apa itu dilusi saham? Ini penyebabnya dan cara analisisnya (freepik)
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu merasa sudah punya saham, tapi tiba-tiba porsinya terasa mengecil? Padahal kamu nggak jual apa-apa, tapi nilai kepemilikanmu seolah berubah.
Di dunia investasi, kondisi ini dikenal sebagai dilusi saham atau sesuatu yang cukup sering terjadi tapi masih bikin banyak investor bingung.
Supaya nggak salah langkah, yuk pahami apa itu dilusi saham, kenapa bisa terjadi, dan gimana cara menganalisisnya dengan tepat di bawah ini.
Dilusi saham adalah kondisi ketika persentase kepemilikan investor berkurang karena jumlah saham yang beredar bertambah. Jadi, meskipun jumlah saham yang kamu pegang tetap sama, porsi kue-nya jadi lebih kecil.
Misalnya, kamu punya 10% dari total saham perusahaan. Ketika perusahaan menerbitkan saham baru dalam jumlah besar, kepemilikan kamu bisa turun jadi 5% tanpa kamu menjual apa pun.
Inilah yang disebut dilusi, bukan jumlah sahammu yang berkurang, tapi nilai kepemilikan relatifmu yang mengecil.
Dilusi saham umumnya terjadi saat perusahaan menambah jumlah saham yang beredar. Ini bukan tanpa alasan, biasanya ada kebutuhan tertentu di baliknya.
Nah, berikut beberapa kondisi yang paling sering memicu dilusi:
Beberapa surat berharga seperti stock option atau obligasi konversi bisa diubah menjadi saham biasa.
Baca juga: Mengenal Delisting Saham dan Cara Investor Menyikapinya, Jangan Langsung Panik!
Ketika pemiliknya memilih untuk mengonversi, jumlah saham otomatis bertambah. Dampaknya, porsi kepemilikan investor lama jadi terdilusi.
Saat butuh dana segar, perusahaan bisa menerbitkan saham baru ke publik atau investor tertentu. Langkah ini memang membantu perusahaan berkembang, tapi juga meningkatkan jumlah saham yang beredar.
Akibatnya, persentase kepemilikan pemegang saham lama bisa mengecil.
Meski tidak terlalu umum, perusahaan juga bisa memberikan saham kepada pihak tertentu sebagai bentuk apresiasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Investopedia