Sabtu, 14 FEBRUARI 2026 • 08:45 WIB

Ekonom Bank Sentral Inggris: Inflasi Inti Masih di 2,5%, Suku Bunga Jangan Diturunkan Dulu

Author

Ilustrasi inflasi. (Freepik)

INDOZONE.ID - Bank of England (BoE) masih punya pekerjaan rumah mengendalikan harga. Kepala Ekonom BoE, Huw Pill, mengungkapkan bahwa inflasi inti Inggris saat ini berada di kisaran 2,5 persen secara tahunan. 

Angka ini masih lebih tinggi dari target bank sentral yang sebesar 2 persen.

Pernyataan itu disampaikan Pill dalam acara yang digelar Santander Bank di London, Jumat (13/2/2026). 

Ia juga mengulangi keyakinannya bahwa suku bunga perlu tetap dipertahankan untuk terus menekan laju inflasi. 

"Saya pikir ketika kita melihat posisi kita sekarang, tanpa sesuatu yang terjadi, inflasi inti akan berada di 2,5 persen," ujarnya.

Baca juga: Presiden Prabowo Sebut Program MBG Bisa Serap 1,5 Juta Tenaga Kerja

Efek Sementara Anggaran Pemerintah

BoE sebelumnya memperkirakan inflasi akan turun ke sekitar 2 persen pada April atau Mei mendatang. 

Namun Pill mengingatkan, penurunan itu sebagian besar hanya efek sementara dari kebijakan anggaran Menteri Keuangan Rachel Reeves yang diumumkan November lalu. 

Begitu efek satu kali itu hilang, tekanan harga diprediksi kembali naik.

Sikap hati-hati ini konsisten dengan langkah Pill di Komite Kebijakan Moneter (MPC) pekan lalu. 

Ia termasuk dalam mayoritas tipis yang memilih mempertahankan suku bunga di level 3,75 persen. 

Sebelumnya, pada Desember, ia juga menolak keputusan pemangkasan suku bunga seperempat poin persentase.

Baca juga: Menhut Raja Juli Luncurkan Skema Dana Lingkungan Baru, Dorong Ekonomi Hijau Berbasis Komunitas

Pendinginan Inflasi 'Belum Tuntas'

Dalam risalah rapat Februari, Pill menyebut suku bunga telah dipotong terlalu cepat sebelumnya. 

Akibatnya, tekanan inflasi yang muncul dari kebijakan itu "masih perlu dikendalikan dan dihilangkan." 

Ia menganalogikan rencana penetapan upah dan harga oleh pelaku usaha seperti "piring dangkal"—masih ada ruang untuk gejolak.

"Untuk menyelesaikan proses disinflasi, kebijakan moneter punya peran penting. Itu berarti kita perlu mempertahankan sifat restriktif dalam stance kebijakan sampai proses itu benar-benar tuntas," tegas Pill.

Baca juga: Cina Rilis Pedoman Antimonopoli Khusus untuk Platform Internet

Empat Anggota MPC Inginkan Pemangkasan

Meski Pill vokal soal pengetatan, empat dari sembilan anggota MPC pekan lalu justru mendorong pemangkasan suku bunga. 

Kekhawatiran utama mereka adalah perlambatan di pasar tenaga kerja. Namun Pill tak terlalu cemas. Ia tak memperkirakan "keruntuhan" aktivitas ekonomi. 

Menurutnya, kenaikan pengangguran belakangan ini lebih banyak disebabkan faktor struktural, bukan siklus.

Pernyataan ini menegaskan bahwa perdebatan di dalam bank sentral Inggris masih jauh dari kata usai. 

Di satu sisi, inflasi inti yang membandel membutuhkan suku bunga tinggi. Di sisi lain, risiko perlambatan ekonomi terus mengintai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU