INDOZONE.ID - Transformasi digital telah mencakup sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Bojonegoro, khususnya melalui adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dari Bank BRI. Dengan dukungan pelatihan dan literasi, kini banyak pelaku UMKM mulai menggunakan QRIS untuk melakukan transaksi non-tunai yang lebih cepat, aman, dan efisien.
Keuntungan Praktis bagi Pelaku UMKM
Penggunaan QRIS BRI banyak dipilih karena alasan efisiensi dan keamanan. Seorang pedagang kaki lima di Bojonegoro menyatakan bahwa penggunaan QRIS sangat membantu, terutama untuk menghindari risiko uang palsu dan ketidakakuratan dalam memberikan kembalian. Sebagai contoh, pedagang kue di Pasar Wisata Bojonegoro tidak lagi perlu menyetor tunai ke ATM karena pembayarannya langsung diterima lewat transfer QRIS yang tercatat rapi dalam sistem.
Dalam sejumlah event seperti Bazar Ramadan, banyak pelaku usaha menyelenggarakan transaksi digital dengan QRIS BRI. Sumarni, perajut asal Kalitidu, mengaku bahwa sistem ini mengurangi kesalahan dalam transaksi dan meningkatkan kepercayaan pembeli.
Baca juga: Jalan-Jalan ke 5 Negara ini, Bisa Bayar Pake QRIS!
Dampak Positif terhadap Keuangan dan Akses Pembiayaan
Selain memudahkan transaksi, penggunaan QRIS juga memperbaiki pencatatan keuangan bagi UMKM. Transaksi tercatat otomatis dan transparan, memudahkan pelaporan serta mempersiapkan pelaku usaha untuk mengakses pembiayaan kredit atau pinjaman usaha dari institusi keuangan. Kelebihan ini membuka peluang bagi UMKM di Bojonegoro yang sebelumnya sulit mengakses modal karena kurangnya jejak keuangan yang terstruktur.
Upaya Literasi dan Pelatihan QRIS
Pemkab Bojonegoro bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperkuat literasi digital UMKM. Pada Juli 2024, melalui program “Literasi Finansial Digital: QRIS dan Aplikasi Keuangan”, pelaku UMKM dibimbing dalam pemanfaatan QRIS dan aplikasi pengelolaan arus kas. Selain itu, Smartfren bersama instansi lokal mengadakan pelatihan literasi digital di Bojonegoro untuk meningkatkan pemanfaatan internet dan media sosial dalam pemasaran produk.
Forum IKM Bojonegoro juga berperan besar dalam pendampingan UMKM. Penelitian pada awal 2025 menunjukkan bahwa pelaku usaha anggota forum semakin aktif menggunakan platform seperti WhatsApp Business untuk meningkatkan visibilitas produk mereka. Namun, masih ditemukan kendala berupa terbatasnya pemahaman terhadap pemasaran digital secara efektif. Oleh karena itu, pendampingan berkala menjadi rekomendasi utama untuk meningkatkan kapasitas digital UMKM.
Tidak hanya itu, UNUGIRI bersama Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga mengadakan pelatihan digitalisasi untuk memperkuat pemasaran produk fisik maupun produk digital lewat WhatsApp Business, terutama bagi UMKM di Desa Srana, sebagai langkah mendongkrak nilai tambah penjualan.
Baca juga: QRIS Bikin Hidup Makin Simpel: Cukup Scan, Bayar, Beres!
Tantangan yang Masih Dihadapi
Walaupun tren penggunaan QRIS semakin meningkat, masih terdapat tantangan signifikan. Beberapa UMKM belum mengikuti pelatihan digital karena kesibukan atau keterbatasan akses internet, terutama di wilayah pinggiran. Infrastruktur internet yang belum merata juga menjadi hambatan utama dalam digitalisasi penuh UMKM di seluruh Bojonegoro.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan