INDOZONE.ID – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menemukan adanya peningkatan jumlah masyarakat yang putus asa mencari kerja di Indonesia.
Meskipun angkanya tergolong kecil dan tidak signifikan mempengaruhi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), temuan ini dinilai sebagai sinyal adanya masalah struktural yang lebih serius dalam pasar kerja nasional.
Dalam kajian terbarunya, Labor Market Brief edisi November 2025, tim ekonom LPEM FEB UI mengungkapkan, jumlah penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena alasan putus asa telah naik 11% dari 1,68 juta orang pada Februari 2024 menjadi 1,85 juta orang per Februari 2025.
Baca juga: 3 Ide Kerja Receh tapi Cuan Gila, Bisa Raup Puluhan Juta!
"Lonjakan belasan persen dalam satu tahun menunjukkan bahwa ada segmen penduduk yang bergeser dari posisi 'mencari kerja' menjadi 'menyerah', yang berarti kehilangan kepercayaan terhadap peluang pasar kerja yang tersedia," tulis tim ekonom LPEM FEB.
Mereka juga menekankan bahwa persoalan ini tidak bisa dianggap remeh.
"Dengan kata lain, angka yang kecil bukan berarti persoalannya sepele. Di banyak negara, lonjakan kecil dalam kelompok ini sering mendahului stagnasi partisipasi kerja atau naiknya informalitas, terutama ketika kelompok rentan merasa peluang yang tersedia tidak realistis untuk dicapai," dikutip dari laporan tersebut.
Mayoritas Berpendidikan Rendah dan Usia Menengah
Kenaikan angka putus asa ini konsisten dengan temuan Bank Dunia tentang sulitnya mencari pekerjaan berkualitas dan lemahnya sistem informasi pasar kerja di Indonesia.
Temuan LPEM FEB UI menunjukkan bahwa kelompok yang paling terdampak adalah:
Berdasarkan Pendidikan: Lebih dari separuh (50,07%) berasal dari penduduk dengan pendidikan SD atau tidak tamat SD.
Baca juga: Wamenaker: Magang Nasional Jadi Jembatan Emas Menuju Kerja yang Sesungguhnya
"Angka ini menandakan bahwa hambatan struktural yang dialami kelompok berpendidikan rendah jauh lebih dalam daripada sekadar kurangnya lowongan. Mereka menghadapi kombinasi keterbatasan kemampuan dasar," ungkap tim ekonom LPEM FEB UI.
Berdasarkan Generasi: Generasi X dan kelompok usia lebih tua menjadi penyumbang terbesar (38,17%), diikuti Generasi Milenial (24,56%) dan Generasi Z (24,09%).
Kelompok usia menengah ini kerap menghadapi diskriminasi usia dan kesulitan beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Baca juga: Kementerian UMKM: KUR Serap 11 Juta Tenaga Kerja di Seluruh Indonesia
"Kelompok ini berada pada rentang usia yang secara umum dianggap matang secara karier, tetapi justru menghadapi hambatan yang membuat mereka berhenti mencari pekerjaan," tertera dalam laporan.
Secara wilayah, Jawa Barat dan Jawa Tengah mencatat angka absolut tertinggi (masing-masing lebih dari 300 ribu orang), dan 60% dari kelompok putus asa ini tinggal di wilayah perkotaan.
Rekomendasi LPEM FEB UI: Peningkatan Pelayanan dan Pelatihan
LPEM FEB UI merekomendasikan pemerintah untuk fokus pada solusi jangka pendek dan menengah, di antaranya:
Jangka Pendek:
- Memperkuat informasi peluang kerja yang terverifikasi
- Menyediakan layanan konseling kerja, terutama bagi pencari kerja berpendidikan rendah
- Mengadakan program pelatihan singkat berbasis permintaan industri (quick-win skills)
Jangka Menengah:
- Memperbarui kurikulum pelatihan vokasional agar selaras dengan kebutuhan industri.
- Mengembangkan ekosistem layanan transisi karier bagi pekerja usia menengah di kota-kota.
- Memperluas fasilitas penitipan anak untuk mengurangi hambatan kerja bagi perempuan.
- Memperkuat konektivitas desa-kota untuk mobilitas kerja.
Secara umum, LPEM FEB UI menilai bahwa masyarakat perlu dilatih dan akses informasi kerja yang jelas harus ditingkatkan, sehingga upaya pencarian kerja terasa lebih realistis dan terarah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Universitas Indonesia