Kamis, 16 JULI 2026 • 10:18 WIB

Hadapi Dunia Kerja Baru, Menaker Yassierli Usul BRICS Petakan Skill Masa Depan

Author

Menaker Yassierli dalam Pertemuan Menteri Ketenagakerjaan BRICS (BRICS Labour and Employment Ministers' Meeting/LEMM) 2026 di Hyderabad, India, Rabu 15 Juli 2026. (Pers rilis)

INDOZONE.ID – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menilai pemetaan kebutuhan keterampilan tenaga kerja di masa depan, amatlah penting. Tak ayal, ia mengusulkan negara-negara BRICS memperkuat pemetaan tersebut.

Pemetaan ini akan jadi dasar dari penyusunan kebijakan ketenagakerjaan dan pelatihan yang lebih adaptif terhadap perubahan dunia kerja.

Menaker Yassierli dalam Pertemuan Menteri Ketenagakerjaan BRICS (BRICS Labour and Employment Ministers' Meeting/LEMM) 2026 di Hyderabad, India, Rabu 15 Juli 2026. (Pers rilis)

Menaker Yassierli menyampaikan usulan tersebut dalam Pertemuan Menteri Ketenagakerjaan BRICS (_BRICS Labour and Employment Ministers' Meeting/LEMM_) 2026 di Hyderabad, India, Rabu 15 Juli 2026

Yassierli menilai proyeksi kebutuhan keterampilan masa depan (_future skills forecasting_) sebagai salah satu fokus kerja sama dalam BRICS CONNECT.

Menurutnya, penerapan usulan tersebut akan membantu negara-negara BRICS mengantisipasi perubahan kebutuhan tenaga kerja karena perkembangan teknologi, transformasi industri, perubahan demografi, dan transisi menuju ekonomi hijau.

"Dalam BRICS CONNECT, Indonesia melihat pentingnya memperkuat pemahaman bersama mengenai kebutuhan ketenagakerjaan dan keterampilan di masa depan. Karena itu, Indonesia mengusulkan agar _future skills forecasting_ menjadi salah satu fokus kerja sama dalam BRICS CONNECT," kata Menaker Yassierli, dikutip Kamis (16/7/2026).

Baca juga: Menaker Hadiri Forum BRICS, Bahas Jaminan Sosial hingga Skill Pekerja

Dengan melakukan pemetaan keterampilan, Menaker menyebut negara-negara BRICS akan memahami perubahan kebutuhan pasar kerja, mengidentifikasi keterampilan yang diperlukan, serta menyelaraskan kebijakan pelatihan dengan kebutuhan dunia kerja.

Pengalaman Indonesia Perkuat Ketahanan Pasar Kerja

Tak cuma menyampaikan usulan, Menaker pun berbagi pengalaman Indonesia dalam memperkuat ketahanan pasar kerja.

Ia menjelaskan, bahwa Indonesia memperluas akses pelatihan dan jaminan sosial bagi pekerja informal, pembentukan Satuan Tugas PHK, penguatan Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP), serta perluasan kesempatan kerja bagi perempuan, penyandang disabilitas, dan masyarakat di wilayah terpencil, untuk memperkuat ketahanan pasar kerja.

Tak cuma rencana, pemerintah melakukan langkah konkret pada tahun ini dengan membangun pusat pelatihan vokasi dan layanan ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas. 

Kamu harus tahu, pusat pelatihan dan layanan itu dilengkapi teknologi asistif dan contoh penataan tempat kerja yang lebih inklusif.

"Indonesia memandang BRICS sebagai platform strategis untuk memperkuat south-south cooperation, saling belajar, dan menghadirkan solusi nyata yang memberikan manfaat bagi pekerja, dunia usaha, dan masyarakat. Karena itu, Indonesia hadir di BRICS untuk berbagi pengalaman sekaligus belajar dari negara-negara anggota lainnya," ujar Menaker.

Tak berhenti di sana, pemerintah memperkuat transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja. Caranya adalah dengan mengadakan Program Pemagangan Nasional yang menargetkan 150 ribu peserta dan Program Pelatihan Vokasi Nasional dengan target 300 ribu peserta tahun ini.

Ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

Pemerintah pun memposisikan berbagai program prioritas nasional, seperti Program Makan Bergizi Gratis, Kampung Nelayan Modern, dan hilirisasi komoditas strategis sebagai penggerak penciptaan lapangan kerja. 

Baca juga: Menaker Soroti Tantangan Ketenagakerjaan, Serikat Pekerja Didorong Tingkatkan Future Skills

Keterhubungan pelatihan vokasi dan kebutuhan industri, turut menopang keberhasilan program-program tersebut.

Lalu, untuk memperkuat sistem informasi pasar kerja terintegrasi secara digital, pemerintah memiliki satu platform layanan ketenagakerjaan. Platform itu akan menghubungkan pencari kerja dan pemberi pekerjaan.

Canggihnya, sistem tersebut didukung analisis pasar kerja dan _policy dashboard_ untuk mendukung pengambilan kebijakan yang lebih cepat dan tepat.

"Indonesia siap bekerja sama dengan seluruh negara anggota BRICS untuk membangun dunia kerja yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Kami siap berbagi dan siap belajar," tutup Menaker.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kemnaker

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU