INDOZONE.ID - Kelangkaan tabung gas LPG mulai dirasakan warga di permukiman Delhi. Sejumlah pekerja migran mengaku kesulitan mendapatkan pasokan gas untuk kebutuhan memasak dalam beberapa pekan terakhir.
Dua warga, Shakuntala Devi dan Shakiba Bibi, menyebut sudah berkeliling dari satu toko ke toko lain selama tiga pekan, namun belum berhasil mendapatkan tabung gas. Kondisi ini membuat mereka terancam kehabisan bahan bakar untuk memasak dalam waktu dekat.
Sebagian besar warga di kawasan tersebut bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan penghasilan sekitar 15.000 rupee atau setara Rp2,8 juta per bulan. Keterbatasan ekonomi membuat mereka kesulitan mencari alternatif di tengah kelangkaan yang terjadi.
Perang Iran Ganggu Pasokan Gas, Pekerja Migran Paling Terdampak
Gangguan pengiriman global akibat perang di Timur Tengah membuat pasokan gas di India terbatas. Banyak orang kesulitan mendapatkan tabung LPG, bahan bakar masak paling umum di negeri itu.
India sangat bergantung pada impor LPG yang sebagian besar melalui Selat Hormuz. Iran memang sudah mengizinkan kapal India lewat, tetapi situasi masih belum pasti.
Pemerintah India menyatakan tidak ada kelangkaan LPG. Mereka meningkatkan produksi dalam negeri dan mengamankan pasokan dari AS, Rusia, dan Australia. Warga juga diminta berhenti “panik memesan” tabung gas.
Namun, pekerja migran di kota besar mengaku khawatir. BBC berbicara dengan hampir 30 pekerja migran di Delhi yang mengatakan mereka harus pulang kampung jika situasi tak membaik.
Baca juga: Perang Iran Beri Guncangan Minyak ke Ekonomi India yang Lagi dalam Optimisme Tinggi
Restoran Tutup, Industri Gulung Tikar, Pekerja Pulang
Laporan dan visual stasiun kereta serta terminal bus menunjukkan situasi serupa terjadi di Mumbai, Bengaluru, Chennai, dan Hyderabad. Di beberapa daerah, industri tekstil, perhiasan, dan keramik tutup, memaksa pekerja pulang.
“Tidak ada gas untuk masak. Restoran lokal juga tutup. Saya kesulitan makan dua kali sehari, jadi saya harus pulang,” kata Ashok Yadav dari desanya di Ayodhya. Ia bekerja di perusahaan katering di Delhi.
Bulan lalu, pemerintah meminta kilang memprioritaskan distribusi gas untuk rumah tangga dibanding bisnis. Akibatnya, banyak restoran kecil mengurangi menu atau tutup sementara karena tak mampu membeli tabung komersial.
Kelangkaan juga mendorong sebagian warga kembali ke bahan bakar yang lebih polutif, seperti kayu bakar, minyak tanah, dan batu bara. Sushila Devi, pemilik kedai teh kecil di Delhi, mengaku sudah empat pekan tak mendapatkan tabung gas.
“Harga kayu bakar naik cepat, dan itu bukan opsi jangka panjang. Jika kelangkaan gas terus berlanjut, saya harus kembali ke desa,” ujarnya.
Sistem Birokrasi Sulitkan Pekerja Migran Dapat Gas Resmi
Untuk mendapatkan tabung LPG secara legal di India, rumah tangga dan bisnis harus mendaftar dengan dokumen identitas dan alamat. Mereka juga harus memesan tabung melalui distributor resmi.
Namun, pekerja migran di sektor informal sering tidak memiliki dokumen yang valid di kota. “Pekerja migran sering pindah dan tidak bisa terus memperbarui dokumen. Beberapa tuan tanah juga menolak memberikan bukti alamat,” ujar aktivis serikat buruh Rajesh Kumar.
Banyak pekerja mengandalkan pusat tidak resmi yang menjual dan mengisi ulang tabung lebih kecil. Namun, sejak perang, banyak pusat ini tutup atau mematok harga hampir empat kali lipat.
Tabung rumah tangga biasa harganya sekitar 3.500 rupee (sekitar Rp 660.000). Isi ulang tabung kecil lebih dari 1.600 rupee (sekitar Rp 300.000). “Sebagian besar pekerja migran dengan penghasilan pas-pasan tidak mampu membayar sebanyak itu,” kata Rajesh Kumar.
Baca juga: Dampak Konflik Iran-Israel, Pertamina Ubah Rute Distribusi Minyak Lewat Oman dan India
Alternatif Terbatas, Hidup Makin Sulit
Memasak dengan kayu bakar atau batu bara tidak aman di ruang sempit di kawasan kumuh. Sambungan listrik bersama juga tidak bisa mendukung kompor listrik yang lebih murah, sementara kompor listrik yang lebih aman terlalu mahal.
Ramnaresh Yadav menjual becak motornya dua pekan lalu sebelum pulang ke desa di dekat Chhapra. “Saya sudah kesulitan memberi makan keluarga dengan penghasilan saya. Lalu kelangkaan gas ini terjadi,” katanya.
Brij Kumar, penarik gerobak di Delhi yang baru kembali ke desanya di Jharkhand, berharap situasi membaik setelah konflik usai. “Tapi sampai saat itu, hidup akan terasa berat, terutama bagi orang-orang seperti kami.”
Para ahli menyebut situasi saat ini masih “bisa dikelola”. Namun, jika arus balik pekerja migran terus berlanjut, dampaknya akan signifikan pada sektor padat karya seperti konstruksi, tekstil, dan manufaktur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bbc.com