Sabtu, 13 JUNI 2026 • 11:11 WIB

Kenaikan Harga Pertamax Berkaitan Investasi Investor, Begini Penjelasanya

Author

Ilustrasi kenaikan BBM non subsidi Pertamax (ANTARA FOTO/Andri Saputra)

INDOZONE.ID - Kenaikan harga BBM non subsidi seperti Pertamax dinilai berkaitan dengan para investor yang berinvestasi di Pertamina. Jika tidak dinaikkan, efeknya dinilai akan mengganggu kepercayaan para investor tersebut.

Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono menyebut kenaikan harga BBM jenis tersebut saat ini memang sudah sulit untuk dihindari. Pasalnya, Pertamina ternyata sudah menahan kenaikan harga beberapa bulan ke belakang.

"Akhirnya setelah beberapa waktu ditahan, BBM nonsubsidi tidak bisa lagi ditahan sehingga dilepas mengikuti mekanisme pasar. Karena itu kenaikan yang sekarang terjadi cukup tinggi. Mau tidak mau Pertamax harus naik,” kata Hendry, Sabtu (13/6/2026).

Baca juga: Reaksi Emak-Emak hingga Karyawan Imbas BBM Naik: Khawatir Lonjakan Pasar Ikut Naik!

Selama ini, menurutnya Pertamina menggunakan dana talangan perusahaan untuk menahan harga Pertamax tetap di bawah harga keekonomian. 

Namun, dana talangan Pertamina pada dasarnya merupakan instrumen sementara untuk meredam lonjakan harga agar tidak langsung dirasakan masyarakat.

Di saat kurs rupiah dan harga minyak terus bergerak naik, ruang untuk mempertahankan kebijakan tersebut semakin sempit.

"Dana talangan Pertamina ini juga terbatas. Karena Pertamax ini kan BBM non subsidi. Tidak ada subsidi APBN di dalamnya. Jadi memang murni mengikuti harga pasar," ungkap Hendry.

Memasuki persoalan investor, diungkapnya jika Pertamina terus menanggung selisih harga tanpa penyesuaian atau kenaikan harga, kondisi tersebut akan menggerus keuntungan perusahaan. 

Dampaknya bukan hanya terhadap setoran dividen dan kontribusi perusahaan kepada negara, tetapi juga terhadap persepsi investor dan lembaga pemeringkat terhadap kinerja keuangan Pertamina.

"Investor melihat rasio keuntungan dan kinerja keuangan. Kalau terus merugi, siapa yang mau berinvestasi?" katanya.

Untuk itu, dia menilai kenaikan harga pertamax saat ini merupakan langkah yang strategis. Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyaki menyinggung berkaitan dengan pelemahan rupiah.

Kondisi tersebut membuat biaya penyediaan energi nasional ikut meningkat karena formula harga BBM sangat bergantung pada harga minyak dunia dan kurs rupiah.

“Karena kalau menggunakan rumus dalam Kepmen ESDM Nomor 19 Tahun 2019, acuan harganya menggunakan MOPS (harga rata-rata transaksi produk BBM di pasar Singapura). Di situ sangat tergantung terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar,” kata Yayan.

Baca juga: Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Jepara, Truk Bawa Belasan QR Code dan Pelat Palsu

Berdasarkan perhitungannya menggunakan formula yang mengacu pada MOPS Singapura dan nilai tukar rupiah, dia menyebut harga keekonomian pertamax saat ini berada pada kisaran Rp14.150 hingga Rp16.650 per liter. 

Oleh karenanya, harga baru Pertamax yang ditetapkan pemerintah masih berada dalam rentang perhitungan tersebut.

"Pemerintah menetapkan di sekitar Rp16.250. Jadi memang kalau menggunakan rumus Kepmen ESDM tadi, harganya memang kurang lebih di situ," ujarnya.

Kembali membahas investor, menurutnya langkah mempertahankan harga Pertamax jauh di bawah harga keekonomian justru berpotensi memperkecil penerimaan negara dari Pertamina. 

Di sisi lain, kemampuan Pertamina untuk terus menanggung selisih harga juga memiliki batas karena perusahaan tetap harus mempertimbangkan kesehatan keuangannya agar menjaga kepercayaan investor.

“Kalau investor melihat kondisi keuangan Pertamina memburuk, tentu minat investasi di sektor migas Indonesia juga akan ikut turun," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU