Senin, 13 APRIL 2026 • 15:00 WIB

Harga Kripto Turun Lebih dari 20%? Lakukan 5 Strategi untuk Hadapi Bear Market

Author

Ilustrasi mata uang kripto yang diambil pada 24 Januari 2022. (REUTERS/Dado Ruvic)

INDOZONE.ID - Saat harga kripto turun lebih dari 20 persen, tak sedikit investor baru langsung panik dan menjual seluruh aset mereka. Kondisi ini sering terjadi saat momen bear market.

Tak jarang, pelaku kripto terburu-buru melepas aset karena dilanda kepanikan dan takut rugi. Padahal, langkah ini dinilai kurang tepat dan membutuhkan strategi khusus.

Apa Itu Bear Market?

Bear market adalah fase penurunan harga yang tak terhindarkan dalam siklus pasar kripto. Momen ini bisa datang kapan saja alias sulit diprediksi.

Secara umum, bear market terjadi setelah aset mencetak ATH (all-time high), yang kemudian diikuti koreksi pasar akibat reli panjang. Tekanan jual juga diperkuat oleh faktor lain, seperti kondisi makroekonomi, kebijakan moneter, atau ketegangan geopolitik.

Fase ini juga bisa berlangsung cukup lama, biasanya berbulan-bulan, bahkan lebih dari setahun, dan disertai sentimen negatif yang meluas.

Baca juga: Indikator Memburuk, Tether dan Token USDT Berpotensi Ancam Dunia Kripto serta Pasar Keuangan Tradisonal

Strategi Menghadapi Bear Market

Ketika bear market terjadi, harga aset akan turun signifikan. Kamu perlu mengatur strategi agar tidak merugi. Berikut lima caranya, dikutip dari Pintu Academy:

1. Sabar dalam menentukan aset dan target harga beli

Banyak investor melihat bear market sebagai fase untuk mengakumulasi aset yang undervalued. Kamu bisa membuat watchlist aset dengan fundamental yang kuat, baik saat pasar turun maupun dalam fase stabil.

Perhatikan juga bagaimana pergerakan harga merespons penurunan Bitcoin. Aset yang mampu bertahan lebih baik biasanya menjadi kandidat akumulasi yang menarik.

Selanjutnya, tetapkan target harga beli berdasarkan analisis, misalnya dengan mengidentifikasi area support historis sebagai zona pembelian.

2. Proteksi modal

Prioritas utama saat bear market adalah menjaga modal agar tidak tergerus. Hindari keputusan yang didorong asumsi bahwa harga saat ini adalah titik terendah, lalu mengalokasikan seluruh dana dalam satu transaksi.

Strategi yang terbukti efektif adalah Dollar-Cost Averaging (DCA), yaitu membeli aset secara rutin dalam jumlah tetap, tanpa terpengaruh harga pasar.

3. Fokus pada fundamental aset

Bear market sering mengungkap kelemahan proyek kripto yang tidak memiliki fundamental kuat. Banyak token yang terlihat menjanjikan saat bull market ternyata hanya didorong sentimen dan spekulasi.

Karena itu, fase ini menjadi ajang seleksi, baik bagi investor maupun proyek kripto itu sendiri.

Baca juga: Indonesia Crypto Exchange Resmi Diluncurkan, Perkuat Infrastruktur Aset Kripto Indonesia

4. Pertajam skill dan analisis

Jika bull market adalah fase panen, maka bear market adalah waktu yang tepat untuk belajar. Kondisi ini memberi ruang untuk memperdalam pemahaman tanpa tekanan euforia pasar.

Investor yang siap secara analisis biasanya mampu mengambil keputusan lebih rasional dan disiplin saat siklus berikutnya datang.

5. Short selling

Di tengah tren penurunan, kamu tetap bisa mencari peluang cuan melalui strategi short selling. Cara ini melibatkan pembukaan posisi jual pada kontrak futures, biasanya dengan bantuan leverage.

Strategi ini cukup populer di perdagangan derivatif kripto, namun tetap perlu dilakukan dengan manajemen risiko yang matang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pintu Academy

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU