Rabu, 11 FEBRUARI 2026 • 16:40 WIB

Merkantilisme: Sejarah, Ciri, Tokoh, dan Pengaruhnya Terhadap Sistem Ekonomi Modern

Author

Ilustrasi Pengertian Merkantilisme. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kalian dengar kata merkantilisme waktu belajar sejarah atau ekonomi?

Mungkin terdengar asing, tapi konsep ini justru punya pengaruh besar terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia.

Merkantilisme bukan sekadar teori, tapi sistem yang bikin negara-negara Eropa berebut kekayaan lewat perdagangan, menjelajah wilayah baru, dan bahkan membangun kolonialisme.

Dengan memahami merkantilisme, kita bisa melihat gimana sejarah ekonomi dulu membentuk praktik perdagangan dan industrialisasi modern.

Yuk simak ulasan lengkap tentang merkantilisme dilansir dari YouTube @GeEmGE History Channel selengkapnya!

Baca juga: Disposable Income: Uang Nyata yang Bisa Dipakai, Bukan Sekadar Angka di Slip Gaji

Pengertian Merkantilisme

Merkantilisme berasal dari kata Latin “merx” yang artinya pembeli. Jadi, pada dasarnya, merkantilisme adalah sistem ekonomi di mana negara berusaha mengumpulkan kekayaan dengan cara mengekspor lebih banyak daripada mengimpor.

Tujuannya jelas yaitu meningkatkan cadangan logam mulia seperti emas dan perak, sekaligus menjaga kedaulatan ekonomi negara.

Sistem ini mendorong negara untuk lebih fokus ke perdagangan daripada pertanian, dan mulai mengembangkan industri dengan orientasi ekspor.

Meski sekarang merkantilisme nggak lagi populer, konsep ini adalah salah satu pendorong aktivitas eksplorasi dan kolonisasi di Eropa pada abad 17 dan 18.

Ciri-Ciri Utama Merkantilisme

Merkantilisme punya beberapa ciri khas yang membuatnya berbeda dari sistem ekonomi lain.

Pertama, negara menjadi penguasa tunggal dalam urusan ekonomi. Pemerintah mengatur perdagangan, pajak, dan bahkan produksi industri untuk memastikan kekayaan negara terus bertambah.

Kedua, logam mulia seperti emas dan perak dianggap sebagai ukuran utama kekayaan negara. Negara berlomba-lomba menimbun logam mulia dari perdagangan dan wilayah jajahan.

Ketiga, negara mendorong industrialisasi berorientasi ekspor. Artinya, industri didorong untuk memproduksi barang yang bisa dijual ke luar negeri, bukan hanya untuk konsumsi domestik.

Keempat, negara mencari wilayah jajahan sebagai sumber bahan baku dan pasar monopoli. Contohnya, VOC di Indonesia dan EIC di India.

Kelima, pertumbuhan penduduk juga jadi perhatian karena tenaga kerja diperlukan untuk industri. Semakin banyak penduduk, semakin banyak tenaga kerja untuk produksi barang.

Keenam, negara meminta pembayaran ekspor dalam bentuk emas atau logam mulia, bukan barter barang.

Ketujuh, bahan baku atau mentah biasanya diimpor dari negara jajahan, sementara barang jadi diekspor kembali untuk mendapatkan keuntungan maksimal.

Kedelapan, pemerintah terlibat aktif di semua sektor ekonomi dan perdagangan untuk memastikan surplus perdagangan dan kekayaan negara meningkat.

Tujuan Merkantilisme

Tujuan utama merkantilisme jelas: melindungi kekayaan negara, memperkuat perdagangan, dan mendapatkan surplus dari perdagangan luar negeri.

Dengan menguasai perdagangan, negara bisa menambah cadangan emas dan perak, sekaligus melindungi industri dalam negeri.

Sistem ini juga memicu pencarian wilayah baru yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku dan pasar monopoli.

Selain itu, merkantilisme ingin memastikan neraca perdagangan negara selalu positif. Artinya, ekspor harus lebih besar daripada impor supaya negara terus kaya dan mampu bertahan menghadapi kompetisi internasional.

Baca juga: Masalah Pokok Ekonomi: Apa, Bagaimana, dan untuk Siapa?

Ilustrasi Pengertian Merkantilisme. (Foto: Freepik @Freepik)

Tokoh-Tokoh Merkantilisme

Merkantilisme nggak muncul begitu saja, tapi didorong oleh pemikiran para ahli ekonomi dan pedagang Eropa.

Jean Bodin, seorang ilmuwan Prancis, mencetuskan teori kuantitas uang. Menurutnya, uang akan bertambah jika diperoleh dari hasil perdagangan luar negeri, yang kemudian mempengaruhi naiknya harga barang di dalam negeri.

Thomas Mun, pedagang kaya dari Inggris, menulis pentingnya surplus perdagangan. Ia menjelaskan bahwa perdagangan luar negeri akan memperkaya negara jika menghasilkan surplus berupa emas dan perak.

William Petty, ahli ekonomi Inggris, menekankan pentingnya sewa tanah dan perhitungan ekonomi terkait sumber daya alam. Pemikiran mereka membantu membentuk praktik merkantilisme yang diterapkan negara-negara Eropa pada masanya.

Latar Belakang Munculnya Merkantilisme

Merkantilisme muncul di Eropa pada masa awal modern karena beberapa faktor. Pertama, munculnya negara-negara merdeka seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Belanda yang ingin memperkuat ekonomi untuk mempertahankan kedaulatan.

Kedua, negara-negara ini ingin memastikan kesejahteraan rakyatnya melalui perdagangan dan pengendalian sumber daya.

Ketiga, negara butuh standar kekayaan yang jelas, sehingga logam mulia ditetapkan sebagai ukuran utama.

Keempat, untuk mendukung ekspor dan surplus perdagangan, negara membuka jaringan perdagangan baru dan melakukan eksplorasi wilayah asing.

Semua faktor ini saling terkait dan mendorong negara Eropa berlomba-lomba membangun kekayaan dan dominasi global.

Dampak Sejarah Merkantilisme

Sistem merkantilisme punya pengaruh besar terhadap sejarah dunia. Salah satunya adalah pemicu kolonialisme dan imperialisme kuno di Asia, Afrika, dan Amerika.

Di Indonesia, merkantilisme tercermin lewat pendirian VOC (Belanda) yang menguasai perdagangan dan sumber daya alam. Di India, Inggris membangun EIC untuk tujuan serupa.

Semua aktivitas ini didorong oleh motif 3G yaitu Gold, Glory, dan Gospel. Gold mewakili motivasi mencari kekayaan, Glory simbol kehormatan dan dominasi, sementara Gospel berkaitan dengan penyebaran agama.

Selain itu, merkantilisme memicu industrialisasi dan pengembangan perdagangan global. Negara Eropa mulai mengatur produksi industri untuk ekspor, membangun infrastruktur pelayaran, dan memanfaatkan teknologi baru untuk memperkuat posisi ekonomi mereka.

Di sisi lain, sistem ini menimbulkan ketimpangan ekonomi antara negara-negara Eropa dan wilayah jajahan.

Bahan baku diambil dari wilayah jajahan, sementara barang jadi dijual kembali untuk keuntungan negara induk.

Dampaknya, ketergantungan ekonomi dan eksploitasi sumber daya menjadi ciri khas kolonialisme.

Pengaruh Merkantilisme Terhadap Sistem Ekonomi Modern

Meskipun merkantilisme sudah nggak berlaku lagi, prinsip-prinsipnya masih meninggalkan jejak.

Sistem ekonomi modern tetap menekankan perdagangan internasional, industrialisasi, dan peran aktif pemerintah dalam mengatur ekonomi.

Misalnya, konsep neraca perdagangan positif, kebijakan proteksi industri, dan pengaturan perdagangan internasional adalah warisan merkantilisme.

Bahkan praktik modern seperti ekspor barang jadi dan impor bahan baku bisa ditelusuri akarnya ke sistem ini.

Selain itu, merkantilisme mengajarkan pentingnya cadangan devisa dan logam mulia sebagai penopang stabilitas ekonomi.

Dalam ekonomi modern, hal ini diterjemahkan sebagai cadangan mata uang asing dan emas untuk mengatur nilai tukar dan menjaga stabilitas finansial negara.

Baca juga: DYOR Artinya Apa? Panduan Riset Mandiri ala Investor Kripto Biar Nggak Ketipu Hype

Ilustrasi Pengertian Merkantilisme. (Foto: Freepik @Freepik)

Merkantilisme adalah sistem ekonomi yang menekankan kekayaan negara melalui perdagangan, ekspor lebih besar dari impor, dan pengumpulan logam mulia.

Dengan ciri-ciri seperti dominasi negara dalam ekonomi, industrialisasi berorientasi ekspor, dan pengaruh terhadap kolonialisme, merkantilisme punya dampak luas terhadap sejarah dunia.

Tokoh-tokoh seperti Jean Bodin, Thomas Mun, dan William Petty memainkan peran penting dalam mengembangkan teori ekonomi yang mendorong praktik merkantilisme.

Latar belakang munculnya sistem ini terkait dengan kedaulatan negara, perlindungan industri, dan persaingan global.

Meski sistem ini sudah ketinggalan zaman, prinsip-prinsipnya tetap memengaruhi ekonomi modern, mulai dari kebijakan perdagangan, proteksi industri, hingga strategi ekspor-impor.

Dengan memahami merkantilisme, kita bisa lihat hubungan sejarah, ekonomi, dan kolonialisme yang membentuk dunia seperti sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU