Senin, 06 APRIL 2026 • 12:32 WIB

Bolehkah Debt Collector Menagih ke Keluarga? Ini Penjelasan Hukumnya yang Perlu Kamu Tahu

Author

Ilustrasi debt collector. (dok. Indozone)

INDOZONE.ID - Belakangan ini, topik soal debt collector lagi sering banget jadi bahan obrolan. Apalagi sejak pinjaman online dan layanan kredit digital makin gampang diakses.

Di satu sisi memang memudahkan, tapi di sisi lain kasus penagihan utang juga ikut meningkat.

Nah yang bikin banyak orang kaget, penagihan utang kadang nggak cuma datang ke orang yang minjam uang.

Ada juga kejadian di mana keluarga, teman, bahkan nomor yang dijadikan kontak darurat ikut dihubungi oleh debt collector.

Situasi seperti ini jelas bikin nggak nyaman. Banyak keluarga yang akhirnya ikut kena dampaknya, mulai dari ditelepon berkali-kali, dikirimi pesan terus-menerus, sampai dihubungi lewat media sosial. Padahal mereka sama sekali nggak terlibat dalam perjanjian pinjaman itu.

Karena itulah muncul pertanyaan yang sering banget ditanyakan yaitu sebenarnya boleh nggak sih debt collector menagih utang ke keluarga orang yang meminjam?

Topik ini juga pernah dibahas dalam salah satu video dari channel YouTube @ANTI SCAM yang menjelaskan soal aturan penagihan utang serta hal-hal penting yang perlu dipahami masyarakat supaya nggak ikut tertekan saat menghadapi situasi seperti ini.

Baca juga: Tips Bisnis Modal Kecil dan Tanpa Hutang: Cara Cerdas Mulai dari Nol

Utang Itu Tanggung Jawab Orang yang Meminjam

Kalau dilihat dari sisi hukum, utang pada dasarnya adalah tanggung jawab pribadi dari orang yang meminjam.

Artinya, yang wajib membayar utang adalah orang yang menyetujui atau menandatangani perjanjian pinjaman tersebut.

Jadi kalau seseorang meminjam uang dari pinjaman online, bank, atau lembaga pembiayaan, dialah yang punya kewajiban untuk melunasinya.

Keluarga seperti orang tua, saudara, pasangan, atau kerabat lainnya tidak otomatis ikut bertanggung jawab.

Selama mereka tidak terlibat dalam perjanjian pinjaman, mereka tidak punya kewajiban hukum untuk membayar utang tersebut.

Jadi secara prinsip, penagihan memang seharusnya dilakukan langsung kepada debitur atau orang yang meminjam uang.

Kalau penagihan malah diarahkan ke keluarga yang tidak ada kaitannya dengan pinjaman, praktik seperti ini sebenarnya tidak sesuai dengan prinsip penagihan yang benar.

Kenapa Keluarga Sering Ikut Dihubungi?

Meski aturan hukumnya cukup jelas, dalam praktiknya masih sering terjadi keluarga peminjam ikut dihubungi oleh debt collector.

Biasanya ini terjadi karena saat mengajukan pinjaman, peminjam diminta mencantumkan nomor kontak darurat. Nomor ini bisa berasal dari orang tua, teman dekat, pasangan, atau kerabat lainnya.

Masalahnya, sebagian penagih utang justru menggunakan nomor tersebut untuk melakukan penagihan.

Padahal sebenarnya fungsi kontak darurat bukan untuk ditagih. Nomor ini biasanya hanya dipakai untuk membantu mengonfirmasi keberadaan peminjam jika pihak pemberi pinjaman tidak bisa menghubungi debitur.

Namun yang sering terjadi, keluarga malah ikut menerima telepon atau pesan berkali-kali. Bahkan ada yang merasa seperti diteror karena terus dihubungi.

Situasi seperti ini tentu bisa menimbulkan tekanan, apalagi bagi keluarga yang sebenarnya tidak tahu apa-apa soal pinjaman tersebut.

Penagihan Harus Dilakukan dengan Cara yang Benar

Dalam dunia keuangan, penagihan utang sebenarnya punya aturan dan etika yang harus dipatuhi.

Debt collector tidak boleh melakukan penagihan dengan cara yang melanggar hukum, seperti mengancam, menekan, menghina, atau mempermalukan orang lain.

Selain itu, mereka juga tidak boleh menyebarkan informasi utang kepada orang yang tidak berkaitan dengan perjanjian pinjaman.

Penagih utang juga wajib menunjukkan identitas yang jelas serta menjelaskan dasar penagihan yang mereka lakukan.

Kalau penagihan dilakukan dengan cara yang kasar atau tidak manusiawi, tindakan tersebut bisa dianggap melanggar aturan perlindungan konsumen.

Bahkan dalam beberapa kasus, jika sudah mengarah ke intimidasi atau ancaman, tindakan tersebut bisa masuk ke ranah hukum karena dianggap sebagai bentuk teror.

Baca juga: Kenapa Gen Z Susah Nabung? Realita Finansial Anak Muda di Tengah Tekanan Zaman

Ilustrasi Debt Collector Menagih ke Keluarga. (Foto: Freepik @Freepik)

Kontak Darurat Bukan Pihak yang Wajib Membayar

Hal lain yang sering bikin salah paham adalah soal kontak darurat.

Banyak orang mengira kalau nomor mereka dicantumkan sebagai kontak darurat, berarti mereka ikut bertanggung jawab atas utang tersebut.

Padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Kontak darurat hanya berfungsi untuk membantu memastikan keberadaan peminjam jika pihak pemberi pinjaman kesulitan menghubunginya.

Mereka tidak punya kewajiban hukum untuk membayar utang tersebut, apalagi sampai menerima tekanan dari debt collector.

Jadi kalau seseorang dihubungi hanya karena nomornya dicantumkan sebagai kontak darurat, mereka berhak menjelaskan bahwa mereka bukan pihak yang memiliki kewajiban terhadap pinjaman tersebut.

Apa yang Bisa Dilakukan Jika Keluarga Ikut Diteror?

Kalau keluarga atau orang terdekat mengalami penagihan yang tidak semestinya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, minta penagih utang menunjukkan identitas mereka dengan jelas. Tanyakan juga mereka berasal dari lembaga mana.

Hal ini penting supaya kita tahu apakah penagihan tersebut memang dilakukan oleh pihak resmi atau tidak.

Kedua, sampaikan dengan tegas bahwa Anda bukan pihak yang memiliki kewajiban membayar utang tersebut.

Jika penagih tetap memberikan tekanan, simpan bukti komunikasi seperti rekaman telepon atau tangkapan layar pesan.

Bukti-bukti ini bisa sangat berguna jika nantinya ingin melaporkan tindakan penagihan yang tidak sesuai aturan.

Jika penagihan sudah mengarah pada intimidasi atau teror, masyarakat juga bisa melaporkannya ke lembaga pengawas seperti Otoritas Jasa Keuangan atau pihak berwenang lainnya.

Pentingnya Memahami Risiko Pinjaman

Kasus penagihan utang yang sampai menyeret keluarga juga menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat soal pinjaman masih perlu ditingkatkan.

Banyak orang mengambil pinjaman tanpa benar-benar memahami isi perjanjian, bunga, denda, atau risiko yang bisa muncul jika mereka tidak mampu membayar.

Akibatnya, ketika terjadi masalah pembayaran, tekanan tidak hanya dirasakan oleh peminjam, tapi juga oleh orang-orang di sekitarnya.

Karena itu, penting banget untuk lebih bijak sebelum mengambil pinjaman. Pastikan memahami semua aturan yang ada dan menyesuaikan pinjaman dengan kemampuan finansial.

Selain itu, jangan sembarangan mencantumkan nomor orang lain sebagai kontak darurat tanpa sepengetahuan mereka.

Langkah sederhana seperti ini bisa membantu mencegah masalah di kemudian hari.

Baca juga: Mindset Keuangan Wanita Berkelas: Cara Pintar Mengelola Uang dan Hidup Tanpa Stres Finansial

Ilustrasi Debt Collector Menagih ke Keluarga. (Foto: Freepik @Freepik)

Penagihan utang memang menjadi bagian dari sistem keuangan. Namun prosesnya tetap harus dilakukan dengan cara yang sesuai aturan dan tidak merugikan pihak lain.

Pada dasarnya, utang adalah tanggung jawab orang yang meminjam. Karena itu, debt collector seharusnya menagih langsung kepada debitur, bukan kepada keluarga yang tidak terlibat dalam perjanjian.

Jika penagihan dilakukan dengan cara intimidasi, ancaman, atau menyasar pihak yang tidak ada kaitannya dengan utang, tindakan tersebut bisa dianggap sebagai pelanggaran.

Dengan memahami aturan dan hak yang dimiliki, masyarakat diharapkan bisa lebih tenang menghadapi situasi seperti ini dan tidak mudah tertekan oleh praktik penagihan yang tidak semestinya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU