Para pembicara di workshop SOS Children’s Villages Indonesia (INDOZONE/M Fadli)
INDOZONE.ID - Organisasi nirlaba SOS Children’s Villages Indonesia menggelar Workshop Joint Action for Smart & Empowerment Community di Jakarta, sebagai langkah memperkuat kolaborasi antara organisasi, korporasi, dan berbagai pihak lain dalam membangun komunitas yang lebih mandiri, adaptif, serta berdaya.
Dalam konferensi pers, National Director SOS Children’s Villages Indonesia, Gregor Hadi Nitihardjo, menjelaskan bahwa kerja bersama menjadi kunci agar bantuan bagi anak-anak dan keluarga rentan dapat menjangkau lebih banyak pihak. Menurutnya, lembaga tidak mungkin bergerak sendirian dalam menghadapi kompleksitas kebutuhan di lapangan.
“Kami membantu anak-anak yang kehilangan pengasuhan orang tua dan keluarga-keluarga yang rentan. Kami sudah melakukan ini sejak lama, tetapi kami merasa bahwa kami butuh mitra, butuh tim, butuh kerja sama. Tidak mungkin kami melakukannya sendiri,” ujar Gregor kepada wartawan di kawasan Harmoni, Jakarta Pusat kemarin.
Gregor menuturkan, struktur program pemberdayaan yang dibangun SOS Children’s Villages melibatkan banyak komunitas dan daerah. Setiap wilayah memiliki karakter dan kebutuhan berbeda, sehingga bentuk program pun disesuaikan. Ia mencontohkan, di Bali fokus kegiatan lebih banyak pada peternakan dan agrikultur, sementara di Flores kebutuhan yang paling mendesak adalah akses air bersih.
Para pembicara di workshop SOS Children’s Villages Indonesia (INDOZONE/M Fadli)
Baca juga: 3 Langkah Cerdas B.J. Habibie Menstabilkan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis
“Di skala nasional, kami tidak menyeragamkan semuanya. Yang kami samakan adalah cara mengukur keberhasilannya. Kami punya metodologi sendiri, kami terus melakukan pelacakan penerima manfaat, apa kebutuhan mereka, dan pihak mana yang bisa kami ajak berkolaborasi. Impact-nya akan jauh lebih besar,” jelasnya.
Mengatasi tantangan kemandirian keluarga menjadi latar belakang utama program ini. Banyak keluarga dampingan menghadapi keterbatasan akses pendidikan, keterampilan, maupun ekonomi yang membuat mereka rentan. Melalui kolaborasi terintegrasi, SOS Children’s Villages bersama mitra ingin memastikan bantuan tidak berhenti sebagai solusi sementara, tetapi menghasilkan perubahan jangka panjang.
Di bawah payung JOINT ACTION, dua program menjadi fokus utama. Pertama, Empowering Communities in Bali to Prevent Child Separation through Sustainable Eco-Business, yaitu pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan melalui greenhouse, peternakan, dan pengelolaan sampah. Kedua, Drops of Hope: Clean Water, Stronger Communities di Flores, yang menyasar solusi pengolahan air hujan dan sistem air berkelanjutan untuk menjawab keterbatasan akses air bersih, terutama bagi perempuan dan anak.
Menurut Gregor, kedua program ini mencerminkan prinsip bahwa kesuksesan pemberdayaan tidak diukur dari banyaknya kegiatan, melainkan sejauh mana perubahan itu memberi ruang bagi keluarga untuk bertahan dan berkembang.
“Ada situasi-situasi tertentu di komunitas yang kami temukan, dan kami sadar bahwa kami tidak punya kemampuan untuk menyelesaikannya sendiri. Karena itu kami ajak korporasi dan berbagai pihak untuk bersama-sama. Ketika dilakukan bersama, manfaat yang dihasilkan bisa jauh lebih besar,” ujarnya.
Workshop ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga wadah membangun jejaring lintas sektor. Para mitra didorong untuk merancang program bersama yang benar-benar menjawab kebutuhan nyata di lapangan, bukan hanya sebatas program simbolis atau seremonial.
“Tujuan akhirnya sederhana, tapi penting. Bagaimana keluarga dan komunitas bisa mandiri, dan anak-anak bisa tumbuh dengan pengasuhan yang layak serta kesempatan yang setara,” tutup Gregor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan