INDOZONE.ID - Belakangan ini banyak orang merasa hidup makin mahal. Harga rumah makin nggak masuk akal, biaya pendidikan naik, kebutuhan pokok terasa makin mencekik, tapi gaji segitu-gitu aja.
Banyak yang menyebut kondisi ini sebagai inflasi. Padahal, kalau ditarik lebih dalam, ada satu istilah penting yang sering luput dibahas, yaitu devaluasi.
Konsep ini dibahas cukup tajam dalam video The Devaluation of Money dari kanal YouTube @Garys Economics.
Dengan sudut pandang yang lugas dan kritis, video ini membuka mata bahwa masalah ekonomi hari ini bukan cuma soal harga naik, tapi soal nilai uang yang terus turun pelan-pelan.
Baca juga: 17 Ide Nama Usaha yang Mengandung Doa, Biar Bisnis Nggak Cuma Jalan tapi Juga Penuh Berkah
Pengertian Devaluasi Dalam Konteks Ekonomi Modern
Devaluasi adalah penurunan nilai mata uang terhadap barang, jasa, dan aset. Dalam praktiknya, devaluasi sering dianggap sebagai bagian dari inflasi.
Gary menjelaskan bahwa inflasi dan devaluasi uang sebenarnya adalah dua sisi dari koin yang sama.
Kita sering mengira harga barang naik karena barangnya berubah atau kualitasnya meningkat, padahal yang sering terjadi justru nilai uang kita yang melemah.
Satu lembar uang seratus ribu memang tetap terlihat sama dari tahun ke tahun. Tapi daya belinya tidak.
Uang yang dulu cukup buat belanja banyak hal, sekarang terasa cepat habis. Itulah bentuk devaluasi yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Devaluasi oleh Bank Sentral
Dalam sistem ekonomi modern, devaluasi bukan selalu terjadi secara tidak sengaja. Bank sentral di banyak negara justru menargetkan inflasi tahunan sekitar 2 sampai 2,5 persen. Tujuannya terdengar positif, yaitu menjaga roda ekonomi tetap berputar dan mendorong konsumsi.
Namun menurut Gary, ada efek tersembunyi dari kebijakan ini. Inflasi yang stabil memungkinkan perusahaan “memotong” upah pekerja tanpa harus mengubah angka gaji di kontrak.
Secara nominal gaji tetap sama, tapi secara riil nilainya terus menurun setiap tahun. Dengan cara ini, beban perusahaan berkurang, sementara pekerja sering tidak sadar bahwa daya beli mereka sedang tergerus perlahan.
Jenis-jenis Devaluasi yang Terjadi di Masyarakat
Devaluasi bisa muncul dalam beberapa bentuk. Nah yang paling sering dibicarakan adalah devaluasi eksternal, yaitu ketika nilai mata uang turun terhadap mata uang asing. Dampaknya terlihat pada harga barang impor yang jadi lebih mahal.
Selain itu, ada devaluasi internal yang lebih halus tapi dampaknya luas. Ini terjadi ketika harga barang, jasa, dan aset naik lebih cepat dibanding kenaikan upah.
Dalam jangka panjang, masyarakat merasa bekerja lebih keras tapi hasilnya terasa makin kecil.
Ada juga devaluasi yang dipicu oleh kebijakan pencetakan uang besar-besaran, seperti yang terjadi saat pandemi.
Ketika uang beredar meningkat drastis tanpa diimbangi produksi yang sepadan, nilai uang otomatis menurun dan harga melonjak.
Perbedaan Harga Aset dan Barang Konsumsi
Salah satu kritik utama Gary adalah cara kita mengukur inflasi. Indeks inflasi resmi seperti CPI, biasanya fokus pada harga barang dan jasa konsumsi harian, seperti makanan, transportasi, dan energi.
Masalahnya, harga aset seperti rumah, tanah, dan saham sering tidak dihitung secara serius.
Padahal, dalam 20 hingga 30 tahun terakhir, harga aset naik jauh lebih cepat dibanding harga kebutuhan sehari-hari.
Rumah yang dulu bisa dibeli dengan beberapa kali gaji tahunan, sekarang harganya bisa puluhan kali lipat dari pendapatan rata-rata.
Ini membuat devaluasi uang terasa jauh lebih parah dari angka inflasi resmi yang diumumkan.
Baca juga: Kebutuhan Tersier: Barang Mewah yang Bikin Hidup Lebih Seru
Ketimpangan Kekayaan sebagai Akar Masalah
Menurut Gary, devaluasi uang yang terus terjadi bukanlah penyakit utama, melainkan gejala. Penyakit utamanya adalah ketimpangan kekayaan.
Orang kaya cenderung menggunakan uang mereka untuk membeli aset, bukan barang konsumsi. Ketika banyak uang mengalir ke aset, harga aset naik terus.
Di sisi lain, masyarakat biasa menghabiskan penghasilan untuk kebutuhan hidup. Ketika daya beli menurun, konsumsi melemah dan ekonomi melambat.
Ironisnya, kondisi ini justru membuat bank sentral merespons dengan menurunkan suku bunga dan mencetak lebih banyak uang, yang akhirnya kembali mendorong kenaikan harga aset.
Spiral Ekonomi yang Merugikan Kelas Menengah
Siklus ini menciptakan apa yang disebut Gary sebagai spiral kematian ekonomi. Saat ekonomi melemah, kebijakan stimulus justru memperkaya pemilik aset.
Harga saham, emas, dan properti melonjak, sementara masyarakat umum makin tertinggal.
Akibatnya, kelas menengah semakin tertekan. Mereka bekerja keras, tapi semakin sulit mengejar harga rumah, biaya pendidikan, dan keamanan finansial jangka panjang.
Mobilitas sosial pun mandek, karena jarak antara yang punya aset dan yang tidak semakin lebar.
Persepsi Salah Tentang Kesehatan Ekonomi
Gary menyoroti cara kita memandang kondisi ekonomi. Jika upah turun drastis, masyarakat akan marah dan menganggap ekonomi sedang runtuh.
Tapi ketika harga rumah naik berkali-kali lipat, banyak orang justru menganggap ekonomi sedang kuat.
Padahal secara logika ekonomi, dampaknya sama saja. Kenaikan harga rumah yang ekstrem sama artinya dengan penurunan kemampuan masyarakat untuk memiliki tempat tinggal.
Bedanya, yang satu terasa langsung, sementara yang lain dibungkus narasi pertumbuhan dan kemajuan.
Dampak Devaluasi bagi Kehidupan Masyarakat
Devaluasi berdampak luas dalam kehidupan sehari-hari. Tabungan menjadi kurang bernilai dari waktu ke waktu.
Orang harus bekerja lebih lama untuk mencapai tujuan finansial yang sama. Generasi muda makin sulit membeli rumah, membangun keluarga, dan merencanakan masa depan dengan aman.
Di sisi lain, mereka yang sudah memiliki aset cenderung terlindungi, bahkan diuntungkan.
Ketimpangan ini membuat rasa keadilan ekonomi semakin menipis dan memicu frustrasi sosial di banyak negara.
Baca juga: Delisting Saham dan Risikonya, Investor Jangan Cuma Fokus Cuan
Devaluasi bukan sekadar istilah ekonomi yang rumit, tapi realitas yang kita rasakan setiap hari.
Seperti yang disampaikan Gary dalam The Devaluation of Money, masalah utamanya bukan hanya pada uang yang terus melemah, melainkan pada sistem yang membiarkan ketimpangan kekayaan semakin melebar.
Selama akar masalah ini tidak dibenahi, devaluasi akan terus berulang, dan kelas menengah akan semakin terjepit.
Memahami devaluasi adalah langkah awal agar masyarakat lebih sadar, kritis, dan tidak mudah terbuai narasi ekonomi yang terlihat sehat di permukaan, tapi rapuh di dalam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube