Kamis, 21 MEI 2026 • 09:40 WIB

Kakao Lokal Dinilai Punya Peluang Besar di Industri Kreatif dan UMKM

Author

Membuat minuman cokelat dari bubuk kakao. (Istimewa)

INDOZONE.ID - Cokelat menjadi salah satu makanan dan minuman favorit yang disukai berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. 

Rasanya yang manis dengan aroma khas membuat cokelat kerap diolah menjadi beragam produk, seperti minuman, camilan, hingga dessert kekinian yang banyak diminati masyarakat.

Sejalan dengan hal itu, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar workshop bertema "Roemah Kreasi – Nyokelat di Roemah" Jakarta, pada Selasa (19/5/2026). 

Program ini merupakan bagian dari pelaksanaan mandat BPDP sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 132 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Dana Perkebunan. 

Baca juga: Bukan Cuma Konsumsi dan Energi, Sawit Jadi Bahan Beragam Produk Esensial hingga Sektor Kecantikan

Dalam regulasi tersebut, dana perkebunan digunakan untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia perkebunan, penelitian dan pengembangan, promosi perkebunan, peremajaan perkebunan, serta sarana dan prasarana perkebunan.

Dalam beberapa waktu terakhir, upaya pengembangan komoditas perkebunan dinilai semakin penting, termasuk pada sektor kakao dan kelapa yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan bernilai tambah. 

Perwakilan BPDP, Helmi Muhansyah, menjelaskan bahwa perhatian terhadap sektor perkebunan tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan komoditas, tetapi juga mencakup pengembangan kualitas sumber daya manusia serta dukungan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah agar mampu berkembang lebih luas.

"Putra-putri Bapak Ibu yang sudah lulus SMA punya kesempatan kuliah melalui program beasiswa sawit. Semua biaya ditanggung, termasuk uang saku bulanan ," ujar Helmi.

Menurutnya, penerima beasiswa bukan hanya dari keluarga pemilik kebun sawit, tetapi juga dapat berasal dari keluarga pekerja di sektor sawit seperti sopir perusahaan maupun profesi lain yang berkaitan dengan industri sawit.

Selain program beasiswa, BPDP juga terus mendorong pertumbuhan UMKM berbasis komoditas perkebunan guna meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang usaha baru.

"Silakan manfaatkan kesempatan ini untuk membangun jejaring dan melihat apa yang bisa disupport oleh BPDP untuk pengembangan UMKM,” katanya.

"Mudah-mudahan dari teman-teman mahasiswa ini nantinya ada yang menjadi pengusaha berbasis kakao, kelapa, atau sawit,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memahami perjalanan kakao Indonesia, mulai dari potensi komoditasnya hingga praktik langsung meracik minuman berbahan dasar cokelat.

Salah satu pelaku usaha cokelat lokal yang hadir dalam acara tersebut, Nugroho Surosoputra, mengungkapkan bahwa usaha yang ia jalankan lahir dari ketertarikannya melihat besarnya potensi kakao Indonesia yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif dan bernilai tambah.

"Kami benar-benar jatuh cinta dengan cokelat Indonesia dan kakao Indonesia. Awalnya kami fokus membuat produk, lalu berkembang mempelajari kakao dari hulunya," ujarnya.

Ia menuturkan Indonesia pernah menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia dan hingga kini masih menjadi produsen terbesar di Asia. 

Namun demikian, citra cokelat premium selama ini justru lebih melekat pada negara-negara Eropa yang tidak memiliki produksi kakao sebesar Indonesia.

"Kalau ke luar negeri oleh-olehnya selalu cokelat. Padahal Swiss tidak punya banyak tanaman kakao,” jelasnya.

Sejarah Kakao

Dalam sesi edukasi, Nugroho menjelaskan sejarah kakao yang berasal dari tanaman Theobroma cacao yang berarti “food of god” atau makanan para dewa.

Ia juga memaparkan perbedaan istilah kakao, kokoa, dan cokelat, serta memperkenalkan tiga varietas utama kakao yakni criollo, forastero, dan trinitario.

Menurutnya, varietas criollo atau yang dikenal sebagai Java Criollo merupakan kakao premium dengan kualitas tinggi dan jumlah yang sangat terbatas.

"Criollo ini paling aromatik, paling wangi, dan kualitasnya paling tinggi," ungkapnya.

Nugroho menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan fine flavor cocoa melalui pengolahan pascapanen yang baik, terutama fermentasi dan pengeringan.

“Kelebihan Indonesia adalah kita punya varietas kakao yang jika diolah dengan baik bisa menjadi fine flavor cocoa,” lanjutnya.

Dua menu minuman yang diperkenalkan dalam workshop tersebut, yakni Earl Grey Criollo Chocolate, Pistachio Criollo Chocolate, dan Granola. 

Pada menu pertama, peserta diperkenalkan pada kombinasi teh Earl Grey dengan cokelat criollo yang memiliki karakter rasa kuat.

"Perpaduannya menenangkan, karena ada rasa cokelat dan teh sekaligus. Bisa jadi menu menarik untuk usaha minuman,” ujar Shana.

Baca juga: Dorong Ekonomi Hijau, BPDLH Gulirkan Dana untuk Petani Kakao dan Kopi di Berbagai Daerah

Sementara pada sesi berikutnya, peserta diajak membuat Pistachio Criollo Chocolate yang terinspirasi dari tren Dubai chocolate dan pistachio yang tengah populer.

"Es batu penuh itu penting supaya layer minumannya bisa terbentuk,” jelas Shana.

“Karena memang butuh teknik khusus dan detail dalam penyajiannya,” tambahnya.

Melalui kegiatan tersebut, BPDP berharap masyarakat semakin memahami potensi komoditas kakao Indonesia, mengenal produk UMKM berbasis perkebunan, serta terus termotivasi untuk mengembangkan inovasi dan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan nasional.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Conference

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU