Kamis, 04 JUNI 2026 • 10:20 WIB

Indonesia Catat Surplus Dagang di April 2026, Ditopang Ekspor Nonmigas

Author

Menteri Perdagangan Budi Santoso (Dok. Istimewa)

INDOZONE.ID - Indonesia kembali mencatatkan surplus neraca pada April 2026. Meski nilainya relatif tipis, yakni sebesar USD 0,09 miliar, capaian ini memperpanjang tren surplus perdagangan Indonesia menjadi 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, surplus tersebut ditopang oleh sektor nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar USD 3,53 miliar. Sementara itu, sektor migas masih mengalami defisit sebesar USD 3,44 miliar.

"Jika dilihat secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-April 2026 mencatatkan surplus sebesar USD 5,64 miliar. Surplus tersebut terutama didorong oleh surplus nonmigas sebesar USD 14,16 miliar dan defisit migas sebesar USD 8,52 miliar," ujar Mendag Budi Santoso dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).

Meski masih surplus, nilai tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai USD 11,07 miliar.

Baca juga: Surplus Perdagangan Indonesia Januari 2026 Tembus USD 0,95 Miliar, Tren Positif Berlanjut

Minyak Nabati hingga Baja Jadi Penyumbang Surplus Terbesar

Sepanjang Januari-April 2026, tiga komoditas nonmigas yang menjadi penyumbang surplus terbesar adalah lemak dan minyak hewani atau nabati senilai USD 11,71 miliar, bahan bakar mineral USD 8,34 miliar, serta besi dan baja sebesar USD 5,71 miliar.

Di sisi lain, defisit terbesar berasal dari impor mesin dan peralatan mekanis yang mencapai USD 9,87 miliar. Disusul mesin dan perlengkapan elektrik sebesar USD 4,95 miliar serta plastik dan barang dari plastik sebesar USD 2,80 miliar.

Dari sisi negara mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia dengan nilai USD 6,81 miliar. Posisi berikutnya ditempati India sebesar USD 4,44 miliar dan Filipina sebesar USD 2,77 miliar.

Sementara itu, defisit nonmigas terdalam terjadi dengan Tiongkok sebesar USD 8,03 miliar, Australia USD 3,05 miliar, dan Argentina USD 0,73 miliar.

Menurut Mendag, pemerintah terus memperkuat diversifikasi pasar ekspor dan mendorong hilirisasi industri agar kinerja perdagangan nasional tidak terlalu bergantung pada fluktuasi harga komoditas global.

"Kemendag terus bersinergi memantau dan menentukan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas perdagangan, memperkuat daya saing ekspor, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," katanya.

Ekspor April 2026 Tumbuh Hampir 22 Persen

Kinerja ekspor Indonesia menunjukkan tren positif. Pada April 2026, nilai ekspor mencapai USD 25,30 miliar atau naik 12,32 persen dibandingkan Maret 2026 dan melonjak 21,98 persen dibandingkan April tahun lalu.

Peningkatan ini terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 13,66 persen secara bulanan.

Beberapa komoditas dengan pertumbuhan ekspor tertinggi meliputi kopi, teh, dan rempah-rempah yang naik 54,44 persen, tembakau dan rokok 43,49 persen, kayu dan produk kayu 40,91 persen, minyak nabati 38,71 persen, serta mesin dan peralatan mekanis 37,26 persen.

Selain itu, permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor juga meningkat signifikan. Uni Emirat Arab mencatat kenaikan impor produk Indonesia hingga 305,21 persen, disusul Afrika Selatan 288,40 persen dan Belgia 117,84 persen.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia selama Januari-April 2026 mencapai USD 92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Tren positif ini menunjukkan kinerja perdagangan Indonesia yang tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi global," ujar Mendag.

Industri Pengolahan Jadi Mesin Pertumbuhan Ekspor

Sektor industri pengolahan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekspor Indonesia pada awal tahun ini. Ekspor sektor tersebut naik 9,78 persen dibandingkan Januari-April 2025.

Lonjakan terbesar terjadi pada ekspor nikel dan produk turunannya yang meningkat 63,99 persen. Selain itu, ekspor aluminium naik 55,30 persen, bahan kimia organik 30,86 persen, tembaga 25,34 persen, dan timah 24,62 persen.

"Pertumbuhan ekspor komoditas-komoditas tersebut didorong tingginya permintaan global yang diikuti kenaikan harga di pasar internasional," kata Mendag.

Sebaliknya, sektor pertanian mengalami penurunan ekspor sebesar 26,27 persen. Komoditas yang mengalami penurunan terdalam adalah kakao dan produk olahannya serta kopi, teh, dan rempah-rempah.

Baca juga: Surplus Perdagangan Tembus USD 41,05 Miliar di 2025, Mendag Percaya Hadapi Tantangan Global 2026

Impor Ikut Naik Seiring Meningkatnya Aktivitas Ekonomi

Pada April 2026, nilai impor Indonesia mencapai USD 25,21 miliar. Angka ini meningkat 31,28 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh 22,49 persen dibandingkan April 2025.

Kenaikan impor terjadi pada seluruh kelompok barang. Barang konsumsi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 56,67 persen, diikuti bahan baku dan penolong 35,46 persen serta barang modal 6,33 persen.

"Kondisi ini mengindikasikan peningkatan kebutuhan konsumsi masyarakat serta kebutuhan industri terhadap bahan baku dan barang modal," jelas Mendag.

Secara kumulatif, impor Januari-April 2026 mencapai USD 86,51 miliar atau naik 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan terbesar terjadi pada impor barang modal yang tumbuh 19,02 persen. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya impor komputer, pesawat udara, mesin industri, hingga mobil listrik.

Sementara itu, dari sisi negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi oleh Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan kontribusi gabungan mencapai lebih dari 53 persen dari total impor nonmigas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Biro Humas Kemendag

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU