INDOZONE.ID - Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Indonesia pada Maret 2026 tercatat 51,86, masih dalam fase ekspansi meski turun dari 54,02 di Februari.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut perlambatan ini dipicu faktor musiman pasca Lebaran dan hambatan logistik, bukan sinyal pelemahan struktural.
Setelah puncak produksi di Februari untuk memenuhi lonjakan permintaan Lebaran dan Imlek, banyak pelaku industri mulai mengerem produksi. Gudang penuh.
Distribusi terhambat karena pembatasan logistik sekitar 16 hari sebelum dan sesudah Lebaran.
"Penurunan IKI pada Maret ini terutama dipengaruhi oleh faktor seasonal setelah Hari Raya keagamaan seperti Lebaran dan Imlek. Industri telah melalui puncak produksi pada Februari 2026 untuk merespons lonjakan permintaan selama periode tersebut," kata Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, dalam Rilis IKI Maret 2026 di Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: Industri Halal Indonesia Tembus USD50 Miliar, Kemenperin Genjot IKM
Timur Tengah dan Tekanan Global
Di luar faktor musiman, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran, Israel, dan AS, mulai membayang.
Selat Hormuz, jalur vital energi global, berpotensi terganggu.
Tapi dampaknya ke industri nasional masih terbatas sejauh ini.
"Dampaknya saat ini masih confined pada subsektor tertentu, khususnya industri yang memiliki ketergantungan bahan baku dari kawasan Timur Tengah. Secara umum, sektor manufaktur nasional masih cukup resilien," jelas Febri.
Ini bukan berarti industri aman sepenuhnya. Kenaikan harga energi global bisa menekan biaya produksi jika konflik makin panas.
Siapa yang Ekspansi?
Dari 23 subsektor yang dianalisis, 16 subsektor masih ekspansi dengan kontribusi 78,3% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.
Performa tertinggi datang dari industri percetakan dan reproduksi media rekaman, serta industri kendaraan bermotor.
Sementara tujuh subsektor mengalami kontraksi, termasuk minuman, tembakau, bahan kimia, elektronik, dan peralatan listrik.
Kombinasi daya beli yang melemah, gangguan pasokan bahan baku, dan efek musiman Ramadan jadi penyebab utama.
Ekspor Masih Tumbuh, Impor Lebih Kencang
Data makro menunjukkan gambaran yang tidak sepenuhnya suram. PMI manufaktur Indonesia di Februari 2026 menyentuh 53,8, level tertinggi dalam hampir dua tahun.
Ekspor industri pengolahan Januari 2026 tumbuh 8,19% year-on-year dengan kontribusi 83,52% terhadap total ekspor nasional.
Tapi impor tumbuh lebih cepat, naik 18,21% yoy. Surplus neraca perdagangan pun menyusut ke US$0,95 miliar.
Artinya, industri masih rakus bahan baku dan barang modal, yang sebenarnya bisa dibaca sebagai sinyal investasi yang masih bergulir.
Langkah Kemenperin ke Depan
Kemenperin mendorong pelaku industri efisiensi energi di tengah dinamika harga global, sambil membuka peluang substitusi impor lewat investasi baru.
Pasar ekspor nontradisional dan optimalisasi FTA juga jadi agenda.
"Kami optimistis industri manufaktur nasional tetap memiliki fundamental yang kuat. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan sinergi seluruh pemangku kepentingan, sektor industri akan terus menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional," tegas Febri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Kemenperin