danantara dan Perusahaan Arab Saudi Jalin Kerja Sama untuk Pengembangan Energi Terbarukan

Jadi, Apa Itu Pailit?

Singkatnya, pailit itu kondisi di mana seseorang atau perusahaan nggak bisa bayar utang yang udah jatuh tempo. Kalau di dunia hukum, pailit itu bukan cuma soal “nggak punya duit”, tapi status resmi yang ditetapkan lewat pengadilan. Jadi bukan cuma sekadar “bangkrut” yang biasa kita sebut-sebut.

Begitu dinyatakan pailit, semua harta si debitor bakal disita, terus diatur sama yang namanya kurator, dan dibagiin ke kreditur. Jadi ada jalur hukumnya yang jelas.

Del Monte Ajukan Pailit: Utangnya Tembus Rp162 Triliun

Del Monte, yang udah lama dikenal lewat produk buah kaleng dan minuman olahan, akhirnya resmi ngajuin perlindungan pailit di Amerika Serikat. Mereka ngaku utangnya udah nyampe 10 miliar dolar AS. Kalau dirupiahin, ya kira-kira Rp162 triliun.

Terus, kok bisa? Ternyata banyak faktor yang nyeret mereka ke jurang pailit kayak konsumen sekarang lebih suka makanan segar, bukan yang kaleng-kalengan, biaya operasional dan logistik naik gila-gilaan sejak pandemi, suku bunga naik, utang makin berat bunganya.

Brand baru bermunculan, lebih modern dan digital banget. Singkatnya, bukan satu kesalahan besar. Tapi banyak masalah kecil yang numpuk, dan akhirnya meledak bareng.

Baca juga: Del Monte Resmi Ajukan Pailit, Punya Utang hingga Rp162 Triliun!

Kenapa Perusahaan Besar Bisa Gagal Bayar?

Mungkin banyak yang mikir, “Ah, perusahaan gede mah duitnya banyak.” Tapi faktanya nggak sesimpel itu. Skala makin gede, risikonya juga makin gede. Apalagi kalau gak hati-hati ngatur utang atau gak bisa cepat adaptasi sama perubahan pasar. 

Banyak alasan kenapa perusahaan besar bisa pailit kaya utangnya numpuk, biasanya buat ekspansi jika pemasukan drop otomatis minjem duit. Telat adaptasi karena pasar terus berubah. Tekanan eksternal dimulai dari inflasi sampai gangguan pasokan. Salah stratagi dari keputusan manajemen sendiri.

Baca juga: Perawatan Pribadi hingga Kopi Bubuk Jadi Penyumbang Terbesar Inflasi Juni 2025

Terus Gimana Proses Kepailitan Itu?

Kalau di Indonesia, proses kepailitan diatur dalam UU No. 37 Tahun 2004. Secara garis besar, ini tahapannya:

Ngajuin permohonan pailit ke Pengadilan Niaga bisa dari debitor, kreditur, atau otoritas tertentu dengan syaratnya harus punya minimal 2 kreditur dan ada utang yang udah jatuh tempo tapi belum dibayar. Kalau disetujui, pengadilan bakal nunjuk kurator dan hakim pengawas.

Kurator bakal data aset, verifikasi utang, terus ngatur pembagian ke kreditur. Prosesnya bisa makan waktu berbulan-bulan, bahkan bisa molor sampai tahunan tergantung seberapa rumit kasusnya.

Del Monte Nggak Sendirian

Yang kayak gini tuh bukan hal baru. Sebelum Del Monte, udah ada juga perusahaan-perusahaan besar yang kolaps gara-gara utang, kayak Lehman Brothers (2008), Toys “R” Us (2017), Kodak (2012).

Jadi, punya nama besar sekalipun tetap bisa tumbang. Dan dari kasus-kasus ini, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil yakni besar nggak berarti kebal dari risiko, perubahan tren itu nyata, dan harus diantisipasi, manajemen keuangan harus rapi, jangan asal ambil utang, dan reaksi cepat dan transparansi penting banget buat nyelametin bisnis.

Baca juga: Seskab Teddy Sebut BPI Danantara Diproyeksikan Terima Tambahan Dana Rp162 Triliun dari Perbankan Luar Negeri

Apakah Pailit Itu Akhir Segalanya?

Nggak selalu. Justru buat sebagian perusahaan, pailit jadi titik balik. Mereka manfaatin proses pailit buat beresin utang, rombak strategi, dan cari jalan baru buat bangkit.

Tapi tetep, proses pailit itu nggak ringan. Bisa berdampak ke banyak pihak kayak karyawan, supplier, investor, sampai konsumen. Belum lagi urusan reputasi yang bisa anjlok.

Kisah Del Monte jadi pengingat bahwa nggak ada perusahaan yang benar-benar aman dari krisis. Sekarang ini dunia bisnis berubah cepet banget makanya penting buat bisa cepat adaptasi, jaga alur keuangan, dan ambil keputusan yang nggak asal.

Pailit bukan aib, tapi juga bukan pilihan yang enteng. Ini jalan terakhir pas semua opsi lain udah buntu. Jadi, buat para pelaku usaha, jangan nunggu krisis dulu baru berbenah. Bangun sistem bisnis yang tahan banting sejak awal, dan belajar dari kegagalan orang lain sebelum ngalamin sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Businessmirror.com.ph

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU