INDOZONE.ID - Pernah mendengar istilah Indeks FTSE saat membaca berita pasar saham global? Nah, indeks FTSE adalah serangkaian indeks saham yang disusun oleh FTSE Russell untuk mengukur kinerja pasar saham di berbagai negara dan kawasan dunia.
Indeks ini sering dijadikan acuan oleh investor internasional untuk menilai kondisi pasar dan menentukan strategi investasi.
Meski cukup populer, masih banyak yang belum memahami kategori indeks FTSE serta perbedaannya dengan MSCI. Padahal, memahami dua indeks global ini penting karena dapat memengaruhi arus modal dan posisi suatu negara di mata investor.
Yuk, kenali lebih jauh apa itu Indeks FTSE dan perbedaannya dengan MSCI, berikut informasi:
Baca juga: Investasi Jangka Panjang: Strategi Cerdas Milenial dan Gen Z Bangun Masa Depan dari Sekarang
Kategori Indeks FTSE
FTSE memiliki beragam produk indeks, namun ada beberapa yang paling sering dibahas karena perannya penting dalam menggambarkan kondisi pasar. Berikut penjelasannya secara ringkas:
FTSE 100
Indeks ini menjadi indeks FTSE utama yang berisi 100 perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Inggris, seperti HSBC, AstraZeneca, dan Shell.
FTSE 100 sering dijadikan tolok ukur kesehatan pasar saham Inggris karena mencerminkan kinerja perusahaan-perusahaan besar. Pergerakan indeks ini biasanya dipantau investor global sebagai indikator kondisi ekonomi dan pasar keuangan Inggris.
FTSE 250
Indeks ini mencakup 250 perusahaan dengan kapitalisasi menengah yang berada tepat di bawah FTSE 100. Banyak analis menilai FTSE 250 lebih mencerminkan kondisi ekonomi domestik Inggris karena sebagian besar perusahaannya berfokus pada pasar lokal.
Indeks ini juga sering digunakan untuk melihat potensi pertumbuhan perusahaan menengah.
FTSE All-Share
FTSE All-Share merupakan gabungan dari hampir seluruh saham yang diperdagangkan di Bursa London.
Indeks ini memberikan gambaran pasar yang lebih luas dan komprehensif dibandingkan indeks lainnya.
Oleh karena itu cakupannya besar, FTSE All-Share sering dipakai untuk melihat kondisi pasar saham Inggris secara keseluruhan.
FTSE Global Equity Index Series (GEIS)
FTSE GEIS adalah rangkaian indeks global yang mencakup ribuan saham dari 49 negara, baik negara maju maupun berkembang.
Indeks ini penting bagi investor internasional karena memberikan gambaran pasar saham dunia secara menyeluruh.
Dalam kerangka FTSE GEIS, Indonesia dikategorikan sebagai pasar berkembang (Emerging Market), sehingga relevan bagi investor Indonesia yang ingin memahami posisi pasar domestik di tingkat global.
Perbedaan FTSE dan MSCI sebagai Acuan Investasi Global
MSCI dan FTSE sama-sama penyedia indeks saham global, tetapi memiliki beberapa perbedaan penting.
Dari sisi asal, MSCI berbasis di New York, Amerika Serikat, sementara FTSE berasal dari London, Inggris, dan merupakan bagian dari London Stock Exchange Group.
Dalam pengaruh global, MSCI dikenal paling dominan dan populer, terutama di pasar Amerika dan Asia, sedangkan FTSE lebih kuat di Eropa meski tetap memiliki jangkauan internasional.
Perbedaan antar mereka juga terlihat pada cakupan pasar, di mana indeks global MSCI umumnya mencakup sekitar 85% kapitalisasi pasar saham yang layak investasi, sementara FTSE bisa menjangkau sekitar 90% hingga 95%, sehingga biasanya memuat lebih banyak saham.
Dari sisi klasifikasi negara, MSCI cenderung lebih ketat dan konservatif sehingga perubahan status pasar jarang terjadi, sedangkan FTSE relatif lebih fleksibel dalam menentukan kategori negara.
Baca juga: Gak Semua Saham Bisa! Ini Syarat Masuk MSCI dan Proses yang Perlun Dipelajari
Dampak Perubahan Status indeks Terhadap Arus Modal Asing
Perubahan status suatu negara dalam indeks global, misalnya dari Frontier Market menjadi Emerging Market atau sebaliknya, dapat berdampak langsung pada arus modal asing.
Ketika status meningkat, negara tersebut biasanya menarik lebih banyak investor internasional karena dianggap memiliki pasar yang lebih stabil, likuid, dan layak investasi.
Banyak dana investasi global mengikuti komposisi indeks acuan, sehingga perubahan status dapat memicu masuknya dana baru dalam jumlah besar.
Sebaliknya, jika status diturunkan, sebagian investor institusional bisa menarik dananya karena mandat investasi mereka tidak lagi sesuai.
Dampak ini tidak hanya memengaruhi pasar saham, tetapi juga nilai tukar, likuiditas pasar, serta kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi negara tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ajaib