INDOZONE.ID - Perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam menggerakkan ekonomi, baik di tingkat rumah tangga maupun bisnis. Di banyak daerah, tak sedikit melihat perempuan menjadi pemimpin usaha mikro, penggerak komunitas, hingga pencetus inovasi sosial.
Namun, di balik potensi besar itu, masih banyak perempuan yang belum memiliki akses yang cukup terhadap pengetahuan, pelatihan, dan literasi keuangan yang memadai. Tapi mengapa literasi keuangan begitu penting bagi perempuan?
Literasi Keuangan: Pondasi Kepercayaan dan Kemandirian
Setidaknya ada dua alasan utama yang mendasari pentingnya literasi keuangan bagi perempuan. Pertama, literasi keuangan meningkatkan kepercayaan diri perempuan untuk menggunakan produk dan layanan keuangan.
Director of Agriculture, Entrepreneurship and Financial Inclusion Yayasan Mercy Corps Indonesia Andi Ikhwan mengatakan, berdasarkan pengalaman di lapangan, 98% perempuan sudah memiliki smartphone. Namun sebagian besar belum memanfaatkannya untuk layanan keuangan digital.
“Hal ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kepemilikan perangkat digital dan kemampuan menggunakannya untuk kemajuan ekonomi pribadi,” ujarnya di Jakarta.
Kedua, literasi keuangan menjadi benteng penting agar perempuan tidak terjebak pada produk finansial yang tidak sesuai kebutuhan seperti pinjaman online (pinjol) dan layanan paylater yang kini marak digunakan tanpa pemahaman bahwa itu sebenarnya adalah bentuk utang.
“Tanpa literasi yang cukup, perempuan berisiko terpapar produk finansial yang justru bisa membebani mereka secara ekonomi,” tambahnya.
Perempuan dan Pengambilan Keputusan Finansial
Dengan pengetahuan keuangan yang baik, perempuan memiliki kepercayaan lebih besar dalam mengambil keputusan finansial, baik untuk dirinya, keluarga, maupun usahanya.
Bahkan, banyak lembaga keuangan yang mulai melihat potensi besar dari transaksi digital, seperti penggunaan QRIS Merchant. Data transaksi tersebut bahkan bisa digunakan untuk menilai credit worthiness atau kelayakan kredit, membuka peluang bagi lebih banyak perempuan pengusaha mikro untuk mendapatkan akses pinjaman.
Menariknya, 99% dari debitur baru dalam skema ini adalah perempuan. Fakta ini membuktikan bahwa ketika perempuan diberi kesempatan dan kepercayaan, mereka bisa menjadi motor penggerak ekonomi yang nyata.
Baca juga: Dari Kampus ke Ekonomi Rakyat: Mahasiswa Bangka Belitung Menjadi Agen Perubahan Lewat Gempur UMKM
Dampak Berlipat Investasi pada Perempuan
Berinvestasi dalam pendidikan dan literasi keuangan perempuan bukan hanya membantu individu tersebut, tetapi juga memberi dampak berlipat bagi keluarga dan komunitas.
Menurut Executive Director Plan Indonesia Dini Widiastuti, ketika satu perempuan mendapat akses ke pelatihan atau dukungan finansial, manfaatnya sering kali menjalar ke adik, anak, bahkan tetangganya.
"Banyak perempuan jadi pemimpin dan memberi dampak luar biasa, pada intinya yang paling penting kita bisa meningkatkan kemampuan untuk melakukan ini kita kerja sama dengan berbagai pihak. Dengan edukasi ke satu perempuan impact berlipat-lipat dan mereka bisa trut mengambil keputusan,” ujar dia dalam kesempatan sama.
Data menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam dunia kerja dan pelatihan masih stagnan. Dari 9 juta anak muda usia 15–24 tahun yang membutuhkan pekerjaan atau pelatihan, proporsi perempuan cukup besar.
Mengacu data tersebut, masih terdapat kesenjangan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan (55 persen) dibandingkan laki-laki (84 persen). Pengangguran penyandang disabilitas juga mayoritas kaum muda berusia 15-34 tahun (ILO, 2022).
Kondisi ini menegaskan masih perlu lebih banyak lagi dukungan untuk peningkatan keterampilan dan peluang kerja bagi kaum muda, terutama perempuan dan penyandang disabilitas, demi memastikan pertumbuhan yang inklusif.
Baca juga: Menteri Keuangan Pertimbangkan Penurunan Tarif PPN untuk Mendorong Daya Beli Masyarakat
Inklusi Keuangan
Keberpihakan dalam bentuk program inklusi keuangan yang sensitif gender menjadi sangat penting. Ketika perempuan diberdayakan secara finansial, ekonomi keluarga menguat, dan roda ekonomi nasional pun ikut bergerak.
Seperti yang dilakukan DBS Foundation yang mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif, dengan memberikan dana hibah Rp48 Miliar ke kaum marjinal di Indonesia. Karena pertumbuhan inklusif ini perlu menyasar kelompok muda yang masih menghadapi tantangan dalam mengakses pekerjaan.
Perempuan pemilik atau pengelola usaha mikro dan kecil akan mendapat manfaat dari Financial Inclusion for Women Entrepreneurs selama dua tahun. Sasarannya ke 40.000 perempuan dan anak muda di Semarang, Surabaya, dan Medan
Mereka akan pelatihan dan pendampingan literasi digital, manajemen keuangan, akses produk dan layanan keuangan dari lembaga jasa keuangan formal, dan pemasaran digital.
Head of Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan, pihaknya ingin meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat rentan, termasuk kaum muda dan perempuan yang memiliki keterbatasan akses.
“Dengan dana hibah Rp48 miliar yang dikucurkan, kami percaya dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas,” ucap Mona.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan