Ilustrasi mata uang kripto. (REUTERS/Dado Ruvic)
INDOZONE.ID - Di dunia mata uang kripto, nama Tether dan token USDT-nya bagaikan raksasa yang tak tergoyahkan.
Dengan nilai pasar mencapai $184 miliar, USDT mendominasi perdagangan global untuk mata uang digital yang dipatok ke dolar AS.
Namun, di balik dominasinya, sebuah analisis dari Reuters Breakingviews mengungkap fondasi yang semakin rapuh dan berisiko, tidak hanya bagi dunia kripto, tapi juga bagi pasar keuangan tradisional.
Tether telah membuktikan diri sebagai pemain yang tangguh.
Baca juga: Bareskrim Sita 3 Kantor Berkaitan dengan PT DSI, Lokasi di Sudirman Jakarta
Perusahaan ini selamat dari berbagai rentetan peristiwa, mulai dari hantaman regulasi, kejatuhan harga kripto, kejahatan siber, hingga runtuhnya rivalnya pada 2022.
Namun, laporan terbaru justru menunjukkan tanda-tanda bahaya.
Indikator kunci kesehatan keuangan Tether, yaitu penyangga ekuitas (equity cushion), justru menipis.
Penyangga ini adalah kelebihan nilai aset cadangan dibandingkan nilai token USDT yang beredar, berfungsi seperti modal bank untuk menyerap guncangan.
Pada akhir 2025, penyangga ini turun dari $7,1 miliar menjadi sekitar $6,3 miliar.
Baca juga: Mengenal RDN, Simak Fungsi dan Keamanannya dalam Investasi Saham
· Sebagai persentase dari aset, ekuitas ini hanya 3,3% pada Desember 2025, turun drastis dari 5,6% di akhir 2023.
Artinya, jika nilai aset cadangan Tether turun lebih dari 3,3%, mereka tidak akan memiliki cukup cadangan untuk menebus semua token USDT dengan nilai $1.
Situasi ini diperparah dengan perubahan komposisi aset cadangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters