Pemilik toko oleh-oleh khas Kalimantan, Mama khas Banjar. (Foto: Dewi Kania/Z Creators)
INDOZONE.ID - Salah satu toko oleh-oleh khas Kalimantan, Mama khas Banjar, sudah cukup populer bagi warga lokal maupun wisatawan.
Toko ini menjual aneka oleh-oleh dan ikan asin khas Banjarmasin yang lengkap, berlokasi di Banjar Baru, Kalimantan Selatan.
Pemilik Usaha Mama Khas Banjar, Firli Norachim dan Ani Andriani, membagikan kisah sukses bisnisnya yang sudah mereka bangun sejak 6 tahun lalu.
Pasangan suami istri ini mengaku sering menghadapi banyak tantangan ketika membesarkan bisnis UMKM di tengah pandemi Covid-19.
Baca juga: Intip Kisah Sukses Istri Sopir Taksi Bangun Bisnis Kuliner Rumahan untuk Bantu Ekonomi Keluarga
Mereka juga mengungkap cara untuk mempertahankan bisnis di masa ekonomi yang cukup sulit sekarang. Berawal dari usaha rumahan, Firli sejak dulu memaksimalkan bisnisnya dengan sistem digitalisasi, berjualan di marketplace, serta pembayaran cashless.
Di sebuah rumah kontrakan, pertama kalinya Firli sengaja memanfaatkan hasil laut nelayan pesisir Kotabaru dan Pelaihari. Mulanya ia dan istri ingin mengangkat potensi kuliner lokal Kalimantan Selatan ke tingkat nasional.
Bahkan nama usahanya itu membawa filosofi mendalam, yakni ada cinta di setiap olahan mama, sebuah representasi kehangatan masakan rumah dan kampung halaman.
Ketika itu, Firli harus merelakan tabungan emasnya senilai Rp5 juta sebagai modal awal. Padahal Firli masih menjadi menjadi karyawan aktif di bidang farmasi, sementara istrinya bekerja di industri kosmetik.
Baca juga: Menteri PPPA dan Kepala BPS Apresiasi Pemberdayaan PNM untuk Usaha Ekonomi Sirkular
Sambil bekerja, mereka membagi waktu untuk mengemas ikan asin dan mengurus pesanan. Walau tenaganya terbatas, pasutri ini ingin tetap mendapat cuan tambahan ketika pandemi tiba.
“Dulu, modal, tenaga, dan waktu kami sangat terbatas. Namun, keterbatasan itu bukan alasan untuk berhenti,” ungkap Firli saat diwawancarai, baru-baru ini.
Karena konsisten dan tekun, usaha ikan asin yang awalnya hanya mengelola 20 kilogram per bulan, sekarang pesanan melonjak tajam menjadi 1–2 ton per bulan.
Pertumbuhan ini juga mendorong Firli untuk berinovasi dalam mengembangkan produk. Ia coba-coba menjual abon ikan yang ternyata laris.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan