Rabu, 22 JULI 2026 • 16:05 WIB

Kisah Pasutri Bangun Toko Oleh-Oleh Khas Kalimantan, dari Jualan Ikan Asin hingga Jadi Pusat Buah Tangan Modern

Author

Pemilik toko oleh-oleh khas Kalimantan, Mama khas Banjar. (Foto: Dewi Kania/Z Creators)

INDOZONE.ID - Salah satu toko oleh-oleh khas Kalimantan, Mama khas Banjar, sudah cukup populer bagi warga lokal maupun wisatawan. 

Toko ini menjual aneka oleh-oleh dan ikan asin khas Banjarmasin yang lengkap, berlokasi di Banjar Baru, Kalimantan Selatan.

Pemilik Usaha Mama Khas Banjar, Firli Norachim dan Ani Andriani, membagikan kisah sukses bisnisnya yang sudah mereka bangun sejak 6 tahun lalu. 

Pasangan suami istri ini mengaku sering menghadapi banyak tantangan ketika membesarkan bisnis UMKM di tengah pandemi Covid-19.

Baca juga: Intip Kisah Sukses Istri Sopir Taksi Bangun Bisnis Kuliner Rumahan untuk Bantu Ekonomi Keluarga

Mereka juga mengungkap cara untuk mempertahankan bisnis di masa ekonomi yang cukup sulit sekarang. Berawal dari usaha rumahan, Firli sejak dulu memaksimalkan bisnisnya dengan sistem digitalisasi, berjualan di marketplace, serta pembayaran cashless.

Awal Mula Usaha

Di sebuah rumah kontrakan, pertama kalinya Firli sengaja memanfaatkan hasil laut nelayan pesisir Kotabaru dan Pelaihari. Mulanya ia dan istri ingin mengangkat potensi kuliner lokal Kalimantan Selatan ke tingkat nasional. 

Bahkan nama usahanya itu membawa filosofi mendalam, yakni ada cinta di setiap olahan mama, sebuah representasi kehangatan masakan rumah dan kampung halaman.

Ketika itu, Firli harus merelakan tabungan emasnya senilai Rp5 juta sebagai modal awal. Padahal Firli masih menjadi menjadi karyawan aktif di bidang farmasi, sementara istrinya bekerja di industri kosmetik.

Baca juga: Menteri PPPA dan Kepala BPS Apresiasi Pemberdayaan PNM untuk Usaha Ekonomi Sirkular

Sambil bekerja, mereka membagi waktu untuk mengemas ikan asin dan mengurus pesanan. Walau tenaganya terbatas, pasutri ini ingin tetap mendapat cuan tambahan ketika pandemi tiba. 

“Dulu, modal, tenaga, dan waktu kami sangat terbatas. Namun, keterbatasan itu bukan alasan untuk berhenti,” ungkap Firli saat diwawancarai, baru-baru ini.

Karena konsisten dan tekun, usaha ikan asin yang awalnya hanya mengelola 20 kilogram per bulan, sekarang pesanan melonjak tajam menjadi 1–2 ton per bulan. 

Pertumbuhan ini juga mendorong Firli untuk berinovasi dalam mengembangkan produk. Ia coba-coba menjual abon ikan yang ternyata laris.

Baca juga: Bersama PNM, Ainun Ubah Cara Pandang Warga Kampung Tentang Perempuan

Pada awalnya, mereka hanya memproduksi abon ikan sebanyak 5 kilogram bahan baku. Tapi kini penjualan abon ikan itu terus meningkat karena tingginya permintaan.

Secara bertahap, tempat usahanya ikut bertransformasi. Terlebih ia mendapat modal dari GrabModal Mantul by OVO Finansial. 

Dengan adanya tambahan modal, ia bisa memperluas rumah kontrakan, menyewa ruko satu pintu, hingga kini sukses mengoperasikan 2 outlet resmi dan punya 17 karyawan. 

“Bahkan saya bisa menambah stok dan tentu penjualan bisa meningkat. Pada akhirnya usaha juga bisa terus berkembang. Ditambah lagi, skema pemotongan harian sangat membantu,” kata Firli.

Baca juga: Ibu-ibu PNM Mekaar Jadi Wajah Perempuan Berdaya dalam Sensus Ekonomi 2026

Alhasil, toko miliknya sekarang sudah menjadi pusat oleh-oleh modern. Banyak aneka buah tangan khas Banjar, mulai dari abon, amplang, sambal, sirup lokal, dodol, hingga frozen food.

Merambah ke Marketplace dan Cashless

Tiga tahun kemudian, Firli dan sang istri mulai fokus mengembangkan penjualan online melalui GrabMart, untuk menjangkau pelanggan hingga ke luar Kalimantan.

Firli sengaja membesarkan bisnisnya lewat marketplace, karena tak disangka permintaan oleh-oleh khas Kalimantan dari pelanggannya di luar kota sangat banyak. Sebagai pelaku UMKM, ia harus berani berinovasi. 

“Kami masuk ke marketplace, menambah katalog, dan mengikuti tren lain. Ternyata pelanggan suka karena bisa memesan lewat aplikasi dan barang langsung diantar,” jelas Firli. 

Baca juga: Jangan Takut Kalah Saing! Ini 5 Strategi Jitu Biar Bisnis UMKM Kamu Makin Unggul dan Cuan Maksimal

Menurutnya, digitalisasi ini sangat membantu memperluas jangkauan, meningkatkan visibilitas usaha, hingga memudahkan pengelolaan operasional berbasis data. 

Di saat yang sama, Firli juga mulai menggunakan sistem pembayaran yang fleksibel dan mengintegrasikan pembayaran digital QRIS OVO. 

Firli merasa proses transaksi jadi lebih praktis, bisa menghindari antrean panjang, serta tak khawatir dengan scam. Karena setiap transaksi yang masuk langsung muncul notifikasi secara real-time.

Selain itu, cara ini juga mempermudah wisatawan maupun warga lokal yang terbiasa dengan gaya hidup cashless. Ditambah lagi tokonya sekarang menjual aneka oleh-oleh Kalimantan yang lengkap dan pasti memudahkan. 

Baca juga: Daftar Legalitas Usaha yang Harus Dimiliki Pelaku UMKM, Apa Saja?

Tak berhenti di situ, Firli mengaku akan terus mengikuti tren teknologi lainnya untuk mengembangkan bisnisnya. Salah satunya ia juga mulai memanfaatkan AI untuk melihat peluang baru usaha dan ekosistem pasar UMKM lokal yang semakin naik kelas. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU