INDOZONE.ID - Setelah satu tahun fokus membangun tata kelola dan struktur kelembagaan, Danantara kini memasuki fase baru.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai menggelontorkan modalnya ke berbagai sektor strategis dengan target imbal hasil minimal 7 persen.
Demikian disampaikan Pandu Sjahrir, Chief Investment Officer Danantara, dalam wawancara dengan The Business Times.
Ia menyebut tahun ini sebagai "tahun penempatan modal" setelah sebelumnya lebih banyak dihabiskan untuk membangun fondasi.
Baca juga: Klaim Ekonomi Malut Tumbuh 34 Persen, Gubernur Sherly Undang Saudagar Makassar Berinvestasi
Target 7 Persen dari Prabowo, Danantara Incar Lebih
Presiden Prabowo Subianto secara publik menetapkan target imbal hasil 7 persen sebagai patokan minimal.
Namun, Pandu mengatakan Danantara secara internal membidik imbal hasil dua digit jika memungkinkan.
"Jadi jika sebuah proyek tidak memenuhi imbal hasil itu, maka kami tidak akan melakukannya," tegas Pandu.
Danantara didirikan pada Februari 2025 dan diberi mandat mengelola lebih dari 1.000 badan usaha milik negara (BUMN) dengan total aset yang dikelola diperkirakan mencapai 900 miliar dolar AS.
Baca juga: Apple Gelontorkan Rp6,4 Triliun untuk Perkuat Manufaktur di Amerika Serikat
Fokus Investasi Tahun Ini
Danantara berencana menggelontorkan sekitar 14 miliar dolar AS sepanjang tahun ini. Investasi akan menyasar berbagai sektor, baik di pasar publik (saham dan obligasi) maupun aset privat.
Sektor-sektor yang menjadi fokus meliputi ketahanan energi, hilirisasi sumber daya alam, ketahanan pangan, infrastruktur, jasa keuangan, dan transisi energi.
Proyek Strategis yang Sudah Berjalan
Beberapa proyek telah mulai digarap. Danantara baru saja mengumumkan investasi 200 juta dolar AS di produsen petrokimia Chandra Asri untuk mendukung pengembangan pabrik klor-alkali dan etilen diklorida.
Selain itu, Danantara juga mengembangkan proyek waste-to-energy senilai 5,6 miliar dolar AS bekerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Pandu mengatakan program ini menarik minat sekitar 200 penawar, termasuk sejumlah perusahaan asal China.
Kekayaan Alam sebagai Keunggulan
Pandu menyebut Indonesia diberkahi dengan aset nyata yang sangat berharga, terutama di sektor nikel dan mineral kritis lainnya.
Tantangannya adalah mengubah keunggulan alamiah itu menjadi investasi yang layak secara komersial dan mampu menarik modal serta teknologi global.
Baca juga: Warga Gaza Tercekik Biaya Listrik, Harga Naik Drastis di Tengah Perang
"Dari perspektif investor saat ini, aset tetap dan aset nyata sangat berharga," ujarnya.
Membangun Kembali Kepercayaan Investor
Pandu mengakui Indonesia menghadapi "defisit kepercayaan" dari sejumlah investor, terutama setelah peringatan dari MSCI dan lembaga pemeringkat global terkait kebijakan dan transparansi pasar.
Saat ini, investor ritel mendominasi pasar modal Indonesia dengan porsi lebih dari 60 persen aktivitas perdagangan, sementara investor institusi hanya sekitar 40 persen.
Ketimpangan ini mendorong investor institusi menyerukan transparansi dan likuiditas yang lebih baik.
Baca juga: Pemerintah Didorong Lakukan Reformasi Subsidi Energi demi Ketahanan Nasional
Pemerintah dan otoritas keuangan tengah melakukan reformasi di bursa menyusul peringatan MSCI yang sempat memicu penghentian perdagangan selama dua hari pada akhir Januari lalu.
Danantara dan Masa Depan Bursa Efek Indonesia
Salah satu agenda yang sedang dibahas adalah rencana Danantara mengambil saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai bagian dari proses demutualisasi.
Pandu mengatakan Danantara diperkirakan akan mengejar porsi kepemilikan minoritas yang signifikan.
"Keberhasilan rencana ini akan diukur dari partisipasi asing di pasar dan kredibilitas pasar secara keseluruhan," katanya.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Iran Bantah Negosiasi dengan AS
"Saya ingin BEI membidik tinggi. Jika berhasil, BEI bisa menjadi salah satu bursa teratas secara global, tepat setelah China dan India," pungkasnya.
Tata Kelola dan Audit
Terkait tata kelola, Pandu mengatakan audit komprehensif terhadap Danantara diperkirakan akan dirilis pada akhir tahun ini, kemungkinan besar pada kuartal ketiga atau keempat.
Proses audit memakan waktu mengingat skala organisasi dan portofolio BUMN yang sangat luas.
"Kami akan menghasilkan laporan tahun ini, kemungkinan besar menjelang akhir kuartal ketiga atau keempat," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Businesstimes.com.sg