INDOZONE.ID - Ada yang bilang bila generasi sekarang tidak seberuntung para generasi terdahulu untuk membeli rumah di Jakarta.
Bila kita ambil contoh, para orang tua kita yang dulu gaji UMR-nya tak begitu besar tapi bisa membeli tanah dan rumah. Sementara generasi sekarang, gaji UMR kita yang kerap naik karena inflasi agak kesulitan untuk membeli rumah.
Faktornya memang banyak. Harga tanah dan properti di Jakarta yang semakin tinggi membuat generasi sekarang kesulitan untuk membelinya lantaran harus mendahulukan gaya hidup lainnya.
Apalagi ditambah penduduk kota yang semakin padat, membuat para pemilik tanah dan properti meningkatkan harganya karena banyaknya peminat, meski di wilayah pemukiman yang jauh dari pusat kerja.
Baca juga: Edukasi Sejak Dini, OJK Perkenalkan Bank Mini ke Murid SMP Negeri di Cirebon Guna Literasi Keuangan
Dua faktor utama
Menurut Pengamat Properti Anton Sitorus, terdapat dua faktor utama yang bisa memengaruhi pasar properti saat ini, khususnya untuk memiliki rumah sendiri di Jakarta.
Harga yang tidak sesuai dengan daya beli masyarakat.
Keterjangkauan harga menjadi isu krusial karena banyak orang yang kesulitan untuk membeli properti dengan harga yang ditawarkan saat ini.
Keterbatasan pasokan properti
keterbatasan pasokan properti yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensi masyarakat. Pilihan properti yang terbatas, baik dari segi lokasi maupun model, membuat masyarakat memiliki sedikit opsi untuk memilih properti yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
"Faktor utamanya adalah masalah harga, keterjangkauan antara daya beli sama harga yang ditawarkan, yang kedua keterbatasan pasokan, karena pilihan orang itu bisa berbeda-beda, terkait lokasinya, modelnya, tapi seperti yang kita tahu ya gak banyak pilihan lah, udah gak banyak pilihan, harganya juga mahal," ujar Pengamat Properti Anton Sitorus saat dihubungi Indozone.
Selain itu, harga properti yang tinggi juga menjadi hambatan bagi masyarakat untuk memiliki rumah yang diinginkan.
Baca juga: Penuhi Kebutuhan Gen Z, Saham Properti Rumah Tapak Jabodetabek Terus Meroket di 2026
Tips Mengelola Keuangan dengan Baik
Menabung secara konsisten dan mengelola pengeluaran dengan baik merupakan kunci untuk mencapai tujuan keuangan, termasuk membeli rumah.
Oleh karena itu, mengorbankan pengeluaran yang tidak perlu menjadi salah satu strategi untuk mencapai tujuan membeli rumah.
"Finansial plannernya lebih ngerti ya, tapi kalau saya kembali lagi menekankan ya satu-satunya cara itu adalah menabung, itu sudah berlaku umum lah, kalau misalnya mau membeli sesuatu yang biayanya besar itu mesti nabung, apalagi kalau beli rumah, persiapan nabungnya mesti panjang, tentu harus mengorbankan pengeluaran yang gak perlu demi mencapai yang diinginkan," ujar Anton Sitorus.
Dengan menabung secara konsisten dan mengelola keuangan dengan baik, seseorang bisa mencapai tujuan keuangan yang diinginkan, termasuk memiliki rumah impian.
Lantaran menabung bukan hanya tentang mengumpulkan uang, tetapi juga tentang membangun kedisiplinan dan kesadaran keuangan yang baik.
Cara membagi penghasilan
Pengamat Anton Sitorus menyampaikan kepada calon pembeli rumah, khususnya para Gen Z yang sudah memasuki dunia kerja, agar memiliki penghasilan yang stabil dan tabungan yang cukup untuk membeli rumah dengan cicilan, karena perbankan mensyaratkan penghasilan minimal tiga kali lipat dari jumlah cicilan.
Apalagi kalau rumah impianmu ada di kawasan Jakarta, tentunya harus mengimbangi dan mengelola keuangan dengan baik, karena rata-rata cicilan bulanan bisa mencapai 2-3 juga rupiah per bulan.
Baca juga: Cara Bertahan Hidup dengan Gaji 3 Juta di Tahun 2026, Ini Tips Realistis Tanpa Drama!
"Rata-rata sekarang ini kalau rumah yang ada di sekitaran JABODETABEK itu, kalau misalnya masyarakat beli menggunakan cicilan, cicilan sebulan itu kan sekarang mungkin di atas 2-3 juta," kata Anton.
"Sementara kalau dari itung-itungan perbankan itu cicilan 3 juta biasanya perbankan akan mensyaratkan pembelinya itu punya penghasilan minimal tiga kali dari cicilannya itu, kisaran 9-10 juta, itu minimalnya dengan skenario yang saya gambarkan," tutur Anton.
Lebih lanjut, Anton menekankan kepada khalayak umum untuk menabung sejak dini, karena menabung itu sangat penting dan juga bisa meringankan cicilan yang ditawarkan nantinya.
"Intinya kalau misalnya mau beli rumah udah jelas ya mesti harus nabung, paling nggak kan nabung buat bayar uang muka, kalau cicilannya kan biasanya diambil dari gaji."
Baca juga: 6 Tips Hemat untuk Mengatur Keuangan di Tengah Kebutuhan yang Terus Meningkat
"Jadi kalau cicilannya 3 juta ya berarti penghasilannya minimal sekitar 9 juta 10 juta. Nabung itu penting, karena dari generasi dulu itu kalau mau beli rumah itu ya harus punya simpenan sebagai modal untuk paling ngga bayar uang muka, karena uang muka itu berkisar 15-30% dari harga rumah," pungkasnya.
Mungkin dengan memahami tips-tips di atas, keuangan kalian akan membaik, tabungan semain banyak, sehingga impian mewujudkan rumah bisa terwujud.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara