Kamis, 26 MARET 2026 • 14:30 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak, Iran Bantah Negosiasi dengan AS

Author

Selat Hormuz. (REUTERS/Hamad I Mohammed)

INDOZONE.ID - Harga minyak dunia kembali menguat di tengah memudarnya harapan deeskalasi konflik Iran, setelah Teheran membantah adanya pembicaraan dengan Amerika Serikat.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, naik hampir 2 persen pada Kamis hingga menembus angka 104 dolar AS per barel. Kenaikan ini terjadi setelah Iran menepis laporan terkait negosiasi langsung dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sebelumnya, harga minyak sempat melemah pada Rabu menyusul kabar bahwa Trump mengajukan rencana perdamaian berisi 15 poin untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Namun, bantahan dari Teheran kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap eskalasi perang yang berkepanjangan.

Sentimen negatif juga merembet ke pasar saham Asia. Sejumlah indeks utama seperti Nikkei 225 Jepang, KOSPI Korea Selatan, dan Hang Seng Hong Kong kompak dibuka melemah pada perdagangan Kamis.

Baca juga: Harga Minyak Melejit, Perang Iran Picu Krisis Energi Global

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan media pemerintah menegaskan bahwa negaranya tidak sedang terlibat dalam perundingan langsung dengan Washington. Ia juga menyebut Iran belum memiliki rencana untuk membuka jalur negosiasi dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Gedung Putih kembali mengeluarkan pernyataan tegas. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi serangan yang lebih besar jika tidak menerima kekalahan militer.

Ketegangan yang terus meningkat ini turut berdampak besar pada jalur distribusi energi global. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, serta serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi secara global.

Ilutrasi mata uang dolar dan tambang minyak (scbgold.com)

Sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas pada 28 Februari, harga minyak tercatat telah melonjak lebih dari 40 persen. Kondisi ini memaksa sejumlah negara menerapkan kebijakan penghematan energi, termasuk pembatasan distribusi bahan bakar.

Para analis memperkirakan harga minyak masih berpotensi terus naik selama jalur pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya aman. Upaya sejumlah negara untuk menstabilkan pasokan melalui cadangan darurat, bekerja sama dengan International Energy Agency (IEA), sejauh ini belum mampu meredam tekanan harga.

Baca juga: Harga Minyak Terancam Naik, Pemerintah Didorong Percepat Implementasi B50

Meski Iran menyatakan bahwa selat tersebut tetap terbuka bagi kapal yang tidak berpihak pada musuhnya, aktivitas pelayaran di kawasan itu mengalami penurunan drastis sejak konflik dimulai.

Data dari perusahaan intelijen maritim Windward menunjukkan hanya empat kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Selasa, jauh di bawah rata-rata normal sekitar 120 kapal per hari sebelum konflik pecah.

Situasi ini mempertegas kekhawatiran pasar global bahwa ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih akan menjadi faktor utama yang menggerakkan harga energi dalam waktu dekat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Aljazeera

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU