Rabu, 18 FEBRUARI 2026 • 13:00 WIB

Kenapa Gen Z Susah Nabung? Realita Finansial Anak Muda di Tengah Tekanan Zaman

Author

Ilustrasi Kenapa Gen Z Susah Nabung? (Freepik)

INDOZONE.ID - Kalau dengar kalimat Gen Z susah nabung karena kebanyakan jajan dan nonton konser”, rasanya pengin angkat tangan sambil bilang, “hidup enggak sesimpel itu, Gengs!” 

Faktanya, kondisi finansial anak muda hari ini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.

Harga kebutuhan naik, gaji terasa segitu-gitu aja, lapangan kerja makin ketat, belum lagi tekanan sosial dari media digital yang bikin semua serba kelihatan harus ikut.

Fenomena ini juga dibahas dalam konten YouTube @Saham dari Nol yang mengulik kenapa Gen Z terlihat kesulitan menabung.

Lewat data, logika, dan contoh sehari-hari, isu ini ternyata bukan cuma soal gaya hidup, tapi juga soal sistem ekonomi dan cara kita meresponsnya.

Baca juga: 9 Tanaman yang Bisa Jadi Penyelamat Finansial Saat Krisis Pangan, Wajib Dicoba di Rumah!

Stres Finansial yang Dialami Gen Z

Berdasarkan riset IDN Research Institute, sekitar 64 persen Gen Z di Indonesia mengalami stres finansial.

Angka ini bukan kecil, dan jelas menunjukkan kalau masalah keuangan sudah jadi beban mental bagi banyak anak muda. 

Penyebabnya pun berlapis, mulai dari inflasi yang bikin harga kebutuhan pokok makin mahal, gaji yang tidak naik signifikan, hingga persaingan kerja yang semakin ketat.

Di sisi lain, Gen Z juga hidup di era digital yang penuh tekanan sosial. Media sosial menampilkan standar hidup yang tinggi, mulai dari liburan, konser, sampai barang-barang branded. Tanpa sadar, ini memicu rasa tertinggal dan akhirnya memengaruhi cara mengelola uang.

Ketika Realita Ekonomi Tidak Bisa Dikendalikan

Banyak hal dalam ekonomi yang memang berada di luar kendali individu. Harga rumah yang melambung, biaya hidup di kota besar, sampai kondisi global seperti krisis dan inflasi bukan sesuatu yang bisa diubah oleh satu orang.

Menyalahkan Gen Z atas kondisi ini ibarat menyalahkan pengemudi ojek karena matahari terlalu terik.

Namun, bukan berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Nah yang masih sepenuhnya ada di tangan kita adalah bagaimana cara merespons kondisi tersebut. Di sinilah letak peran kebiasaan, pola pikir, dan keputusan finansial sehari-hari.

Mengontrol Respons Terhadap Kondisi Keuangan

Ketika ekonomi lagi tidak ramah, satu-satunya yang bisa dikendalikan adalah respons kita. Anak muda bisa mulai dengan menyiapkan mental dan strategi menghadapi skenario terburuk, seperti kehilangan pekerjaan atau proyek.

Respons ini bisa diwujudkan lewat langkah-langkah sederhana, misalnya mengurangi pengeluaran yang sifatnya keinginan dan memprioritaskan kebutuhan.

Selain itu, mencari penghasilan tambahan lewat side hustle juga jadi opsi realistis di era digital. Bukan soal langsung kaya, tapi soal bertahan dan tetap punya ruang napas finansial.

Wants and Needs yang Sering Tertukar

Salah satu masalah klasik yang dialami Gen Z adalah sulit membedakan antara wants dan needs.

Keinginan sering kali datang karena FOMO, takut ketinggalan tren, atau sekadar ingin dianggap relevan di lingkungan sosial.

Masalahnya, keinginan ini sering dibungkus seolah-olah kebutuhan. Nongkrong mahal, ganti gadget terbaru, atau ikut semua konser bisa terasa wajib karena tekanan sosial.

Padahal, kalau ditarik garis tegas, kebutuhan pokok tetaplah hal-hal mendasar seperti makan, tempat tinggal, dan transportasi.

Belajar membedakan wants dan needs bukan berarti hidup jadi kaku dan tidak boleh senang-senang. Justru ini soal memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa ditunda.

Pengaruh Media Sosial Terhadap Pola Belanja

Media sosial punya peran besar dalam membentuk kebiasaan finansial anak muda. Riset menunjukkan sekitar 61 persen konsumen Indonesia membeli sesuatu karena terpengaruh influencer atau konten di medsos.

Masalahnya, yang ditampilkan sering kali adalah hasil akhir, bukan proses. Kita melihat orang pamer barang atau liburan, tapi tidak tahu kondisi finansial di baliknya. Akhirnya, muncul dorongan untuk ikut-ikutan tanpa perhitungan matang.

Di titik ini, literasi keuangan jadi kunci. Tanpa pemahaman yang cukup, media sosial bisa jadi jebakan halus yang bikin pengeluaran tidak terkendali.

Baca juga: Mindset Keuangan Wanita Berkelas: Cara Pintar Mengelola Uang dan Hidup Tanpa Stres Finansial

Ilustrasi Kenapa Gen Z Susah Nabung? (freepik)

Paylater dan Pinjol yang Jadi Bumerang

Kemudahan akses ke layanan keuangan seperti paylater dan pinjaman online sebenarnya bisa membantu, tapi juga berbahaya kalau tidak dibarengi literasi yang baik. Banyak Gen Z tergoda karena prosesnya cepat dan terasa ringan di awal.

Sayangnya, utang yang menumpuk bisa berujung kredit macet. Dampaknya tidak main-main, karena skor kredit di SLIK OJK bisa jadi buruk.

Efek jangka panjangnya, pengajuan KPR atau kredit penting lain di masa depan bisa terhambat.

Menyelesaikan utang paylater dan pinjol secepat mungkin adalah langkah penting. Ini bukan soal malu atau tidak, tapi soal menyelamatkan masa depan finansial sendiri.

Soft Saving Sebagai Jalan Tengah

Menabung tidak harus ekstrem sampai mengorbankan semua kesenangan. Konsep soft saving hadir sebagai jalan tengah yang lebih realistis.

Intinya, tetap menikmati hidup dalam batas wajar, tapi konsisten menyisihkan uang berapa pun nominalnya.

Nominal kecil bukan masalah, yang penting adalah kebiasaan dan self-control. Menabung bukan cuma soal angka, tapi soal melatih disiplin dan kesadaran terhadap uang.

Dengan soft saving, Gen Z tidak merasa tersiksa, tapi tetap punya pondasi finansial untuk masa depan.

Uang Sebagai Alat Bukan Alat Pamer

Salah satu pesan penting yang sering dilupakan adalah fungsi uang itu sendiri. Uang bukan alat flexing atau pamer di media sosial, tapi alat untuk menciptakan hidup yang layak dan menyenangkan.

Ketika uang diposisikan sebagai alat, keputusan finansial jadi lebih rasional. Kita mulai bertanya, apakah pengeluaran ini mendukung kualitas hidup jangka panjang atau cuma memuaskan ego sesaat.

Mulai Investasi Sejak Dini

Menabung saja sering kali tidak cukup untuk mengejar tujuan jangka panjang seperti rumah atau dana pensiun. Di sinilah investasi berperan. Kabar baiknya, investasi sekarang jauh lebih inklusif.

Dengan modal kecil, bahkan mulai dari Rp10.000, anak muda sudah bisa belajar investasi lewat saham, emas, atau instrumen lain.

Nah yang terpenting bukan besar kecilnya modal, tapi keberanian untuk mulai dan konsistensi dalam jangka panjang.

Investasi sejak dini memberi waktu, dan waktu adalah faktor paling berharga dalam dunia keuangan.

Baca juga: 6 Strategi Bebas Finansial di Usia Muda: Jangan Cuma Ngimpi, Waktunya Gerak!

Ilustrasi Kenapa Gen Z Susah Nabung? (Freepik)

Kesulitan Gen Z dalam menabung bukan semata soal gaya hidup boros. Ada tekanan ekonomi, sosial, dan sistemik yang nyata dirasakan.

Namun, di tengah semua keterbatasan itu, masih ada ruang kendali yang bisa dimanfaatkan.

Dengan memahami perbedaan wants dan needs, menghindari jerat utang konsumtif, menerapkan soft saving, dan mulai investasi sejak dini, Gen Z bisa perlahan membangun masa depan finansial yang lebih sehat.

Kita memang tidak bisa menggeser matahari atau menghentikan inflasi, tapi kita bisa memilih membawa payung dan bersiap.

Setiap keputusan kecil hari ini adalah pondasi untuk hidup yang lebih tenang di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU